Rivalitas NU-PKS, Siapa tumbang?

30
views

NU dan PKS sebenarnya tidak pantas dibandingkan. Seperti apel dan mentimun. Atau tomat dan merica. Beda klasifikasi dan bentuknya.

Tapi realitas di lapangan, membuat perbandingan itu mungkin. Benturan PKS dengan NU di akar rumput sangat sering terjadi.

PKS memang partai politik, tapi tingkah laku kadernya di masyarakat lebih mirip ormas. Bahkan kabarnya, Jaringan Sekolah Islam terpadu berada di bawah kekuasaan partai Islam ini.

Dulu, saya termasuk yang kesengsem dengan partai ini. Tampilan elit-elitnya islami. Bersih, profesional, dan didominasi kaum muda. PKB, yang representasi NU pun tak sebanding saat itu. Tak heran banyak kaum muda NU menjadi aktifis dan simpatisan PKS.

Namun seiring berjalannya waktu pesona PKS semakin pudar. Citra sebagai partai islami yang hebat dirusak oleh kadernya sendiri.

Dulu, PKS dianggap sebagai harapan baru di tengah budaya korupsi partai besar. Namun kasus korupsi LHI  menghancurkan harapan itu. Malah kasus itu menghasilkan plesetan baru : Partai Korupsi Sapi.

Bahkan akhir-akhir ini kelakuan mesum seorang caleg PKS juga meluluhlantakkan citra partai islam ini.

Akhirnya, publik pun sadar. PKS tak ubahnya partai lain. Setali tiga uang. Walaupun diembel-embeli label partai dakwah.

Ambisi berkuasa dan tingkah laku elitnya sama saja dengan partai politik lain. Malah, kemunculan FH di jajaran pimpinan DPR menimbulkan kesan nyinyir dan selalu menyalahkan pemerintah, tanpa pernah punya solusi.

Yang lebih parah, politik nyinyir dan nir akhlaq seolah menjadi trade mark baru PKS. Ontran-ontran kadernya di dunia maya yang tanpa malu menyebar fitnah dan hoax tanpa tabayun menjadi awal terjadinya perang di medsos.

Setelah Gus Yahya, kini giliran KH. Said Aqil Siraj (SAS) yang menjadi sasaran fitnah mereka. Segala komentar SAS menjadi bahan bully dan gorengan kader-kader mereka. Seolah mereka menikmati itu.

Lihatlah wabah berpose selfie dua jari di depan capres 01 yang marak beredar belum lama ini. Juga sebuah video, dimana Jokowi dan Anies berjalan beriringan, yang kelihatan sekali berusaha mempermalukan Jokowi.  Dengan mengelu-elukan Anies. Pantaskah hal itu dilakukan muslim yang berakhlak?

Apapun jadinya, sejarah telah mencatat, bahwa NU, walaupun bukan partai politik, mampu menempatkan kader-kadernya di pucuk pemerintahan negeri ini.

Pilpres 2019 menjadi medan pertempuran nyata NU versus PKS. Kader NU menjadi cawapres 01, PKS mendukung 02. Kita lihat nanti, siapa tenggelam?

Comments

comments