Sila Pertama Pancasila, Brilliant!

Posted by
3
views

Ki Bagus Hadikusumo, nama yang mungkin kurang begitu dikenal. Padahal karena jasa beliaulah Indonesia tetap utuh. Tak ada lagi “ancaman” dari tokoh-tokoh Indonesia timur untuk memisahkan diri. Beliaulah, bersama Mohammad Hatta, Kasman Singodimejo dan KH Wahid Hasyim, aktor kompromi “hebat” yang melahirkan sebuah kalimat brilliant: Ketuhanan Yang Maha Esa.

Hari ini, 74 tahun yang lalu, BPUPKI, sebuah lembaga bentukan Jepang , mau tak mau harus lebih serius mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Maka dikumpulkanlah tokoh-tokoh sekuler dan nasionalis agama di Indonesia. Kedua kelompok inilah yang dianggap mewakili tarik menarik kepentingan saat itu.

Terbentuklah tim 9 yaitu: Ir Sukarno, Mohammad Hatta, Mr AA Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, H Agus Salim, Mr Achmad Subardjo, KH Wahid Hasyim, dan Mr Muhammad Yamin.

Pada 22 Juni, mereka  berhasil membuat naskah pembukaan undang-undang dasar dan rumusan dasar negara yang hebat itu: Pancasila

Namun, di kemudian hari, Pancasila yang memuat kata-kata dalam Piagam Jakarta ini menuai polemik.

Pada 17 Agustus, Mohammad Hatta  (ditulis dalam autobiografinya, Mohammad Hatta: Memoir (1979)), kedatangan seorang opsir Angkatan Laut Jepang (Kaigun). Kaigun ini berkuasa di wilayah Indonesia timur plus Kalimantan.

Kaigun ini mengungkap bahwa wakil-wakil Protestan dan Katolik, yang tinggal di wilayah Indonesia Timur, sangat keberatan dengan bagian kalimat dalam pembukaan Undang-undang Dasar, yang berbunyi: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Dan bila tidak diubah, mereka memilih berada di luar Republik Indonesia.

Cotho, kata orang Jawa.

Negara yang baru berdiri sehari ini terancam terpecah. Pisahnya Indonesia timur sama saja memperlemah Republik Indonesia.

Padahal ancaman tentara Sekutu di depan mata kala itu. Kasman,  seorang tokoh Muhammadiyah yang juga perwira PETA langsung setuju sila pertama itu diubah. Kasman sadar bahwa kekuatan persenjataan Indonesia tidak cukup mumpuni menghadapi Sekutu. Apalagi harus kehilangan Indonesia Timur.

Maka jadilah Kasman Singodimejo ini jembatan lobi antara Mohammad Hatta dan Kibagus Hadikusumo yang masih ngotot dicantumkannya tujuh kata Piagam Jakarta itu.

Maka, sebelum Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dimulai, Hatta, Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Kasman Singodimedjo dan Teuku Hasan (wakil dari Soekarno) dari Sumatera mengadakan rapat pendahuluan untuk membicarakan masalah itu.

Akhirnya, Ki Bagus Hadikusumo setuju, dengan syarat: tambahan kata “Yang Maha Esa” setelah “Ketuhanan”.

Mengapa kata ” Yang Maha Esa” itu brilliant? Mari kita resapi kata itu. Bukankah itu inti dari surat Al Ikhlas? Bahwa Tuhan itu satu? Bahwa, hanya ummat Islam kan yang Tuhannya cuma satu?

Jadi, tetap saja ummat Islam dimenangkan dalam hal ini. Berterimakasihlah kepada Ki Bagus Hadikusumo. Tak usah meributkan kulit. Tak usahlah meributkan Piagam Jakarta itu. Bersyukurlah kepada Alloh, atas anugerah Pancasila yang luarbiasa itu.

Sugih tanpa Bandha, Digdaya tanpa Aji, Nglurug tanpa Bala, Menang tanpa Ngasorake

Kaya tanpa Harta, Sakti tanpa jimat, Menyerang tanpa pasukan, Menang tanpa merendahkan.

Benar-benar brilliant!

Comments

comments