Ulama Masa Kini Lebih Hebat?

Posted by
31
views

Saya heran dan takjub melihat tingkah laku “ulama” jaman sekarang. Begitu pedenya mendalil sambil menyalahkan pendapat ulama- ulama yang terdahulu.

Mereka merasa ilmunya sudah begitu tinggi? Merasa bahwa hadits-hadits yang mereka baca, belum pernah dibaca ulama terdahulu? Ulama jaman dulu kurang teliti ijtihadnya, sehingga hadits yang sangat penting luput dibaca?

Gerakan kembali ke Qur’an dan Hadits digelorakan. Mengikuti pendapat ulama hanyalah untuk orang bodoh. Untuk kelas “ulama” seperti mereka, wajib hukumnya mengambil langsung dari qur’an dan hadits.

Lalu muncullah hukum-hukum baru: kotoran kucing tidak najis, qurban satu kambing bisa untuk orang banyak, rokok haram, isbal (memanjangkan celana sampai mata kaki) haram, memanjangkan jenggot wajib, shalat jama’ah wajib ‘ain bagi setiap muslim laki-laki, dan masih banyak lagi.

Memang hukum “baru” ini ada beberapa yang berakibat baik. Contohnya sholat jamaah jadi ramai, masjid makmur. Orang tak mampu 10 orang mau iuran qurban kambing satu. Celana jadi hemat bahan.

Tapi, bila orang awam meyakininya, akibatnya bisa sadis. Tak jamaah sholat tak sah, ketinggalan jamaah gak sholat. Cukur jenggot haram. Celana melebihi mata kaki, sholat gak sah. Rokok kakek dibuang, alasannya menyelamatkan dari barang haram. Satu kampung kurban cuma satu. Tai kucing tak dibersihkan, tak najispun.

Yang terakhir ini malah saya tak faham, istinbath hukumnya darimana. Atau mengikuti pendapat siapa. Setahu saya, madzhab Hanbali memang menganggap kotoran hewan tidak najis, tapi yang dagingnya halal dimakan. Tai ayam itu tidak najis menurut Imam Hanbali, tapi najis menurut Imam Syafi’i. Kalau tai kucing? Ya menurut keduanya najis.

Itu baru contoh-contoh yang kebetulan saya ingat. Kenyataannya jauh lebih banyak lagi.

“Ulama” ini tak mau mengikuti hukum baku yang telah menjadi ijma’ ulama terdahulu. Bukan ijtima’ ulama (kumpulan ulama) lho ya, beda.

Mereka tak sadar, hukum kajian ulama yang telah dibukukan dalam kitab-kitab klasik adalah hasil kajian mendalam, dari kedalaman ilmu mereka. Dihasilkan dari kebersihan hati, semata-mata mencari ridho Alloh. Ulama yang terkenal keshalehannya, kezuhudannya. Nihil kepentingan dunia.

“Ulama” masakini, apalagi masih muda. Motif dunia jelas masih kental. Buktinya, berlomba-lomba tampil di youtube dan televisi biar terkenal dan jadi selebriti. “Ulama” tapi selebriti, suka memamerkan kekayaan dunia. Yang seperti itu mau mengeluarkan fatwa? Ah yang bener aja.

Dari gaya hidup saja tak mencerminkan kezuhudan, apalagi dibandingkan level ilmu agamanya. Jauh sekali.

Apakah mereka tak merenungi hadits berikut?

خَيْرَ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).

Yang dimaksud pada masaku dalam hadits diatas adalah para Sahabat Nabi, generasi selanjutnya adalah Tabi’in dan generasi selanjutnya yaitu Tabi’ut tabi’in. Itulah generasi terbaik dari umat Islam.

Tiga generasi umat Islam terbaik diatas, mereka adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat paling mengetahui dan paling benar dalam memahami Islam. Mereka juga adalah para pendahulu dari umat Islam yang memiliki keshalihan yang paling tinggi (Salafus shalih) .

Jadi kualitas ulama akan semakin buruk, dari waktu ke waktu. Pemahaman ulama sekarang lebih rendah daripada gurunya. Gurunya juga tak akan lebih faham dari gurunya dahulu, begitu seterusnya.

Itupun kalau berguru. Banyak yang cuma bermodal Qur’an dan Hadits terjemahan sudah berani berfatwa.  Sungguh benar sabda Nabi berikut ini:

إِنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيْرٍ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيْلٍ خُطَبَاؤُهُ، قَلِيْلٍ سُؤَّالُهُ، كَثِيْرٍ مُعْطُوهُ، الْعَمَلُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ. وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيْلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيْرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيْرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيْلٌ مُعْطُوهُ،الْعِلْمُ فِيْهِ خَيْرٌمِنَ الْعَمَلِ

“Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang fuqahanya (ulama) banyak dan penceramahnya sedikit, sedikit yang minta-minta dan banyak yang memberi, beramal pada waktu itu lebih baik dari berilmu. Dan akan datang suatu zaman yang ulamanya sedikit dan penceramahnya banyak, peminta-minta banyak dan yang memberi sedikit, berilmu pada waktu itu lebih baik dari beramal.” (HR. Ath-Thabrani).

Sepertinya zaman yang disabdakan Nabi itu sudah tiba. Banyak yang disebut ulama hanya karena pinter ngoceh di mimbar. Semangat menyampaikan walau satu ayat, sungguh luar biasa. Sampai ayat yang belum dipelajari disampaikan juga. Sehingga berfatwa ngawur tanpa ilmu. Wallahu’a’lam.

Comments

comments