Mengapa Kitab Kuning?

Posted by
38
views

Mungkin banyak yang bertakon-takon (Pak Ndul?) mengapa pondok pesantren NU selalu mengkaji kitab kuning dan membangga-banggakannya. Tidak adakah kitab lain yang lebih modern dan memenuhi tuntutan zaman milenial ini?

Istilah kitab kuning merujuk kepada kitab-kitab berbahasa arab karangan para ulama kuno. Mulai era para imam madzhab, imam hadits sampai ulama-ulama pada abad setelahnya.

Kitab Kuning pada awalnya adalah olok-olok untuk membully dunia pesantren. Kitab yang dikaji para santri itu dianggab kitab yang berkadar ilmu rendah, ketinggalan zaman dan membuat cara berfikir umat Islam tak berkembang.

Namun siapa sangka, justru sekarang kitab kuning menjadi kebanggaan. Mampu membacanya dianggap syarat wajib seseorang disebut kiyai atau ulama. Ketika ada yang berfatwa dalam masalah agama, masyarakat langsung berkomentar, ” Bisakah dia membaca kitab kuning”?

Padahal tak semua kitab jenis ini berwarna kuning. Apalagi berkembangnya teknologi cetak telah menampilkan wajah baru kitab kuning, baik dari layout maupun bentuk fisiknya.

Di Timur Tengah, kitab-kitab ini disebut Alkutub Alqodimah, kitab-kitab kuno, tradisional.

Kitab-kitab tradisional ini berisi pelajaran-pelajaran agama islam (diraasah al-islamiyyah) yang diajarkan pada Pondok-pondok Pesantren, mulai dari fiqh, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa arab (`ilmu nahwu dan `ilmu sharf), hadits, tafsir, `ulumul qur’aan, hingga pada ilmu sosial dan kemasyarakatan (mu`amalah). Dikenal juga dengan kitab gundul karena memang tidak memiliki harakat (fathah, kasrah, dhammah, sukun), tidak seperti kitab suci Al-Qur’an.

Untuk bisa membaca kitab kuning berikut arti harfiah kalimat per kalimat agar bisa dipahami secara menyeluruh, dibutuhkan waktu belajar yang relatif lama. Namun sudah banyak terobosan baru agar kemampuan membaca kitab gundul ini lebih cepat dikuasai.

Lalu, mengapa sampai sekarang kitab-kitab kuno ini tetap dikaji?

Diakui atau tidak, kitab-kitab ini memuat referensi lengkap berbagai aspek keilmuan agama Islam, yang merupakan warisan para ulama terdahulu sebelum kita.

Para ulama ini mempunya kualitas lahir maupun bathin yang mumpuni, yang tidak akan dimiliki ulama masa kini. Kenapa demikian? Ini tak lepas dari “takdir” yang harus kita terima. Ummat Nabi Muhammad ini semakin jauh dari masa Nabi, maka semakin menurun kualitasnya. Nabi Saw bersabda:

خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُم

“Yang terbaik dari kalian adalah orang-orang yang hidup di zamanku (sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang setelah mereka (at baaut taabi’in).”

Semakin menjauh dari masa nabi, kualitas ulama akan semakin menurun. Mengkaji karangan ulama-ulama kuno adalah ikhtiar untuk memperlambat “perburukan” ini.

Jadi, urusan sains dan teknologi, semakin lama akan semakin maju. Akan semakin banyak penemuan baru yang mempermudah hidup kita.

Urusan ilmu agama Islam? Akan sebaliknya. Sampai suatu saat, Alloh Swt akan mencabut ilmu ini dari dunia kita.

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mencabut ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkatnya dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.“

Na’udzubillah, semoga kita tidak mengalami zaman itu.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *