Khilafah dan Fitnah, Dua Sisi Mata Uang

Posted by
15
views

Sejak akhir dekade 90-an, marak kampanye khilafah oleh HTI di kampus-kampus. Tagline yang mereka usung sangat menarik: solusi total problematika umat.

Indonesia, yang saat itu baru lepas dari kekuasaan otoriter orde baru, seperti bayi yang baru lahir dipaksa berlari: gagap dan terseok-seok.

Khilafah, yang seharusnya dibendung dari awal, malah menjadi wacana pengganti demokrasi.

Opini yang dibangun sangat bagus. Demokrasi sistem kafir. Tidak cocok diterapkan di Indonesia. Terbukti melahirkan diktator sekelas Soeharto.

Yang menjadikannya paradoks adalah: cita-cita luhur penegakan khilafah ini tak dibarengi cara-cara berpolitik yang santun dan berakhlak. Caci maki, fitnah, hoax seolah dihalalkan untuk lawan politik.

Yang mereka lakukan seperti halnya memimpikan rumah yang bersih, tapi menyapunya dengan sapu kotor penuh dosa.

Apakah mereka tidak sadar, tujuan utama agama Islam adalah akhlak yang luhur?

Sabda Nabi SAW:

إنمابعثت لأتمم مكارم الأخلاق

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan keluhuran akhlak

Jadi, sebenarnya yang mereka lakukan adalah menegakkan tembok dengan menggerogoti fondasi. Ketika atap terpasang, rumah akan ambruk tak lama kemudian.

Dari sejarahnya, pemerintah pasca orde baru, Gus Dur, dan Megawati, tak bisa tegas terhadap kelompok ini. Karena memang saat itu belum terlihat geliatnya.

Malah, mereka ikut bermain di pusaran kekuasaan. Konon mereka menawarkan dukungan total kepada Gus Dur -ketika dekrit gagal itu- asal Gus Dur mengubah bentuk negara ini menjadi khilafah.

Untungnya Gus Dur tak tertarik, dan memilih menanggung sendiri akibat dekrit itu. Gus Dur pun lengser, digantikan Megawati.

Di era SBY, kelompok khilafah ini semakin berkembang. Mereka, entah asal-usulnya sama atau tidak, terpecah menjadi 3 organisasi: PKS, HTI, dan NII

Dua yang pertama berstatus organisasi resmi. Bahkan yang disebut pertama adalah partai politik pendukung pemerintahan SBY. Satu lagi dibubarkan Jokowi.

PKS ini, awalnya berjargon bersih dan profesional. Yang banyak mendapat simpati karena jargon itu. Banyak umat islam kepincut, termasuk para santri.

Namun setelah kasus LHI dan munculnya generasi nyinyir ala Fahri Hamzah dkk, pelan-pelan jargon itu ditinggalkan.

Lalu, apa yang mereka harapkan dari perilaku politik ugal-ugalan ini?

Kalau mengharap simpati umat Islam, terutama kalangan santri, mereka harus mengubah cara-cara culas itu.

Toh soal khilafah adalah masalah khilafiah yang masih pro dan kontra. Sama seperti do’a qunut shalat subuh. Tapi soal akhlak adalah mutlak. Itu salah satu inti ajaran Islam.

Menegakkan khilafah tanpa akhlak yang baik, sama dengan melakukan do’a qunut tanpa shalat subuh.

Paham saudaraku? (Pakai gaya Gus Nur).

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *