Stempel Rasulullah, ISIS dan HTI

Posted by
13
views

Anda yang sudah nyantri puluhan tahun, kuliah di UIN, belajar dari pondok ke pondok, belum tentu tahu bentuk stempel Rasulullah. Juga belum tentu pernah membaca hadits tentang liwa’ atau rayah. Dua bendera hitam dan putih yang sering menimbulkan polemik itu.

Namun, beberapa hari saja Anda ikut “ngaji”  kajian-kajian HTI, simbol-simbol di atas akan terpatri di pikiran Anda.

Tahu bedanya kan?

Kelompok-kelompok Islam garis keras itu lebih mengutamakan kulit. Doktrin tentang kejayaan Islam, fanatisme kelompok, simbol-simbol yang harus dibela dan tema negara Islam akan menjadi menu pokok kajian mereka.

Mereka melupakan isi yang jauh lebih penting digarap. Kajian tentang fikih yang komprehensif, tauhid, bahkan membaca Alqur’an saja seringkali mereka abaikan. Tak heran, di sekitar kita muncul orang-orang fanatik, sok pintar, berbusa-busa membahas kemunduran Islam masakini, kejayaan Islam bila khilafah tegak, tapi membaca Al-Qur’an saja tidak bisa.

Orang-orang seperti inilah yang membuat wajah Islam di negara kita ini semakin sangar saja. Mereka taklid kepada kata ketua kelompoknya tanpa punya ilmu untuk mencernanya.

Saya justru khawatir, seandainya suatu saat cita-cita mereka terwujud: terbentuknya sebuah negara khilafah, entah dimana, justru akan membuat mereka gagap. Kenapa?

Bangunan mereka itu rapuh. Fondasi keimanan dan keislaman anggotanya tak diperkuat. Mereka memandang banyak hal sebagai kulit saja. Bahkan saya khawatir perjuangan mereka tidak ada nilainya di akhirat kelak. Militansi yang dibangun hanya berdasarkan fanatisme. Bahkan lebih buruk: berdasarkan sakit hati dan dendam.

Mujahid yang syahid dalam perang saja, misalnya, tak akan mendapat pahala apa-apa bila didasari kebencian. Bukan ikhlas karena Alloh. Li’i’la’i kalimatillah.

Terkuaknya situasi di dalam ISIS mengungkap banyak hal. Bahwa baldatun thoyyibatun warabbun ghafur itu jauh sekali. Khilafah yang hanya kulit, dengan mencampakkan intinya justru membuat ISIS tak berperi kemanusiaan. Apalagi berkeimanan.

Bukankah inti khilafah adalah tegaknya kalimah Alloh? Berarti tegaknya syariat, tegaknya keadilan, kedamaian dan kemakmuran? Lalu mengapa perbuatan kaum jahiliah merajalela? Pemenggalan kepala, pemerkosaan, pemaksaan nikah, berlakunya kembali perbudakan, bahkan diabaikannya semua hukum syariat dengan alasan masih masa harb, belum futuh, menunjukkan bahwa nafsu duniawi masih dominan disana. Apakah mereka mengira Alloh dan Rasulnya meridhoi mereka? Jauh sekali saudaraku.

Padahal stempel Rasululloh menjadi salah satu unsur bendera ISIS. Tulisan kalimah tauhid dengan khat (font) mengikuti stempel Rasul itu sudah kadung memberi kesan bengis dan barbar kepada seluruh dunia. Mereka sudah mengotori kesucian dan keagungan stempel keramat itu.

Begitu juga dengan HTI. Liwa’ dan rayah sudah mereka politisasi sedemikian rupa. Padahal bentuk khat yang mengikuti gaya bendera Saudi Arabia itu karangan mereka sendiri. Kesan keras kepala dan merasa benar sendiri itu sudah kadung melekat.

Begitulah, kulit yang mereka banggakan justru telah mengaburkan isi dan inti ajaran Islam: akhlak yang luhur dan kedamaian untuk semua.

Comments

comments