Gus Dur, Gus Miek dan NU

Posted by
26
views

Syahdan, dalam suatu kesempatan di makam Tambak, Ngadi, Mojo, Kediri, Gus Dur dan Gus Miek berbincang.

Bagi yang belum tahu, Gus Miek adalah seorang kiyai nyentrik pengasuh PP Alfalah, Ploso, Kediri. Dakwahnya tak kenal tempat. Kelab malam, pangkalan becak, tempat perjudian, bahkan kompleks pelacuranpun beliau tak alergi.

Masyhur di kalangan santri bahwa beliau itu “weruh sak durunge winarah” . Juga salah satu waliyulloh di tanah jawa. Benar tidaknya wallohu’a’lam. Itu rahasia Alloh.

Konon, di beranda langgar area makam auliya Tambak itu, Gus Miek berucap “Gus, sampean itu paku buminya NU. Kelak sepeninggal sampean, NU bakal kena fitnah,” .

“Kenapa bisa begitu Gus, apakah ndak ada lagi para masyayikh yang menjaga NU?” tanya Gus Dur.

“Bukan sebab itu, tapi karena dunia telah ada di atas kepala orang NU dan adanya beberapa orang bodoh yang mencabik NU,” jawab Gus Miek.

Lalu kedua tokoh besar NU ini berdoa dengan khusyu’ sambil sesekali sesenggukkan menahan tangis. Selesai berdo’a, muka Gus Miek sumringah sambil menjelaskan: “fitnah itu cuma seumur jagung”.

Mendengar itu Gus Dur tertawa lepas. Semoga Allah merahmati keduanya.

Nah, kalau kita lihat situasi sekarang, prediksi Gus Miek itu ada benarnya. Baru sekaranglah orang terang-terangan mengejek NU, mencela amaliyah NU, mencaci tokoh NU.

Penyebabnya? Sesuai dawuhnya Gus Miek itu ada dua: internal dan eksternal.

Mari kita lihat. Kiyai dan tokoh NU masakini banyak yang mengejar jabatan. Berlomba-lomba nyaleg, nyabup, nyagub, nyapres dan nya-nya lainnya. Mereka menjual nama besar keluarga kiyai, menunggangi suara warga NU untuk kepentingan pribadi.

Banyak pondok pesantren tak terurus ditinggal pengasuhnya: mengejar jabatan.

Beda dengan jaman Gus Dur, jabatan yang datang sendiri. Rekam jejak, reputasi dan situasi membuat Amien Rais tak punya pilihan lain saat itu.

Perlombaan mengejar jabatan ini semakin bertambah buruknya. Akibat masing- masing membawa ego lembaga pendidikan yang diasuhnya. Bila jabatan didapat, maka mereka sibuk mengalirkan dana pemerintah ke lembaganya. Sebagian masuk kantong pribadi.

Lembaga pendidikan yang berkembang dengan uang shubhat, bahkan haram ini, bisa dibayangkan. Bagaimana kualitas lulusannya. Terutama akhlaknya.

Wahai, sadarlah para kiyai NU masakini!

Pembusukan dari dalam ini diperparah dengan munculnya kelompok “orang bodoh” (itu istilahnya Gus Miek ) di luar NU, yang sangat gemar mengolok-olok NU.

Mereka sok pintar, congkak, tapi tak berilmu. Menghujat NU dan pemerintah menjadi sarapan pagi. Mengejek ulama NU seolah ilmu agamanya lebih tinggi. Padahal mereka, seperti kata Gus Miek: bodoh.

Semoga fitnah dan hujatan yang menimpa NU segera berlalu. Terlepas siapa yang menang dalam pemilu kali ini. Tidak harus pihak yang selama ini gandeng renteng dengan NU.

Boleh jadi sesuatu yang kita sukai hasilnya buruk. Boleh jadi sesuatu yang kita benci akibatnya baik.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
(Albaqarah 261)

Who knows? God rules!

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *