Usulan Hari NKRI bukti PKS Bukan Pengusung Khilafah?

23
views

Hidayat Nur Wahid (HNW) usulkan 3 April Jadi Hari dan Bulan NKRI. Dia mengusulkan, selama satu bulan April bisa diadakan kegiatan untuk memperkuat NKRI seperti dialog lintas agama, lintas suku, dialog kebangsaan. Hari NKRI penting supaya NKRI bisa kokoh dan kuat.

Saya sangat terkesan. Kalau di lingkungan masyarakat jawa, HNW ini disebut kiyai jarkoni. Ujar ora iso nglakoni. Bisa ngomong tapi tak bisa melaksanakan. Pernyataannya sungguh kontradiktif dengan tindakannya. Kita tentu tak akan lupa siapa yang sangat dominan memainkan politik identitas di Indonesia. PKS dan konco-konconya lah yang membuat politik di Indonesia serba kisruh dan ruwet. Politik yang membawa agama sebagai jualannya sukses memecah belah Indonesia sampai akar rumput. Lalu dia teriak-teriak hari NKRI?

Pernyataan HNW ini seperti hacker pembuat virus yang koar-koar pemberantasan virus sambil menyebarkan virusnya melalui antivirus yang dibagikan. Konyol bukan?

Kenyataan ini hampir setali tiga uang dengan kabar Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri yang “kaget” isu khilafah dimunculkan. Sambil menepis anggapan pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pro khilafah dia menantang pembuktian: ” Siapa coba tunjukkan. Kalau ada yang bertentangan tunjukkan, siapa mereka, dari partai koalisi itu siapa” .

Tulisan ini jelas bukan untuk membuktikan tantangan Habib Jufri ini. Juga bukan menegasikan pernyataan HNW. Namun, izinkan saya menelusuri asal-usul PKS tempat beliau berdua bernaung. Agar tidak seperti maling, eh bukan, hansip teriak hansip deng hehe.

Sejarah kelahiran PKS di Indonesia tak bisa lepas dari organisasi trans nasional dari Timur Tengah yang bernama Ikhwanul Muslimin (IM). Kebetulan elit-elit PKS banyak yang jebolan Arab Saudi dan Mesir. Benang merah antara PKS-Indonesia dan Ikhwanul Muslimin-Mesir bahkan Wahabi-Arab Saudi itu sekarang coba disamarkan, bahkan dihapus. Namun pernyataan Syekh Yusuf al Qardhawi, ulama besar Mesir yang kini menetap di Qatar dan merupakan ulama rujukan IM justru menyebutkan bahwa Partai Keadilan Sejahtera adalah perpanjangan tangan Ikhwanul Muslimin di Mesir.

Lihatlah kaderisasi berbentuk ushroh-ushroh atau liqo’, yaitu kelompok-kelompok kecil yang dimentori oleh seorang murobbi. Model liqo’ ini jelas wujud copy-paste konsep pengkaderan IM. Kelompok kecil inilah yang rutin mengadakan pengkajian nilai-nilai pemikiran dan perjuangan Hasan Al-Banna, Yusuf Al Qardhawi, Sayyid Qutub, Muhammad Abduh, Jamaludin Al-Afghany dan tokoh-tokoh IM lainnya. Inti ajaran mereka adalah Islam yang kaffah dan terpadu.

Kaderisasi model ini terkenal dengan sebutan gerakan Tarbiyah di tahun 80-an. Gerakan Tarbiyah ini mampu menguasai kampus-kampus terkemuka seperti ITB, IPB, UI, UGM, Unpad, Unair, Unbraw dan Unhas. Mereka menyusupkan ideologinya melalui asistensi mata kuliah wajib Agama Islam.

Pemikiran tokoh-tokoh IM itu sudah pasti berbenturan dengan konsep Islam-Indonesia hasil pemikiran tokoh-tokoh Islam Indonesia seperti Tjokroaminoto, Soekarno, Tan Malaka, Natsir, Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, HAMKA, atau Agus Salim. Bahkan menurut Sayyid Quthb, negara wajib hukumnya menjalankan syariat Islam. Secara kaffah, menyeluruh. Jika ada pemerintah muslim yang mengabaikan kewajiban menjalankan syariat Islam ini, dianggap telah keluar dari akidah Islam dan layak diperangi.

Reformasi 1998 yang menyebabkan tumbangnya rezim ORBA membuat gerakan ini menemukan momentum terbaiknya. Qiyadah-qiyadah mereka memutuskan membentuk sebuah partai. Merekalah embrio partai politik yang diberi nama Partai Keadilan saat itu. Saya masih ingat, deklarasi PK di masjid Al-Azhar Jakarta, dihadiri lautan massa dengan jilbab putih lebar, yang kemudian menjadi ciri khas akhwat PKS. Banyak orang heran, darimana massa sebanyak itu? Mereka tidak tahu, embrio partai ini sudah lama berkembang di dalam perut Ibu pertiwi Indonesia. Ketika kelak lahir, bayi inilah yang melukai ibu pertiwi dengan politik identitasnya. Ironis bukan?

Nah dari penelusuran sejarah kelahiran PKS di atas, silahkan disimpulkan, apakah PKS pro NKRI, atau pengusung khilafah?

Comments

comments