Istinbathul Hukmi

Posted by
16
views

Salahkah gerakan kembali ke Qur’an dan Sunnah yang marak belakangan ini?

Kalau meninjau istilahnya, bukan hanya tidak salah, itu wajib bagi kita semua. Semua hal di kehidupan kita, wajib dikembalikan kepada 2 warisan Nabi kita itu.

Tapi apakah maksud pembuat gerakan itu begitu? Sepertinya tidak. Maksud mereka adalah mengambil hukum langsung dari Qur’an dan Hadits. Bukan dari pendapat ulama atau kitab-kitab karangan ulama.

Apakah itu salah? Tentu tidak, asal punya ilmunya. Pertanyaanya, apakah kita punya ilmunya?

Mengambil kesimpulan hukum dari dalil Qur’an dan Hadits itu tidak sederhana. Perlu analisa mendalam dan tinjuan asbabun nuzul, asbabul wurud, nasikh wa mansukh, mukhoshish wa mukhoshosh, kaidah fiqh terkait dan lain-lain.

Contoh kecil, tentang isbal. Wah ini sangat populer. Isbal ini dihukumi haram oleh sebuah kelompok, bahkan menjadi ciri khas mereka: celana cingkrang.

Isbal adalah memanjangkan pakaian (sarung/celana) di bawah mata kaki hingga menyentuh tanah.

Hadits-hadits di bawah inilah yang mereka kira menghasilkan hukum haram:

ثلاث لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم المسبل إزاره والمنان الذى لا يعطى شيئًا إلا منة والمنفق سلعته بالحلف الكاذب (رواه مسلم رقم 106)

Ada 3 orang yang tidak akan dilihat oleh Allah di hari kiamat dan tidak dibersihkan oleh Allah, serta mereka mendapat adzab yang pedih yaitu orang yang melakukan Isbal (memanjangkan pakaiannya), orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya dan orang yang bersumpah palsu atas dagangannya” (HR Muslim No 106). Dan hadis:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ (رواه البخاري رقم 5787)

“Pakaian yang dibawah mata kaki maka ada di neraka” (HR Bukhari No 5787)

Nah, orang yang cuma membaca hadits di atas pasti akan mengharamkan isbal. Padahal hadits-hadits itu belum ditakhshish.

Mari kita baca hadits-hadits yang lain berikut ini:

لا ينظر الله يوم القيامة إلى من جر إزاره بطرا (رواه البخاري رقم 5451 )

لا ينظر الله إلى من جر ثوبه خيلاء (رواه مسلم رقم 2085)

Allah tidak akan melihat seseorang di hari kiamat yang memanjangkan pakaiannya (Isbal) secara sombong” (HR Bukhari No 5451 dan Muslim No 2085).

Dikisahkan, ketika Rasulullah bersabda demikian, kemudian Abu Bakar bertanya:

فقال أبو بكر إن أحد شقي ثوبي يسترخي إلا أن أتعاهد ذلك منه ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم إنك لن تصنع ذلك خيلاء (رواه البخاري رقم 3465)

 “Sesungguhnya salah satu sisi pakaian saya memanjang ke bawah kecuali kalau saya menjaganya? Rasulullah saw menjawab: “Kamu melakukan itu tidak karena sombong” (HR Bukhari No 3465).

Nah, hadits di atas mentakhsis (mengkhususkan) larangan isbal, yaitu bila ada kesombongan. Rasulullah, seperti kasusnya Abu Bakar, mengisyaratkan bahwa jika Isbal dilakukan tidak bertujuan sombong adalah diperbolehkan.

Maka isbal tidak haram dan yang membuatnya haram adalah “sombong”.

Hukum akhirnya, mengangkat pakaian diatas mata kaki adalah sunah, bukan wajib. Memanjangkannya tidak haram. Apalagi di masa sekarang, orang sombong biasanya karena bajunya bermerk, bukan karena panjangnya .

Penjelasan ini diulas oleh Imam Nawawi dalam Syarah Muslim 1/128.

Ditambah, tidak semua hal yang terjadi sekarang, ada di Qur’an dan Hadits. Saat itu (misalnya) belum ada rokok, narkoba, forex, saham. Jadi darimana kita tahu hukum-hukum hal tersebut?

Satu contoh, tentang rokok. Tidak ada satupun hadits maupun atsar sahabat yang menjelaskan hukumnya. Karena itulah ulama terdahulu tidak ada yang berani mengharamkannya.

Abdur Rahman ibn Muhammad ibn Husain ibn ‘Umar Ba’alawiy di dalam Bughyatul Mustarsyidin (hal.260) menulis sebagai berikut:

لم يرد في التنباك حديث عنه ولا أثر عن أحد من السلف، ……. والذي يظهر أنه إن عرض له ما يحرمه بالنسبة لمن يضره في عقله أو بدنه فحرام، كما يحرم العسل على المحرور والطين لمن يضره، وقد يعرض له ما يبيحه بل يصيره مسنوناً، كما إذا استعمل للتداوي بقول ثقة أو تجربة نفسه بأنه دواء للعلة التي شرب لها، كالتداوي بالنجاسة غير صرف الخمر، وحيث خلا عن تلك العوارض فهو مكروه، إذ الخلاف القوي في الحرمة يفيد الكراهة

Tidak ada hadits mengenai tembakau dan tidak ada atsar (ucapan dan tindakan) dari seorang pun di antara para shahabat Nabi SAW. … Jelasnya, jika terdapat unsur-unsur yang membawa mudarat bagi seseorang pada akal atau badannya, maka hukumnya adalah haram sebagaimana madu itu haram bagi orang yang sedang sakit demam, dan lumpur itu haram bila membawa mudarat bagi seseorang. Namun kadangkala terdapat unsur-unsur yang mubah tetapi berubah menjadi sunnah sebagaimana bila sesuatu yang mubah itu dimaksudkan untuk pengobatan berdasarkan keterangan terpercaya atau pengalaman dirinya bahwa sesuatu itu dapat menjadi obat untuk penyakit yang diderita sebagaimana berobat dengan benda najis selain khamr. Sekiranya terbebas dari unsur-unsur haram dan mubah, maka hukumnya makruh karena bila terdapat unsur-unsur yang bertolak belakang dengan unsur-unsur haram itu dapat difahami makruh hukumnya.

Jadi bila ulama masa kini mengharamkan rokok, bukankah itu berarti tanpa dalil? Sungguh berani.

Contoh-contoh di atas termasuk yang paling mudah. Adakalanya pengambilan kesimpulan hukumnya melibatkan banyak proses, penelitian dan diskusi panjang diantara para ulama.

Jadi, mari kita berhati-hati. Fatwa yang salah akan menyesatkan banyak orang. Tak mau menanggung dosanya kan?

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *