Zakat Fitrah dengan Uang, Bolehkah?

Posted by
87
views

Zakat fitrah dan Zakat Mal adalah kewajiban setiap muslim dan menjadi salah satu rukun Islam. Lalu bagaimana hukum zakat fitrah dengan uang?Mari kita baca uraian berikut:

Dalam sebuah hadits disebutkan

” ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه فرض زكاة الفطر على المسلمين صاعا من تمر أو صاعا من شعير ، وأمر بها أن تؤدى قبل خروج الناس إلى الصلاة ، أعني صلاة العيد . وفي الصحيحين عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كُنَّا نُعْطِيهَا فِي زَمَانِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ .

“Telah tetap bahwa Rasulullah Saw mewajibkan Zakat Fitrah untuk umat Islam satu saa’ dari kurma atau satu saa’ dari gandum, dan memerintahkan bahwa itu harus dibayar sebelum orang-orang keluar untuk berdoa, “maksud saya sholat Ied” Dalam Sohihain dari Abu Sa’id RA mengatakan: kita pada zaman Nabi, saw memberikan satu saa’ makanan, atau satu saa’ kurma, atau satu saa’ gandum, atau satu saa’ kismis.

Sejumlah ulama menafsirkan makanan dalam pembicaraan ini sebagai gandum, juga diartikan sebagai makanan  pokok apapun dari rakyat sebuah negeri, baik padi atau jagung atau gandum dan sebagainya.

Zakat fitrah ini diberikan dari orang kaya kepada orang miskin, dan tidak ada keharusan jenis makanannya selain makanan pokok. Dengan demikian dapat diketahui bahwa sama sekali tidak salah dengan membayar Zakat Fitrah dengan beras.

Satu saa’ didefinisikan sebagai empat genggam bahan pokok, dengan ukuran genggaman manusia secara umum. Ditaksir seberat sekitar tiga kilogram. Jika seorang muslim memberikan satu saa’ makanan pokok dari negaranya maka cukuplah baginya. Juga tidak salah bila mengeluarkan dengan dikira-kira seberat tiga kilogram.

Dalam Kumpulan Fatwa Syaikh Ibnu Baz (14/200) disebutkan: Ini adalah estimasi Syaikh Ibnu Baz RA bagi Zakat Fitrah dalam satuan berat, yaitu sekitar tiga kilogram.

Zakat Fitrah wajib dikeluarkan oleh semua muslim, kecil dan besar, laki-laki dan perempuan, merdeka maupun budak, selama dia beragama Islam. Untuk bayi dalam kandungan tidak wajib dikeluarkan, tetapi bila mengikuti sahabat Usman RA, sunnah dikeluarkan.

Semua zakat harus sudah dibagikan sebelum shalat Idul Fitri, dan tidak boleh ditunda sampai setelah shalat Idul Fitri.  Dan tidak masalah jika dikeluarkan satu atau dua hari sebelum Idul Fitri. Namun dari pendapat ilmiah para ulama, lebih utama mengeluarkannya pada malam pertama bulan Syawal. Boleh dibagikan setelah sholat Ied, tapi hukumnya makruh sampai waktu maghrib di hari itu.

قد ثبت عن ابن عباس رضي الله عنهما قَالَ : فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ . رواه أبو داود وحسنه الألباني في صحيح أبي داود

Zakat fitrah ini dikeluarkan untuk orang miskin dan yang membutuhkan. Dalam sebuah hadits dari Ibn Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda: Zakat Fitri adalah sebagai penyuci untuk orang yang berpuasa dari ucapan tak berguna dan kotor, dan sebagai makanan untuk orang miskin. Barangsiapa memberikannya sebelum shalat (Ied) maka itu zakat yang diterima, dan siapa pun yang membayar setelah doa, itu adalah semacam amal dari amal-amal sedekah. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan digolongkan sebagai hasan oleh al-Albani dalam Shahih Abi Daud.

Dari hadits ini juga bisa diambil istinbatul hukmi bahwa zakat fitrah khusus untuk fakir dan miskin. Jadi dari ashnaf 8, sebagian besar ulama berpendapat hanya 2 inilah yang berhak menerima zakat fitrah.

Lalu bagaimana hukum zakat fitrah dengan uang? Mayoritas ulama mengatakan tidak boleh, tapi harus dikeluarkan dalam bentuk makanan, seperti yang dilakukan Nabi Saw dan para sahabatnya. Di Indonesia, biasanya hal ini disiasati dengan penjualan beras oleh panitia zakat. Dan itu sah, asal beras itu benar-benar diakad jual beli, bukan cuma sebungkus takaran beras yang “seolah-olah” dijual dan pakai berkali-kali hanya sebagai “simbol”.

Wallohul Musta’an!

Comments

comments