Susahnya Mengajar Fiqh Jaman Now

15
views

Di lingkungan NU, kitab “Almabadi Alfiqhiyah” sangat populer digunakan dalam pengajaran fiqh dasar. Dalam kata pengantar dari pengarangnya, kitab ini diperuntukkan khusus untuk madrasah dan pondok pesantren Indonesia. Tapi dikarang oleh seorang allamah dari Saudi, Al-ustadz Umar Abdul Jabbar.

Sengaja saya sebut allamah, sebutan untuk orang yang sangat alim, sangat tinggi ilmunya. Untuk menyelisihi kata ulama di Indonesia. Di Indonesia disebut ulama, maksud sebenarnya ya allamah itu. Padahal ulama itu kata jamak dari alim. Ulama berarti orang-orang alim. Jadi mana mungkin ada ulama tapi cuma seorang? Tapi ya itulah. Kata serapan tapi kok salah kaprah. Jauh dari arti kata bahasa asalnya.

Di masa lalu, karena terbatasnya informasi, santri akan menerima apa saja yang disampaikan guru atau kiyainya. Tanpa reserve!

Hal ini, walaupun memunculkan taklid, memudahkan guru untuk mengajarkan satu madzhab saja. Karena di tingkat dasar, mengajarkan banyak pendapat ulama tentu membingungkan anak didik.

Lain halnya di masa kini, dimana arus informasi begitu deras. Saya yang mencoba mengajarkan “Almabadi Alfiqhiyah” justru kagum tapi juga khawatir dengan santri jaman now.

Murid-murid madrasah diniyah di kampung saya dari latarbelakang yamg berbeda-beda. Ketika saya ajarkan Mabadi Fiqh juz 2, tentang do’a qunut, ada yang bertanya: bagaimana bila tak baca do’a qunut seperti Muhammadiyah? Sah tidak sholatnya Pak?

Karena kebetulan pertanyaannya masih nyambung dengan isi kitab, saya kembalikan ke mereka jawabannya. Dan, jawabannya menggembirakan: sah, karena doa qunut hukumnya sunnah ab’adh. Bila ditinggalkan disunnahkan sujud sahwi.

Lalu saya tanya lagi: bagaimana bila sujud sahwi tak dilakukan juga? Jawaban mereka: sah, karena sujud sahwi itu sunnah.

Saya kagum, karena mereka sudah bisa melakukan istinbath hukum. Walaupun kecil-kecilan. Sebuah hal yang positif dan menggembirakan.

Namun, ketika membahas tentang najis, yang muncul justru kekhawatiran. Menurut Imam Syafi’i semua kotoran yang keluar dari binatang itu najis mutawashitoh. Tapi ada yang pernah melihat di youtube, kotoran kucing tidak najis. Wah, ini sih bingung menjelaskannya. Harus pula mendegradasi penilaian terhadap seorang tokoh. Mau bagaimana lagi. Memang salah.

Contoh lain tentang bersentuhan kulit pria dan wanita yang bukan muhrim. Menurut Imam Syafi’i itu membatalkan wudlu. Padahal ada situs terkenal yang memfonis itu tidak batal.

Memang diperlukan kreatifitas untuk mengatasi itu. Saya pun akhirnya sering menambahkan ” menurut Imam Syafi’i” bila membahas hal-hal khilafiah.

Yang saya takutkan adalah, mereka mencampuradukkan pendapat para ulama itu dalam satu rangkaian ibadah. Yang justru membuat tidak sah ditinjau dari semua madzhab. Repot kan?

Contohnya begini. Setelah berwudlu, mereka bersentuhan laki dan perempuan yang bukan muhrim. Lalu yang perempuan shalat dengan punggung telapak tangan terbuka.

Menurut Imam Hanafi, bersentuhan kulit itu tak membatalkan wudhu, tapi aurat wanita dalam shalat termasuk punggung telapak tangan. Sedangkan menurut Imam Syafi’i, bersentuhan kulit itu membatalkan wudhu, walaupun aurat wanita tak termasuk punggung telapak tangan.

Akhirnya, shalatnya tidak sah, ditinjau dari kedua madzhab.

Intinya, pengajaran masalah fiqh pada tingkat dasar, sudah seharusnya diajarkan hanya satu madzhab saja. Agar praktis, cepat, efisien dan aplikatif. Karena membicarakan tentang perbedaan pendapat di kalangan ulama hanya akan menimbulkan kebingungan buat mereka yang masih baru belajar.

Belajar fiqh dengan perbandingan madzhab bisa diajarkan di kelas lanjutan untuk menambah wawasan dan menghindari fanatisme madzhab.

Wallahu’a’lam.

Comments

comments

One thought on “Susahnya Mengajar Fiqh Jaman Now

  • April 6, 2019 at 3:59 am
    Permalink

    sangat bermanfaat sekali ilmunya, terimakasih telah berbagi ilmu

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *