Tua Itu Pilihan

Posted by
10
views

Dalam suasana idul fitri seperti ini, terasa benar “kesaktian” sang waktu. Masih terngiang sebuah ungkapan populer dari da’i sejuta ummat Zainuddin MZ: waktu itu tahu-tahu, yang dulunya anak-anak sekarang sudah pada punya anak, maen anak-anakan. Lengkap dengan logat betawinya yang kental.

Beranjangsana ke sanak saudara ,bertemu orang-orang yang puluhan tahun menghilang dari dunia kita, menghadirkan nostalgia dan pengaruh waktu yang begitu dahsyat. Cerita perjuangan, kepahitan, kesuksesan yang silih berganti tak dapat mengalihkan perhatian saya akan satu hal: kita semua menua. Ya, semua.

Waktu membawa gerbong besarnya terus secara konsisten berjalan ke depan. Membawa perubahan-perubahan. Bumi dan alam semesta menua, semakin mendekati batas masa berlakunya: kiamat. Bayi menjadi anak-anak, anak-anak menjadi remaja, remaja menjadi dewasa, dewasa menjadi tua, setelah tua pasti mati. Waktu mengubah semuanya tanpa kompromi.

Kadang-kadang ingin rasanya menghentikan sang waktu ini. Agar yang remaja bisa menikmati lebih lama masa remaja, dan yang dewasa dan sukses lebih lama menikmati suksesnya. Tapi, kalau itu terjadi, berarti merampas hak anak-anak yang ingin segera remaja, dan yang remaja ingin segera dewasa, yang gagal ingin menjadi sukses. Semuanya mengandalkan waktu yang berjalan.

Ini kisah tentang waktu dan seorang penakluknya. Saya menuliskannya untuk ibroh diri sendiri. Semoga berguna juga buat pembaca yang budiman. Yang tidak budiman tak akan bisa menggunakannya. Hehe canda vrooh!

Namanya Pak Taslim. Usia sekitar 85 tahunan. Tinggal dengan anak bungsunya. Tapi lebaran ini sang kakek di rumah sendirian. Si bungsu mengantar anaknya tes mondok di Gontor Putri. Itulah Gontor. Ujian masuk  dalam suasana lebaran. Tapi tetap membludak peminatnya. Sang istri sudah pamitan menghadap ilahi hampir setahun lalu.

Di tengah terenyuh, haru dan sedih saya coba pecahkan suasana. Cerita masa lalu menjadi menu wajib untuk obrolan dengannya. Ini juga berlaku untuk orangtua lain lho. Kalau Anda mengunjungi orang yang tua, mulailah dengan menggali cerita masa lalu. Anda akan segera mendapat perhatiannya.

Nah, dalam obrolan itu nanti akan terselip keluh kesah dan curhatan tanpa sengaja. Itu juga yang terjadi dengan Pak Taslim ini. Beliau adalah guru semua orang. Bahkan banyak keluarga di sekitar merupakan murid dia tiga generasi. Kakek, anak, dan cucu semua pernah jadi muridnya. Namun, dia prihatin dengan kondisi pendidikan di Indonesia.

Akhir tahun 70an dia mendirikan sebuah sekolah: MINU. Madrasah Ibtidaiyah NU. Sampai sekarang bangunan gedung masih kokoh. Kursi bangku masih ada, walaupun beberapa dijarah masyarakat. Itulah mental masyarakat kita hehe. Yang tidak ada, murid dan gurunya. “Dihancurkan” oleh kampanye SD Negeri di masa keemasan Soeharto .

Dengan latar belakang yang begitu baik, nyatanya beliau kehilangan semangat hidupnya. Dengan kondisi badan yang renta dan tak sehat lagi, beliau kehilangan hal penting: alasan untuk tetap hidup. Untuk apa hidup dalam kondisi seperti ini? Begitu curhatnya.

Mungkin ada yang menyangka saya menganjurkan beliau untuk banyak berzikir, beribadah mempersiapkan kematian. Dan itu tidak salah.

Namun justru yang paling utama adalah menumbuhkan harapan. Di dunia ini. Harapan akan ada kalau ada tujuan. Saya ceritakan tentang Mahatir Mohammad. Yang umurnya hampir seabad. Yang malah jadi perdana menteri itu. Yang enerjik itu.

Suntikan semangat justru beliau dapat dari MINU. Ya, semangatnya menyala ketika saya tantang menghidupkan MINU yang mati suri. Kebetulan banyak mahasiswa, aktifis PMII yang gemar meminjam gedung MINU untuk berkegiatan. Tinggal ditunggangi aja tuh para aktifis. Tantang menghidupkan MINU. Atau lembaga pendidikan lain. Yang penting, gedung itu berguna.

Hidupnya lembaga pendidikan itu hanyalah akibat. Yang terpenting, sang kakek sudah menemukan tujuan, alasan untuk hidup, dan juga harapan.

Man can live about 40 days without food, about three days without water, about eight minutes without air, but only for one second without hope.

Tanpa harapan, manusia cuma bertahan hidup satu detik!

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *