Kontes kok Menang Semua?

Posted by
12
views

Ada 2 anak kecil bermain gundu. Setelah usai mereka lapor kepada ibunya masing-masing. Ketika kedua ibu ini bertemu mereka tertawa berderai-derai, soalnya laporan anak 01 menang. Anak 02 juga lapor menang. Bagaimana bisa permainan kok menang semua?

Entah mengapa, setelah selesai pemilu dan pilpres ini saya merasa gamang. Bingung mau bagaimana. Berlalunya pemilu dan pilpres harusnya memberikan perasaan lega dan bebas, karena usainya sebuah hajatan besar. Kini tak ada lagi.

Semua bayangan tentang bersatunya dua kubu hilang lenyap ditelan klaim kemenangan sepihak dan narasi-narasi kecurangan pemilu yang bikin gerah. Seruan mengubur cebong dan kampret ditanggapi dengan narasi-narasi kecurangan pemilu dan rekayasa hasil quick count.

Di group-group tele dan wa seruan masif untuk mengawal form C1 bergaung. Padahal bagi yang tak terlibat langsung proses penghitungan suara, form C1 itu apa, jelas tak tahu. Tapi ya itu positifnya, masyarakat jadi tahu. Ada sebuah benda mati yang perlu dikawal kemana-kemana bernama C1.

Mengapa pihak yang kalah versi quick count tidak mengakui saja kekalahannya? Jumlah mata pilih nasional adalah  187.781.884 orang. 10% selisih angka perolehan suara itu banyak. 18 juta lebih. Kalau dikurangi margin of error 2% masih 8%. Masih sekitar 15 juta suara. Butuh dua kali mata pilih di DKI Jakarta untuk mendapatkan angka itu. Itupun masih kurang, karena DPT DKI hanya 7.211.891 orang.

Kecurangan seperti apa yang bisa menilep 15 juta suara? Mungkin ada yang menjawab: Buktinya bisa tuh jaman orde baru? Iya, masa itu tak ada kebebasan pers. Apalagi media sosial. “KPU” nya pun serba tertutup. Jadi gambaran kecurangan Terstruktur, Sistematis dan Masif (TSM) itu ya ada di masa orde baru itu.

Suasana tak nyaman ini sama persis dengan situasi tahun 2014. Kontestannyapun sama. Yang dilakukan pun sama. Pihak 02 mengklaim kemenangan sambil sujud syukur. Padahal saat itu pihak 01 yang sebenarnya menang menurut quick count belum melakukan deklarasi. Bahkan saat konferensi pers pun 01 menjaga situasi dengan ekspresi datar. Tanpa menonjolkan kegembiraan. Untuk menjaga perasaan yang kalah.

Namun, ekspresi datar 01 ini justru digoreng kubu 02 dengan berbagai narasi tuduhan dan kebencian. Sungguh menyedihkan.

Kubu 01 pun mengimbangi dengan melakukan deklarasi kemenangan. Wajar karena mereka memang menang versi quick count. Yang aneh itu deklarasi dari 02, masa sujud syukur karena menang versi perhitungan sendiri?

Sepertinya kita harus sabar menunggu tanggal 22 Mei, ketika KPU mengumumkan hasil real count nya. Eh, belum tentu juga tensi politik mereda saat itu. Sepertinya 02 akan meneruskan kemenangan versi mereka ke MK.

Di media sosial, postingan nyinyir, fitnah dan ghibah masih akan kita nikmati beberapa bulan ke depan.

Jadi, mari kita simpan stok kesabaran yang banyak di kulkas. Perjalanan masih panjang kawan!

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *