Modernitas telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari teknologi, budaya, ekonomi, hingga pola pikir. Kehidupan modern memberikan kemudahan dan efisiensi, tetapi di sisi lain juga menimbulkan tantangan serius terhadap nilai-nilai spiritual, moral, dan sosial, termasuk bagi umat Islam. Dalam konteks ini, penting untuk memahami bagaimana Islam — sebagai agama yang universal dan relevan sepanjang masa — memberikan panduan bagi umatnya dalam menghadapi arus modernisasi tanpa kehilangan jati diri dan nilai keislaman.
Makna Modernitas dalam Konteks Kehidupan
Secara umum, modernitas dapat diartikan sebagai era perubahan yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, industrialisasi, serta cara berpikir rasional dan kritis. Era ini menuntut manusia untuk terus beradaptasi terhadap inovasi dan perkembangan baru. Namun, di balik segala kemajuan itu, modernitas juga membawa dampak sekularisasi dan individualisme yang berpotensi menggeser nilai-nilai religius dan spiritual.
Bagi umat Islam, modernitas bukan sesuatu yang harus ditolak secara total. Islam justru mendorong umatnya untuk berpikir maju, menuntut ilmu, dan berinovasi, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Rasulullah SAW bersabda:
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini menunjukkan bahwa kemajuan dalam ilmu dan teknologi adalah bagian dari perintah agama, bukan bentuk penolakan terhadap modernitas.
Tantangan Modernitas terhadap Kehidupan Umat Islam
Modernitas menghadirkan berbagai tantangan bagi umat Islam, baik dalam aspek akidah, ibadah, maupun moral sosial. Beberapa tantangan utama antara lain:
- Sekularisasi dan Krisis Spiritual
Salah satu dampak besar modernitas adalah pemisahan antara agama dan kehidupan dunia. Banyak orang mulai memandang agama sebagai urusan pribadi, bukan pedoman hidup yang menyeluruh. Akibatnya, nilai-nilai moral mulai tergerus oleh gaya hidup materialistis. - Hedonisme dan Konsumerisme
Budaya konsumtif yang ditampilkan di media modern membuat manusia berlomba-lomba mengejar kenikmatan duniawi. Fenomena ini bertentangan dengan ajaran Islam yang menekankan kesederhanaan (zuhud) dan keseimbangan antara dunia serta akhirat. - Krisis Identitas Generasi Muda
Generasi muda Muslim saat ini sering mengalami kebingungan antara mengikuti arus globalisasi dan mempertahankan nilai-nilai agama. Pengaruh media sosial, budaya pop Barat, dan gaya hidup modern sering kali menjauhkan mereka dari ajaran Islam. - Liberalisme dan Relativisme Moral
Dalam dunia modern, muncul pandangan bahwa semua kebenaran bersifat relatif dan setiap orang bebas menentukan nilai moralnya sendiri. Hal ini tentu bertentangan dengan Islam yang memiliki prinsip kebenaran absolut berdasarkan wahyu Allah SWT. - Kemajuan Teknologi yang Tidak Terarah
Kemajuan teknologi dapat menjadi alat dakwah, tetapi juga bisa menjerumuskan ke dalam kemaksiatan seperti penyebaran pornografi, fitnah, hoaks, dan ketergantungan digital yang berlebihan.
Islam sebagai Panduan dalam Menghadapi Modernitas
Islam tidak menolak modernitas, tetapi memberikan pedoman agar umatnya dapat berinteraksi dengan kemajuan zaman secara bijak. Prinsip utama yang perlu dipegang adalah “al-muhafazhah ‘ala al-qadim as-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah” — menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.
Berikut beberapa prinsip Islam dalam menghadapi tantangan modernitas:
- Berpegang Teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ma’idah ayat 3:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu menjadi agamamu.”
Ayat ini menegaskan bahwa Islam telah sempurna sebagai pedoman hidup manusia di segala zaman, termasuk di era modern. - Menjaga Akidah dan Nilai Moral
Akidah adalah fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Dengan akidah yang kuat, umat Islam tidak akan mudah terpengaruh oleh ideologi sekuler, ateisme, atau liberalisme yang merusak. - Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Bermanfaat
Islam menghargai ilmu pengetahuan. Dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11 disebutkan:
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
Namun, kemajuan ilmu harus diarahkan untuk kemaslahatan umat, bukan untuk kesombongan atau kerusakan. - Menjaga Etika dalam Dunia Digital
Dunia modern menuntut umat Islam untuk aktif di media sosial dan dunia maya, namun tetap dengan adab dan akhlak Islami. Seorang Muslim hendaknya tidak menyebar kebencian, fitnah, atau konten yang tidak bermanfaat. - Membangun Kemandirian Ekonomi Syariah
Salah satu cara menghadapi tantangan globalisasi ekonomi adalah dengan memperkuat ekonomi berbasis syariah, seperti perbankan syariah, zakat produktif, dan usaha halal. Ini membantu umat Islam untuk tetap maju tanpa bergantung pada sistem ribawi.
Islam sebagai Solusi atas Krisis Modernitas
Islam bukan hanya agama, melainkan sistem kehidupan yang komprehensif. Ketika modernitas menghadirkan krisis moral dan spiritual, Islam menawarkan solusi yang seimbang antara akal dan iman.
- Konsep Keseimbangan (Tawazun)
Islam menolak ekstremitas. Seorang Muslim diperintahkan untuk hidup seimbang antara dunia dan akhirat, akal dan hati, individu dan masyarakat. - Konsep Tanggung Jawab (Amanah)
Dalam Islam, kemajuan dan teknologi harus digunakan secara bertanggung jawab. Setiap nikmat ilmu, waktu, dan harta akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. - Konsep Kebersamaan (Ukhuwah Islamiyah)
Di tengah individualisme modern, Islam mengajarkan pentingnya solidaritas dan kerja sama dalam kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh; jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya.” (HR. Muslim).
Menuju Modernitas yang Beradab
Modernitas bukan ancaman jika dikelola dengan nilai Islam. Umat Islam perlu mengembangkan konsep modernitas beradab — yaitu modernitas yang didasarkan pada moral, spiritualitas, dan nilai kemanusiaan. Ini berarti menerima kemajuan teknologi, ekonomi, dan sosial, tetapi tetap menjaga nilai-nilai Islam sebagai landasan etika.
Pendidikan Islam juga berperan penting dalam membentuk generasi yang mampu menghadapi tantangan modernitas. Lembaga pendidikan harus menanamkan nilai-nilai akhlak dan tauhid, sekaligus membekali santri dan pelajar dengan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Kesimpulan
Islam dan modernitas bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan. Islam memberi kerangka moral dan spiritual agar umatnya tidak terjerumus dalam sisi gelap modernitas seperti materialisme dan sekularisme. Dengan berpegang teguh pada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah, umat Islam dapat menjadi pelaku utama dalam membangun peradaban modern yang beradab dan berkeadilan.
Modernitas harus dihadapi dengan ilmu, iman, dan amal. Dengan demikian, umat Islam tidak hanya menjadi pengikut arus zaman, tetapi juga menjadi pelopor kemajuan yang tetap berlandaskan nilai-nilai ilahiah.
Sumber:
- Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kemenag RI
- Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim
- Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin
- Yusuf al-Qaradawi, Islam dan Tantangan Modernitas (Cairo: Dar as-Syuruq, 1992)
- Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat
- Republika.co.id – “Islam di Era Modernitas” (2023)
- Suara Muhammadiyah – “Menyikapi Modernitas dalam Perspektif Islam” (2024)













