Reformasi Guru, Berani Kang Nadiem?

Posted by
3
views

Nadiem Makarim tiba-tiba jadi mendikbud. Saya kaget tapi juga maklum. Reformasi  pendidikan di negara kita ini  sangat mendesak dilakukan. Harus cepat dan tepat. Dan itu hanya bisa dilakukan non birokrat yang tak takut resiko.

Tengoklah masalah kurikulum saja. Ini sudah 2019, kurikulum 2013 masih membingungkan banyak orang setelah 6 tahun. Hambatannya adalah kualitas guru yang rendah.

Guru-guru yang aktif saat ini adalah produk zaman Oemar Bakri. Guru gaji seuprit maka peminat pendidikan keguruan adalah orang-orang buangan dari jurusan lainnya. Itu masih ditambah sistem penerimaan PNS yang sarat kong kalikong dan suap. Begitu juga sertifikasi yang banyak salah sasaran. Banyak guru tak berkualitas, tapi gaji besar.

Kita semua bisa kok menilai kualitas para guru itu. Guru harusnya orang terhebat dan terbaik akhlaknya, minimal di lingkungan dia tinggal. Sekarang? Lihat saja. Banyak orang-orang aneh yang ternyata profesinya guru. Bahkan ada yang secara sosial bermasalah. Bagaimana bisa jadi panutan?

Maka yang perlu dilakukan adalah reformasi guru. Lakukan screening terstruktur dan senyap untuk menyeleksi para guru itu. Yang gelagapan dengan teknologi informasi, apalagi tak punya kompetensi mumpuni, pensiunkan dini.

Kalau perlu, kekosongan (sementara) guru bidang-bidang khusus, ambilkan dari profesional. Guru bahasa arab dan fikih, misalnya. Ambilkan dari guru pondok pesantren yang mumpuni. Guru bahasa inggris, ambilkan dari lembaga-lembaga kursus semacam LIA, EF dan lain-lain. Dan seterusnya.

Saya jadi geli melihat antengnya kurikulum pondok-pondok salaf dan modern (ala gontor) yang tak terusik hiruk pikuk amburadulnya sistem pendidikan kita ini. Mereka secara konsisten menghasilkan lulusan-lulusan yang mumpuni di bidangnya. Padahal entah sejak kapan kurikulum mereka ini tak pernah ganti.

Saya cenderung menyerukan kembali ke kurikulum 1984 dengan bahan-bahan ajar yang diperbaharui. Tak perlu aneh-aneh menyatukan banyak pelajaran menjadi satu. Gurunya bingung, anak didiknya ladalah tambah bingung hehe.

Satu lagi, tak semua orang pintar bisa mengajar. Ada beda sisi, antara orang pandai dan orang yang mampu membuat orang pandai. Guru yang berkualitas harus memiliki keduanya.

Mau reformasi pendidikan? Reformasilah para guru, maka 90% masalah pendidikan kita teratasi.

Berani Kang Nadiem?

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *