Utopia Surga di ISIS

Posted by
13
views

Nur Dhania, seorang remaja warga Negara Islam Iraq – Suriah, pulang ke Indonesia. Lucu juga, bagaimana bisa warga negara lain kok pulang ke Indonesia. Urusan mantan WN ISIS ini memang menjadi dilema semua negara, tak hanya Indonesia.

Mereka balik badan ke negara asalnya karena wilayah ISIS semakin sempit, bahkan hampir hilang dari peta dunia.

Nur menceritakan awal berkenalan dengan ISIS dari dunia maya dan media sosial. Waktu itu 2015, umurnya baru 15 tahun. Dia kesengsem dengan konsep khilafah dan adil makmur nya hidup di negara Islam. Perumahan, pendidikan dan layanan kesehatan gratis disana.

Nur segera berangkat, walaupun keluarga tak merestui. Namun, melihat kenekatan anaknya, sang ayah malah mengikuti jejaknya. Rumah dijual, status PNS dilepaskan, menyusul anaknya ke negara impian: ISIS.

Sampai di negeri impian, ternyata Nur kaget. Tidak ada surga itu. Mereka semua ditempatkan di asrama yang kumuh, ruwet, penuh masalah sosial. Laki-laki dewasa dipaksa ikut perang. Yang perempuan hampir tiap hari dilamar orang untuk dinikahi. Masih mending nasib Nur, tidak dipaksa.

Itulah hebatnya propaganda dan cuci otak ISIS ini. ISIS bisa saja hilang dari peta. Tapi mereka masih eksis di dunia maya. Bergerilya mencari korban-korban baru.

Inilah yang wajib kita waspadai. Impian adanya khilafah yang terus menerus dikampanyekan HTI di negeri ini bisa menumpulkan akal sehat. Padahal kalau seseorang mau berfikir, mana mungkin mewujudkan kedamaian di negara yang wilayahnya direbut paksa dengan kekerasan? Iraq dan Suriah itu negara berdaulat, yang pasti berusaha merebut kembali wilayahnya.

Konsep HTI dan ISIS setali tiga uang. Walaupun beda cara. Beda manhaj.  Banyak pendukung HTI yang beranggapan, ISIS yang telah lebih dahulu memproklamirkan negara Islam harus didukung. Tentu saja anggapan ini muncul dari orang yang sudah terpapar ideologi khilafah dari kelompok yang lain juga.

Idiologi ISIS sudah memunculkan banyak teroris yang beraksi di berbagai belahan dunia. Dikutuk oleh semua agama, tapi malah dibanggakan dan diklaim oleh ISIS.

Kita perkuat keimanan anak-anak kita dengan pemahaman yang lurus. Islam yang damai. Islam yang sesuai namanya. Jangan sampai muncul Nur Dhania- Nur Dhania baru.

Mari bendung ISIS dengan memperkuat barisan Islam inklusif. Islam rahmatan lil alamin yang sesungguhnya. Selektiflah dalam memilih sekolah. Cari yang betul-betul steril dari faham radikal dan eksklusif. Sebab, radikalisme menumbuhkan terorisme.

Lembaga-lembaga pendidikan di bawah naungan NU bisa jadi pilihan. Memperkuat NU adalah memperkuat Indonesia. Sekaligus memperkuat wajah Islam yang ramah dan damai. Rahmat bagi semesta alam!

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *