Tanamlah Padi, Pasti Tumbuh Rumput!

Posted by
42
views

Tak tandur pari, jebul tukule malah suket teki…

Lirik langgam campursari di atas begitu populer. Dari mbah-mbah sampai balita mengenalnya. Itulah hebatnya suket teki (sejenis rumput). Tak ditanam aja bisa tumbuh. Ya, walaupun maksud lagu itu sebenarnya adalah air susu yang dibalas air kobokan. Nelongso ya hehe.

Mungkin Anda pernah mendengar petuah orang-orang jawa zaman dulu ini: nanduro pari, mesti tukul suket, ojo nandur suket, ora bakal tukul pari. Tanamlah padi, pasti tumbuh rumput. Jangan tanam rumput, tak mungkin tumbuh padi.

Maksudnya? Padi adalah akhirat, rumput adalah dunia. Jadikanlah akhirat sebagai tujuan. Apapun yang kita lakukan. Niscaya urusan keduniaan akan mengikuti. Otomatis.

Dalam kitab *Al-Majalisus Saniyyah (اَلْمَجَالِسُ السَّنِيَّةُ)* halaman 569 terdapat keterangan sebagai berikut:

وَفِيْ خَبَرِ أَحْمَدَ وَالتُّرْمُذِيِّ وَابْنِ مَاجَهَ: مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَمَعَ اللّٰهُ شَمْلَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ شَتَتَ اللّٰهُ شَمْلَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ

Di dalam hadits [riwayat] Imam Ahmad, Imam Turmudzi dan Imam Ibnu Majah [disebutkan]: _“Barang siapa yang akhirat menjadi tujuannya/cita-citanya, maka Alloh akan mengumpulkan kembali hal yang berserakan darinya, menjadikan kekayaannya berada di dalam hatinya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tunduk lagi terhina. Dan barang siapa yang dunia menjadi tujuannya, maka Alloh akan menceraiberaikan hal yang telah dikumpulkan olehnya, menjadikan kefaqiran berada di hadapannya dan dunia tidak akan mendatanginya melainkan apa yang telah ditakdirkan untuknya”

Tapi, ya ini susahnya. Tujuan itu kan bagian dari niat. Niat ada di dalam hati. Padahal kita hidup di dunia. Yang tampak di depan mata ya urusan dunia itu. Jadi, perlu melatih diri terus menerus agar akhirat menjadi tujuan kita. Karena itu tak mudah.

Ada yang sepertinya amalan akhirat tapi ternyata tujuannya dunia. Ada juga sebaliknya. Sepertinya amalan dunia, tapi tujuannya akhirat.

Ada seorang pengusaha yang berhutang miliaran ke bank untuk pengembangan usahanya. Tiap hari tak lepas dari sholat tahajjud, sholat hajat, sholat dhuha. Dia senantiasa berdoa agar usahanya lancar dan hutangnya lunas.

Apakah pengusaha ini bertujuan akhirat dalam sholat-sholatnya? Dikhawatirkan tidak. Tapi itu tergantung bagaimana pengusaha ini mengelola hatinya.

Sahabat Ali RA pernah berkata :

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً ، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ

Kehidupan dunia bergegas menjauh, sedang akhirat kian mendekat, dan masing-masing memiliki pengikut, maka jadilah pengikut akhirat, serta janganlah engkau menjadi pengikut dunia. Karena sejatinya sekarang ini adalah waktu untuk beramal tanpa ada hisab, sedangkan esok (di akhirat) adalah waktu hisab dan bukan beramal. [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 8/155]

Dunia atau akhirat? Tergantung bagaimana kita mengelola hati kita. Mari dilatih untuk selalu bertujuan akhirat. Pasti kesuksesan dunia akan mengikuti. Pasti!

Comments

comments