Teroris lahir dari Fanatisme dan Kebencian

Posted by
9
views

Christcurch, dari namanya saja, kita tahu lingkungan seperti apa negeri di New Zealand ini. Gereja Kristus, seperti juga serambi mekah. Di Indonesia. Menunjukkan dengan jelas identitas sebuah kawasan.

Namun serambi mekah hanyalah julukan, nama resminya Nangroe Aceh Darussalam. Beda dengan Christcurch. Benar-benar nama resmi kota di bagian selatan pulau New Zealand.

Namun, jangan membayangkan Christcurch melarang agama lain ada disana. Nyatanya ada beberapa masjid. Beberapa pejabat publik juga muslim. Jadi kota ini sepertinya sudah dewasa dalam urusan bertoleransi.

Christcurch mendadak populer, setelah aksi seorang teroris fanatik, ekstrimis kanan dengan tenangnya menembaki orang muslim yang sedang sholat Jum’at. Disiarkan live di fb nya. Bak game online Pointblank. Yang populer jaman saya (muda) dulu. Ternyata memang terilhami dari game PUBG.

Dari video yang beredar, orang ini memang dingin. Dua kali masuk ke masjid yang sama. Sambil kembali menembaki mayat-mayat yang tumbang. Siapa tahu masih ada yang hidup. Bahkan seorang wanita yang tersungkur sekarat, merintih, dihabisinya dengan tembakan kedua.

Yang mengherankan adalah, kenapa teroris ini begitu dinginnya membunuhi orang. Benar-benar seperti sedang main game.

Tak terbayang betapa kebencian sudah mengakar dalam hatinya. Menurut pengakuannya, teroris ini benci imigran. Yang mayoritas muslim. Dan tak rela tanahnya direbut pendatang. Kelestarian ras kulit putih menjadi alasan kebiadabannya.

Tampaknya sebuah twit dari Gus Mus: Teror lahir dari fanatisme dan kebencian yang dipelihara dan dipupuk, benar adanya.

Saya yakin, fanatisme ras dan kebencian terhadap muslim secara kontinyu ditumbuhkan dan dipupuk dalam diri orang ini.

Fanatisme dan kebencian yang berlebihan bisa menimpa siapa saja kepada siapa saja. Bila ada komunitas yang mendukungnya. Bila terus dipupuk, fanatisme dan kebencian ini akan melahirkan radikalisme dan terorisme.

Itulah yang akhir-akhir ini terjadi di negara kita. Fanatisme kelompok, dan pupuk kebencian kepada kelompok lain terus menerus digelorakan. Bahkan sampai di mimbar-mimbar khotbah Jum’at, mimbar-mimbar pengajian dan majlis taklim. Bahkan menghujat kelompok lain dianggap keren dan berpahala.

Pemilu dan pilpres semakin panas karena ulah mereka ini. Seolah kelompok mereka paling hebat, paling suci, paling jujur. Indonesia akan kiamat bila mereka kalah. Bahkan berani mengancam Tuhan.

Hei, ini cuma pemilu Bung! Bukan perang!

Comments

comments