Mubahalah

Posted by
11
views

Istilah mubahalah pertama saya jumpai ketika SD. Madrasah diniyah samping rumah dapat bantuan buku. Salah satunya ” Mubahalah, perang do’a” . Ditulis oleh Ahmad Hariadi.

Ahmad Hariadi ini mantan pengikut Ahmadiyah. Yang bermubahalah melawan Khalifah Qadiani.

Menurut buku ini, beliau menang bermubahalah. Khalifah ke empat Ahmadiyah meninggal dunia di London saat itu.

Nah, kalau sekarang istilah ini dipopulerkan oleh Nur Sugik, alias Gus Nur. Dalam sebuah video, saya melihat beliau mengangkat Al-Qur’an. Bermubahalah, melawan pendukung rezim Jokowi (maaf kalau salah, cuma contoh).

Ini contoh isi mubahalah Gus Nur:

Saya bersumpah demi Allah, saya bermubahlah ya Allah,  dengan segala kepenuhan imam ku ya Allah. Bahwa memang rezim ini zolim, rezim ini jahat. Rezim ini curang, culas menghianati rakyat ya Allah”.

“Siapa yang percaya mubahalah ini ya Allah selamatkan tujuh turunannya oleh Allah. Kemudian Ya Allah kalau mubahalah ini saya zolim,  kalau saya yang sombong, kalau saya yang celaka, saya yang memiliki kepantingan ya Allah. Saya bersumpah, tujuh turunanku azab ya Allah”

“Tujuh turunanku mudah mudahan diazab Allah,  istriku,  anakku, cucu-cucuku, saya jadikan tumbal gak apa apa. Kalau saya salah ya llah, kalau saya zolim ya Allah, kalau saya ada kepentingan ya Allah. Uang atau apa pun ya Allah, mudah-mudahan tujuh turunan kompak diazab habis habisan.”

“Tapi kalau ternyata rezim ini yang zolim ya Alllah, pendukung-pendukungnya yang zolim ya Allah, tetap menutup mata dan menolak mubahalah ini ya Allah,  hancurkan tujuh turunannya ya Allah, istrinya anaknya cucu-cucunya ya Allah, miskinkan tujuh turunan,  azab mereka ya Allah”.

Lalu mubahalah ini apa? Hukumnya bagaimana?

Dalam kaidah bahasa Arab, khususnya ilmu sharaf, mubahalah ini bentuk kalimatnya mengandung arti saling.

Asal katanya  bahl, semakna dengan la’n atau li’an, yang artinya melaknat. Jadi mubahalah adalah saling melaknat.

Kalau meminjam istilah Ahmad Hariadi, perang do’a. Maka saling mendo’akan keburukan.

Namun, mubahalah tidak bisa digunakan sembarangan. Dan yang pasti, mubahalah harus ada musuhnya. Mubahalah ala Gus Nur ini tidak ada lawan yang sama-sama bermubahalah. Itu sumpah saja. Bukan mubahalah. Walaupun isi sumpahnya mengerikan.

Dari sejumlah hadits tentang mubahalah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW, harus memenuhi beberapa syarat:

Saat mubahalah dilakukan , masing-masing harus membawa keluarga terdekatnya.

Berhubungan dengan aqidah

Masing-masing bersumpah atas nama Allah tentang sesuatu, dan memohon dijatuhkannya laknat kepada musuh mubahalah dan keluarganya.

Tentang mubahalah ada di Al Qur’an surat Ali Imran ayat 61

«فَمَنْ حَاجَّكَ فِیهِ مِن بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَ أَبْنَاءَكُمْ وَ نِسَاءَنَا وَ نِسَاءَكُمْ وَ أَنفُسَنَا وَ أَنفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل‌لَّعْنَتَ اللَّـهِ عَلَی الْكَاذِبِینَ »

“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”

Jadi, mubahalah tidak boleh sembarangan. Apalagi hal yang dimubahalahkan hanya hal-hal sepele. Yang jelas harus ada musuhnya.

Dalam asbabun nuzul ayat di atas, mubahalah Nabi tidak jadi dilakukan, karena pendeta nasrani Najran yang membantah Nabi tidak berani melaksanakannya.

Wallahu’a’lam.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *