santri.id – Bicara soal pesantren, gambaran yang terlintas di benak banyak orang mungkin masih berkisar pada ngaji kitab kuning, sarungan, dan asrama yang jauh dari hiruk-pikuk teknologi. Namun, realitasnya hari ini sudah jauh melampaui itu. Kita telah memasuki era Society 5.0, sebuah gagasan di mana teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT) dileburkan dengan kehidupan manusia untuk menyelesaikan masalah sosial.
Pertanyaannya: Bagaimana motivasi belajar santri di tengah gempuran disrupsi teknologi ini? Apakah nilai-nilai tradisional luntur, atau justru menemukan bentuk panggung barunya? Mari kita bedah lebih dalam.
Apa Itu Era Society 5.0 bagi Dunia Pesantren?
Berbeda dengan Revolusi Industri 4.0 yang berfokus pada otomasi dan efisiensi pabrik, Society 5.0 berpusat pada manusia (human-centered). Teknologi diciptakan untuk memanusiakan manusia. Bagi dunia pesantren, ini adalah angin segar sekaligus ujian.
Pesantren sejatinya sudah memiliki modal utama Society 5.0: pendidikan karakter dan adab. Dalam era ini, pintar coding saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan etika. Santri tidak lagi hanya dituntut untuk hafal Alfiyah Ibnu Malik atau Taqrib, tetapi juga ditantang untuk bisa menggunakan internet sebagai media dakwah global, memahami literasi data, dan menjadi pemecah masalah di masyarakat.
Mengapa Motivasi Belajar Santri Rentan Menurun?
Meski peluangnya besar, kita tidak bisa menutup mata terhadap tantangan di lapangan. Motivasi belajar santri sering kali mengalami pasang surut akibat beberapa faktor spesifik di era digital ini:
1. Distraksi Digital (Digital Distraction)
Ketika pesantren mulai melonggarkan aturan membawa gawai (gadget) untuk keperluan riset atau kelas online, risiko terbesarnya adalah distraksi. Media sosial, game online, dan hiburan instan memberikan dopamin cepat yang membuat aktivitas membaca kitab berjam-jam terasa “membosankan” bagi sebagian otak remaja.
2. Kesenjangan Relevansi Kurikulum
Santri yang melek informasi kerap mempertanyakan, “Untuk apa saya belajar ini jika di luar sana semua sudah pakai AI?” Jika pengajar (kiai/asatidz) gagal mengontekstualisasikan ilmu agama dengan realitas modern, santri akan kehilangan dorongan internal (motivasi intrinsik) untuk belajar.
3. Kelelahan Mental (Burnout)
Tuntutan ganda—harus menguasai ilmu agama yang mendalam secara komprehensif, sekaligus dituntut melek kurikulum nasional dan teknologi—dapat memicu kelelahan fisik maupun mental pada santri.
Strategi Jitu Meningkatkan Motivasi Belajar Santri
Untuk menjaga agar “api” semangat santri tetap menyala, pesantren dan para pendidik perlu melakukan penyesuaian strategis. Berikut analisis mendalam mengenai langkah-langkah yang bisa diambil:
1. Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran (Blended Learning)
Kitab kuning tidak harus selalu dibaca lewat lembaran kertas tua. Banyak pesantren kini menggunakan proyektor, tablet, atau aplikasi maktabah syamilah (perpustakaan digital).
-
Nilai Tambah: Memvisualisasikan sejarah Islam atau peta penyebaran mazhab menggunakan animasi interaktif membuat santri lebih cepat paham dan antusias.
2. Penanaman Mindset “Santri Global”
Motivasi tertinggi muncul ketika seseorang merasa dirinya berdampak. Santri perlu ditanamkan pola pikir bahwa mereka bukan kelompok marginal. Tunjukkan kepada mereka bahwa dengan menguasai bahasa asing dan teknologi, mereka bisa menulis artikel keislaman yang menyejukkan untuk dibaca ribuan orang di seluruh dunia. Dakwah tidak lagi sebatas di atas mimbar kayu, melainkan di timeline jutaan umat.
3. Transformasi Peran Asatidz: Dari “Pemberi Tahu” Menjadi “Fasilitator”
Di era Society 5.0, informasi bisa dicari di Google atau AI dalam hitungan detik. Maka, tugas seorang ustaz bukan lagi sekadar mentransfer hafalan, melainkan mengajarkan kebijaksanaan (wisdom) dan berpikir kritis. Ajak santri berdiskusi: “Bagaimana pandangan fiqih tentang jual beli di Metaverse?” Diskusi aktual seperti ini akan merangsang rasa ingin tahu mereka.
Contoh Konkret Pesantren yang Berhasil Beradaptasi
Bukti nyata bahwa santri bisa relevan di era Society 5.0 tanpa kehilangan jati diri dapat dilihat pada model Pesantren IT. Banyak institusi (seperti Pondok Pesantren Sintesa atau IDN Boarding School) yang sukses menggabungkan tahfidz Qur’an dengan keahlian programming, desain grafis, dan digital marketing.
Hasilnya? Santri memiliki motivasi belajar yang sangat tinggi karena mereka melihat korelasi langsung antara apa yang mereka pelajari hari ini dengan kemandirian finansial dan kontribusi dakwah mereka di masa depan. Mereka hafal Al-Qur’an, memiliki adab tawadhu, sekaligus mampu merancang aplikasi Islami. Ini adalah wujud sempurna dari Society 5.0.
Kesimpulan
Motivasi belajar santri di era Society 5.0 sangat bergantung pada bagaimana pesantren mampu menjembatani tradisi (turats) dengan inovasi (tajdid). Tantangan berupa distraksi digital dan kelelahan mental nyata adanya, namun bisa diatasi dengan kurikulum yang relevan, metode pengajaran interaktif, dan penanaman visi global. Santri yang termotivasi hari ini adalah mereka yang sadar bahwa teknologi hanyalah alat, sementara karakter dan akhlak Islami adalah kompas yang mengarahkannya.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Apakah teknologi membuat santri melupakan tradisi kitab kuning?
Tidak, jika pesantren memiliki sistem yang baik. Teknologi justru dimanfaatkan sebagai alat bantu. Contohnya, mendigitalisasi manuskrip kitab kuning atau menggunakan aplikasi untuk mempermudah pencarian referensi hadits.
2. Bagaimana cara membatasi distraksi gawai di pesantren modern?
Banyak pesantren menerapkan sistem screen time terbatas. Gawai hanya boleh digunakan pada jam pelajaran atau riset tertentu, dan jaringan internet (Wi-Fi) disaring secara ketat (whitelisting) untuk memblokir akses ke situs non-edukatif.
3. Apa skill paling krusial bagi santri di era Society 5.0?
Selain pemahaman agama yang mendalam, santri wajib memiliki Critical Thinking (agar tidak mudah termakan hoaks/fatwa instan), literasi digital, dan keterampilan komunikasi persuasif (untuk dakwah modern).
Referensi & Bacaan Lanjutan:
-
Aziz, A., & Majid, A. (2021). Tantangan Pendidikan Pesantren di Era Society 5.0. Jurnal Kependidikan Islam.
-
Huda, M., et al. (2020). Empowering Islamic Education in the Digital Era. Journal of Islamic Studies and Culture.
-
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2023). Roadmap Pesantren Digital Indonesia.

