Tawakkal, Takdir dan Usaha

10
views

Semua saya serahkan kepada Tuhan. Saya tawakkal saja. Apapun takdir yang diberikan Tuhan akan saya terima dengan ikhlas.

Kalimat di atas sepertinya benar, dan banyak kita temui diucapkan dalam keseharian kita. Tapi tunggu dulu. Kalimat itu akan benar bila diucapkan dan diyakini setelah berusaha. Kalau belum berusaha sudah pasrah dan tawakkal itu melecehkan Tuhan namanya.

Seperti ucapan Bani Israil ketika diperintah untuk masuk suatu kota dan memerangi penduduknya: Wahai Musa, pergilah kamu dan Tuhanmu berperang. Sementara kami duduk-duduk disini menunggu. Kurang ajar bukan?

Alloh menganugerahi kita akal untuk digunakan. Akal akan menuntun kita ke kiri atau ke kanan. Menganalisa kemungkinannya, sebab akibatnya. Kemudian akal kita memerintahkan otak sebagai pengendali anggota tubuh untuk bertindak.

Jadi kalau belum-belum sudah tawakkal, apa bedanya manusia dengan makhluk lain? Manusia bisa lebih tinggi dari malaikat atau lebih rendah dari binatang. Tergantung bagaimana memakai akalnya.

Jadi kita ini bukan seperti wayang yang dimainkan dalang. Yang tak berdaya dan tak bergerak bila tak digerakkan dalang. Keyakinan wayang-dalang ini dalam ilmu tauhid disebut jabbariyah.

Kata Jabbariyah berasal dari kata “jabbara” atau “tajbir” yang artinya memaksa. Pencetusnya adalah Jaham bin Shofwan. Menurut Jaham, seluruh aspek hidup manusia sudah ditentukan oleh takdir. Manusia terpaksa atau dipaksa menerimanya. Tak ada usaha atau pilihan manusia yang bisa mempengaruhi takdir ini.

Pandangan Jabariyah ini didasarkan penafsiran yang dangkal dari ayat Al-Qura’n berikut:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Dan Allah menciptakan kamu dan perbuatan kamu. (QS. 37:96)

Berdasar ayat ini, Jabbariyah menganggap semua perbuatan manusia telah diciptakan oleh Allah. Jadi sudah ada skenario lengkap kehidupan kita dari bayi sampai mati. Sudah ditentukan kita ini kaya atau miskin, sorga atau neraka.

Lha kalau kita ini wayang, untuk apa Alloh memberi kita akal? Keyakinan ala jabbariyah, padahal kita punya akal, akan membuat akal disalahgunakan. Manusia akan cenderung hidup seenaknya. Dan karena manusia juga dikaruniai nafsu, sebagai wujud “kebinatangan” kita, maka nafsu akan lebih dominan menguasai manusia jabbariyah.

Bayangkan, manusia akan malas berusaha, malas berbuat baik, dan cenderung mengikuti nafsunya. Untuk apa berusaha? Toh kalau takdirnya kaya, pasti kaya. Untuk apa berbuat baik? Toh kalau takdirnya masuk surga, pasti masuk surga. Rusak tatanan kehidupan ini jadinya. Manusia akan tak beradab.

Hidup kita ini seperti labirin yang luarbiasa banyaknya, yang masing-masing terhubung satu sama lain. Dalam tiap pintu labirin itu ada panduan dan peringatan. Manusia diperintahkan menggunakan akalnya untuk memilih. Pilihan masuk pintu mana, akan mempengaruhi dimana keluarnya. Ada juga pintu yang membutuhkan persyaratan tertentu untuk membukanya. Tak memenuhi syarat, pintu tertutup. Labirin inilah takdir. Akal akan menuntun kita menuju takdir yang mana. Baik atau buruk.

Wallahu’a’lam.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *