Berita
Muktamar NU ke-35 Jombang: Refleksi, Muhasabah, dan Dinamika Nahdlatul Ulama di Abad Kedua
santri.id – Jombang bukan sekadar titik di peta Jawa Timur; bagi jutaan warga Nahdliyin, kota ini adalah episentrum spiritual dan historis. Di tanah inilah embrio Nahdlatul Ulama (NU) dirajut oleh para muassis (pendiri) seperti Hadratusyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri. Oleh karena itu, penyelenggaraan Muktamar NU ke-35 di Jombang bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan lima tahunan, melainkan sebuah napak tilas—momen pulang kampung untuk melakukan refleksi dan muhasabah secara mendalam atas kiprah jam’iyah di abad keduanya.
Artikel ini akan membedah bagaimana Muktamar ke-35 menjadi arena krusial bagi NU untuk merumuskan arah gerak ke depan, membaca dinamika internal dan eksternal, serta meneguhkan kembali khittahnya di tengah pusaran zaman yang bergerak cepat.
Menilik Makna Sentral Jombang bagi Nahdlatul Ulama
Muktamar selalu membawa spirit tersendiri tergantung di mana ia diselenggarakan. Kembali ke Jombang berarti kembali ke akar. Secara psikologis dan kultural, mengadakan forum tertinggi NU di Jombang seolah “memaksa” para kiai, pengurus struktural, dan muktamirin untuk menanggalkan kepentingan-kepentingan pragmatis sesaat.
Ada beban moral yang besar ketika bersidang di dekat makam para pendiri NU. Hal ini diharapkan mampu meredam turbulensi politik internal yang kerap mewarnai ajang pemilihan Ketua Umum PBNU maupun Rais Aam, dan mengembalikan fokus pada persoalan keumatan yang esensial.
Refleksi dan Muhasabah NU di Abad Kedua
Setelah merayakan Harlah 1 Abad dengan gegap gempita, NU kini dihadapkan pada realitas lapangan yang membutuhkan aksi nyata. Muktamar Jombang harus menjadi ruang muhasabah (evaluasi diri) terkait sejauh mana organisasi ini telah menyejahterakan jamaahnya (warga di akar rumput).
1. Kemandirian Ekonomi dan Pemberdayaan Umat
Salah satu refleksi terbesar adalah kesenjangan ekonomi. Hingga saat ini, sebagian besar warga NU masih berada di kelompok ekonomi menengah ke bawah. Diskusi di Muktamar tidak boleh lagi hanya berpusat pada perdebatan dalil atau isu politik kebangsaan semata, tetapi harus menghasilkan blue print kemandirian ekonomi.
-
Contoh Konkret: NU perlu memperluas model bisnis komunal seperti BMT (Baitul Maal wat Tamwil), mengoptimalkan pengelolaan zakat/wakaf melalui NU Care-LAZISNU, dan membangun rantai pasok antar-pesantren agar uang berputar di kalangan Nahdliyin.
2. Tantangan Literasi dan Transformasi Digital
Di era ketika informasi mengalir tanpa batas, otoritas keagamaan tradisional mulai tergerus. Banyak generasi muda (Gen Z dan Alpha) yang kini belajar agama melalui potongan video pendek di media sosial, bukan lewat ngaji bandongan di pesantren. Ini adalah tantangan dakwah yang serius.
NU dituntut untuk merevitalisasi metode dakwahnya. Ulama dan santri harus mampu memproduksi konten digital yang tidak hanya mendalam secara sanad keilmuan, tetapi juga dikemas secara segar, relevan, dan ramah terhadap algoritma digital, guna menangkal narasi intoleransi dan radikalisme.
3. Meneguhkan Jarak dari Pragmatisme Politik
Tarik-menarik kepentingan politik selalu menjadi ujian laten bagi NU. Sebagai organisasi massa terbesar, NU adalah “gadis cantik” di mata para politisi. Muhasabah penting di Jombang adalah bagaimana PBNU secara institusional dapat terus menjaga muruah Khittah 1926. NU harus memosisikan diri sebagai high politics (politik kebangsaan dan moral), bukan terjebak dalam politik dukung-mendukung praktis yang berpotensi membelah umat.
Dinamika NU Jelang dan Saat Muktamar ke-35
Tidak ada Muktamar yang sepi dari dinamika. Hal ini adalah hal yang wajar dalam organisasi yang sangat besar dan demokratis. Beberapa dinamika yang menjadi sorotan dalam perhelatan ke-35 ini meliputi:
1. Regenerasi Kepemimpinan
Munculnya desakan dari kalangan muda NU agar organisasi ini lebih lincah (agile) dalam merespons isu global (seperti transisi energi, krisis iklim, dan kecerdasan buatan) memicu dinamika dalam bursa calon pimpinan. Ada tarik-ulur antara mempertahankan tokoh-tokoh senior yang memiliki karisma kuat, dengan mengorbitkan figur-figur teknokrat-santri yang memiliki visi manajerial modern.
2. Tarik Ulur Struktural vs Kultural
Perdebatan antara “NU Struktural” (pengurus organisasi) dan “NU Kultural” (kiai kampung, pesantren yang tidak masuk dalam struktur) kerap mewarnai arena muktamar. Muktamar Jombang menjadi momentum krusial untuk menyelaraskan kembali frekuensi di antara keduanya, memastikan bahwa kebijakan dari pusat (PBNU) benar-benar membumi dan dirasakan manfaatnya oleh pengurus ranting di desa-desa.
Kesimpulan
Muktamar NU ke-35 di Jombang adalah titik henti sejenak (pit stop) bagi armada besar Nahdlatul Ulama untuk mengecek kembali kompas perjalanannya. Melalui refleksi mendalam dan muhasabah yang jujur, NU diharapkan keluar dari Jombang dengan kepemimpinan yang solid dan program yang konkret. Dinamika yang terjadi biarlah menjadi bumbu demokrasi internal, asalkan ujungnya tetap berpegang pada prinsip Al-Muhafadhotu ‘ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik). Jika ini tercapai, NU akan semakin relevan dan menjadi jangkar peradaban, baik di Indonesia maupun di pentas global.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Mengapa Muktamar NU sering diidentikkan dengan kota Jombang?
Jombang adalah tempat kelahiran dan pergerakan para pendiri utama NU (KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah). Menggelar acara di sini bernilai historis dan spiritual yang sangat tinggi bagi warga Nahdliyin.
2. Apa yang dimaksud dengan Khittah 1926?
Khittah 1926 adalah komitmen NU untuk kembali pada tujuan awalnya saat didirikan pada tahun 1926, yaitu fokus pada bidang keagamaan, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan, serta melepaskan diri dari ikatan partai politik praktis.
3. Bagaimana NU merespons perkembangan teknologi saat ini?
NU merespons dengan mendorong transformasi digital, mulai dari digitalisasi literatur pesantren, pengembangan aplikasi layanan keumatan (seperti NU Online), hingga memfasilitasi santri dengan keterampilan IT agar mampu berdakwah di ranah siber.
Referensi & Bacaan Lanjutan:
-
NU Online (nu.or.id): Portal resmi Nahdlatul Ulama untuk melacak sejarah, keputusan bahtsul masail, dan dinamika muktamar.
-
Sejarah dan Resolusi Konflik Nahdlatul Ulama oleh berbagai cendekiawan NU (Buku Referensi/Jurnal Keislaman).
-
Arsip Berita Nasional (Kompas/Tempo) terkait sejarah dan refleksi perhelatan Muktamar NU dari masa ke masa.



