Wajibkah Kita Bermadzhab?

Posted by
9
views

Sebagaimana pernah saya ungkapkan, mengajarkan fiqh zaman now itu susah-susah gampang. Arus informasi yang begitu deras jelas membingungkan santri pemula. Celakanya, para khutoba’ muta’akhirin itu rata-rata main vonis, hukumnya begini dan begitu. Padahal banyak hukum-hukum khilafiyah, yang kita bebas memilih salah satu.

Alangkah lebih elok, bila hukum yang dicetuskan diembel-embeli menurut pendapat madzhab A atau B. Khusus di negara kita, sebenarnya mayoritas menggunakan madzhab imam Syafi’i. Jadi hukum yang berbeda dengan pendapat beliau, harusnya ditegaskan menurut madzhab siapa. Jangan sampai mereka berfikir: wah berarti yang diajarkan guru ngaji saya dulu itu salah.

Kalau hukum itu mengambil langsung dari Al Qur’an dan Al-Hadits bagaimana? Hukum-hukum yang sudah jelas dalilnya, tidak mungkin para ulama itu bertentangan. Perbedaan pendapat itu pasti terjadi pada hukum yang belum jelas, ijtihady.

Lagipula, siapa kita ini, sampai berani menyalahkan pendapat ulama madzhab. Merasa lebih hebat? Ayat dan hadits yang kita baca lebih banyak dari mereka? Pemahaman lebih dalam?

Padahal dalam bermadzhab kita harus saling menghargai perbedaan dalam masalah furu’ (cabang agama). Itu sudah dicontohkan para ulama salaf. Mereka tidak ngotot memaksakan pendapatnya apalagi sampai menyalahkan. Diantara mereka terjadi perbedaan (khilafiyah) tapi tetap saling memahami pendapat ulama lainnya bahkan diantara mereka saling memuji.

Bila akhlak dalam bermadzhab ini dijunjung tinggi, niscaya tak akan terjadi perseteruan karena beda pendapat dalam banyak hal.

Dalam urusan ibadah saja kita bisa saling menghormati, apalagi cuma dalam urusan berbeda pilihan? Tentu urusan yang sepele.

Gambar berikut bisa menjadi pertimbangan, bahwa yang seharusnya berselisih itu yang pilihannya sama. Kok bisa? Cekidot!

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *