Dalam Islam, Beristri Satu itu Lebih Utama daripada Poligami!

Posted by
10
views

Apa hukum poligami yang Anda tahu? Sunnah? Sunnah Nabi? Ya, itulah yang populer di negara kita ini. Bahkan ada seminar-seminar poligami yang menghadirkan pakar-pakar di bidang ini. Pakar berarti sudah mempraktekannya donk! Dan dia bangga dengan itu. Ah, yang bener aja?

Padahal -ironis kalau Anda baru mengetahui ini-, mencukupkan diri dengan satu istri itu lebih utama, kecuali ada sebuah situasi yang menuntut seseorang untuk berpoligami, maka ketika itu menjadi sunnah hukumnya. Adapun bila tidak ada hajat, maka hukumnya mubah, bukan sunnah.

قال الدّميري : ” يستحب أن لا يزيد على امرأة واحدة ، إلا أن يحتاج إلى أكثر منها ، فيستحب ما يحتاج إليه ؛ ليتحصن به ” انتهى من “النجم الوهاج في شرح المنهاج” (7/ 10)

Syekh Addamiri berkata: disunnahkan bagi seseorang untuk tidak beristri lebih dari satu, kecuali ada kebutuhan untuk menambah lebih dari satu, maka ketika ada kebutuhan itu, poligami hukumnya menjadi sunnah (Annajmul Wahhaj Fi Syarhil Minhaj 10/7). Dari sudut pandang ini, maka benarlah apa yang difatwakan Alkhatib Assyarbiny RA:

قول الخطيب الشربيني رحمه الله تعالى : “وَيُسَنُّ أَنْ لَا يَزِيدَ عَلَى امْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ ظَاهِرَةٍ ” انتهى من “مغني المحتاج” (4/ 207)

“Disunnahkan untuk tidak beristri lebih dari satu, tanpa ada kebutuhan yang benar-benar nyata.” (Mughnil Mukhtaj 207/4).

Nah, jelas bukan? Bahwa bila tidak ada kebutuhan yang benar-benar nyata / mendesak, maka hukum poligami itu mubah, cuma boleh, bukan sunnah. Memang tak dapat dipungkiri, poligami bisa menjadi kebutuhan mendesak dalam situasi-situasi tertentu, misalnya sang istri mandul dan hal-hal syar’i lainnya.

Namun wajib kita sadari, poligami itu dibutuhkan, namun sebagai jalan keluar, solusi sebuh situasi. Ia diciptakan sebagai emergency exit bagi rumahtangga yang bermasalah, disamping pintu satu lagi: talaq/ cerai.

Adapun dalam kondisi normal dan tak ada badai, beristri satu dan merasa cukup dengannya adalah lebih utama. Bila seseorang ingin, dia bisa berpoligami sebagai berkah luasnya syari’at agama Islam ini. Namun perlu dicatat, bahwa poligami bukanlah sunnah yang hukumnya tetap dalam segala situasi dan kondisi. Justru tuntutan untuk berbuat adil lah yang seharusnya membuat kita takut: seadil apakah saya? Qaul lebih utamanya beristri satu adalah pendapat banyak ulama ahli ilmu.

Bila ada yang berdalil tentang sunnahnya poligami dengan ayat

( وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى ، فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ، فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً )

maka tidak sah dalil ini. Kenapa? Karena hukum yang turun dari ayat ini menunjukkan ibahah (kebolehan) bukan annadb (kesunahan). Asbabun nuzul ayat ini tidak bermaksud menyuruh poligami dan menyunahkannya, tetapi pemberitahuan bahwa poligami itu boleh bagi yang menginginkan. Silahkan dibaca buku-buku tafsir lebih lanjut.

Abul Husain Al’imrany bercerita, suatu ketika Imam Syafi’i berkata: Lebih disukai oleh Alloh, bagi seorang laki-laki untuk mencukupkan diri dengan satu istri karena adanya ayat

( فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلا تَعُولُوا ).

Saat itu Ibnu Daud tak setuju dengan Imam Syafi’i, dia berkata: mengapa dia berkata beristri satu lebih utama, padahal Nabi Saw menikahi banyak istri? Dan yang dilakukan Nabi Saw biasanya sesuatu yang lebih utama? Dan bahwa Nabi Saw bersabda: ( تناكحوا تكثروا), menikahlah maka (jumlahmu) menjadi umat yang banyak?

Maka jawabannya adalah: Bagi selain Nabi Saw lebih utama beristri satu, karena menghindari dosa tidak berlaku adil itu lebih diutamakan. Adapun Nabi Saw berpoligami hukumnya khusus untuk beliau. Adapun sabda Nabi Saw ( تناكحوا تكثروا) maka kesunnahannya adalah untuk menikah, bukan untuk beristri banyak. (Al Bayan Fi Madzhabil Imam Assyafi’i 189/11)

Bahkan dalil-dalil keutamaan beristri satu bertebaran di banyak literatur:

Al Ashnaf (16/8)

وقال المرداوي الحنبلي : ” وَيُسْتَحَبُّ أَيْضًا : أَنْ لَا يَزِيدَ عَلَى وَاحِدَةٍ ، إنْ حَصَلَ بِهَا الْإِعْفَافُ ، عَلَى الصَّحِيحِ مِنْ الْمَذْهَبِ … قَالَ ابْنُ خَطِيبِ السَّلَامِيَّةِ : جُمْهُورُ الْأَصْحَابِ اسْتَحَبُّوا أَنْ لَا يَزِيدَ عَلَى وَاحِدَةٍ

Berkata Almardawi Alhanbaly: Disunnahkan juga agar seseorang tidak beristri lebih dari satu, bila itu bisa menjaganya. Menurut qaul shohih dari madzhab.. Ibnu Khotib Assalamiyah berkata: Jumhur (mayoritas) sahabat Nabi lebih menyukai beristri satu.

Kasyaf AlQina’ (11/148)

وقال الحجاوي : ” ويُسْتَحَبُّ أَنْ لَا يَزِيدَ عَلَى وَاحِدَةٍ إنْ حَصَلَ بِهَا الْإِعْفَافُ ؛ لِمَا فِيهِ مِنْ التَّعَرُّضِ لِلْمُحَرَّمِ ، قَالَ تَعَالَى : ( وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ) ، وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( مَنْ كَانَ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إلَى إحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ ) رَوَاهُ الْخَمْسَةُ

Alhijawy berkata: Disunnahkan tidak beristri lebih dari satu, bila itu bisa menjaganya karena disitulah ada penolakan terhadap sesuatu yang haram (zina). Allah Swt berfirman: Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, Nabi Saw bersabda: “Siapa saja yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.” (HR. Imam Lima)

Al M’any Al Badi’ah Fi Ma’rifati Ikhtilafi Ahlissyari’ah (195/2)

وقال جمال الدين الريمي (المتوفى سنة 792 هـ) :” عِنْدَ الشَّافِعِيِّ وكافة العلماء : يجوز للحرِّ أن يجمع بين أربع زوجات حرائر، ولا يجوز أن يجمع بين أكثر من أربع ، ويستحب أن لا يزيد على واحدة لا سيما في زماننا هذا! “.

Syaikh Jamaluddin Arroimy (wafat tahun 792 H) berkata: menurut Assyafi’i dan seluruh ulama, boleh bagi orang yang merdeka mengumpulkan 4 istri yang merdeka, dan tidak diperbolehkan mengumpulkan lebih dari empat, dan disunnahkan untuk tidak beristri lebih dari satu, apalagi di zaman sekarang ini.

Assyarh Almumta’ (12/4)

وقال الشيخ ابن عثيمين : ” وذهب بعض أهل العلم إلى أنه يسن أن يقتصر على واحدة ، وعلل ذلك بأنه أسلم للذمة من الجَوْرِ ؛ لأنه إذا تزوج اثنتين أو أكثر فقد لا يستطيع العدل بينهما ، ولأنه أقرب إلى منع تشتت الأسرة ، فإنه إذا كان له أكثر من امرأة تشتتت الأسرة ، فيكون أولاد لهذه المرأة ، وأولاد لهذه المرأة ، وربما يحصل بينهم تنافر ، بناء على التنافر الذي بين الأمهات ، كما هو مشاهد في بعض الأحيان ، ولأنه أقرب إلى القيام بواجبها من النفقة وغيرها ، وأهون على المرء من مراعاة العدل ، فإن مراعاة العدل أمر عظيم ، يحتاج إلى معاناة ، وهذا هو المشهور من المذهب” انتهى من “الشرح الممتع” (12/4).

Syaikh Ibn Utsaimin berkata: Sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa disunnahkan mencukupkan diri dengan satu istri, dan beralasan bahwa hal itu lebih menyelamatkan seseorang dari perbuatan tidak adil. Bila seseorang beristri dua atau lebih, maka sering tidak mampu bertindak adil diantara keduanya, (beristri satu) mencegah bubarnya keluarga. Bila seseorang beristri lebih dari satu, bubarlah kekeluargaannya. Jadilah anak ini dari ibu ini, anak itu dari ibu itu, maka sering terjadi perselisihan yag berakar dari perselisihan ibu-ibu mereka. Sebagaimana yang sudah kita saksikan di sebagian masa. (beristri satu) lebih dekat kepada pemenuhan kewajiban nafkah dan sebagainya, dan lebih ringan bagi seseorang untuk berbuat adil, padahal menjaga keadilan adalah sesuatu yang berat, butuh kesungguhan , dan inilah yang masyhur dari madzhab kita.

Jadi, poligami itu hukumnya boleh, mubah, bukan sunnah. Beristri satu itu lebih utama karena lebih menyelamatkan bagi kaum laki-laki. Namun bagi Anda yang tidak merasa cukup dengan istri satu, maka silahkan beristri dua, tiga atau empat, sampai Anda rasa cukup dan bisa merasakan ketenangan hidup, tapi jangan lupa berlaku adil, karena itu wajib.

Namun tidak usahlah mendorong-dorong orang untuk berpoligami, sampai ada kursusnya segala. Buat apa? Apakah Anda mau menanggung dosa orang yang nantinya tak berlaku adil? Harusnya Anda yang sudah berpoligami bilang begini: Adil itu berat, biar aku saja hehe.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *