Rapatnya Shaf Sholat Jama’ah, Bagaimana Hukum Sebenarnya?

Posted by
21
views

Salah satu hal yang selalu jadi tema hangat di kalangan santri adalah tentang shaf shalat.

Ini tak lepas dari munculnya gerakan baru yang mulai marak di akhir tahun 90-an yang menyerukan rapatnya shaf dengan “memaksa” menyentuhkan mata kaki dengan mata kaki, pundak dengan pundak.

Kenapa memaksa? Ya, karena ada banyak kasus ketika shafnya renggang, mereka memaksakan kakinya melebar memenuhi sela yang kosong tersebut.

Sebelum kita masuk pembahasan mari buang dulu perasaan gengsi dan merasa paling benar dan orang lain salah. Perasaan inilah akar segala perselisihan dalam semua hal.

Jadi bagaimana hukum fikih yang mengatur tentang shaf ini sebenarnya?

Asal-usul tentang shaf ini adalah Hadits Riwayat Anas bin Malik:

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ»

Dari Anas bin Malik dari Nabi Muhammad shallallah ‘alaih wasallam: ”Tegakkanlah shaf kalian, karena saya melihat kalian dari belakang pundakku.” ada diantara kami orang yang menempelkan bahunya dengan bahu temannya dan telapak kaki dengan telapak kakinya.(HR. Al-Bukhari)

Al-Imam Al-Bukhari mencantumkan teks hadits ini dalam kitab As-Shahih, pada Bab Merapatkan Pundak Dengan Pundak dan Telapak Kaki dengan Telapak Kaki, hal. 1/146.

Hadits inilah yang menjadi “pegangan erat” penganut faham wajibnya ilzaq (menyentuhkan) pundak dan mata kaki.

Hadits inilah yang menjadi rujukan Nashiruddin al-Albani dalam kitabnya, Silsilat al-Ahadits as-Shahihah, hal. 6/77. Dia menuliskan :

وقد أنكر بعض الكاتبين في العصر الحاضر هذا الإلزاق, وزعم أنه هيئة زائدة على الوارد, فيها إيغال في تطبيق السنة! وزعم أن المراد بالإلزاق الحث على سد الخلل لا حقيقة الإلزاق, وهذا تعطيل للأحكام العملية, يشبه تماما تعطيل الصفات الإلهية, بل هذا أسوأ منه

Sebagian penulis zaman ini telah mengingkari adanya ilzaq (menempelkan mata kaki, dan bahu) ini, hal ini bisa dikatakan menjauhkan dari menerapkan sunnah. Dia menyangka bahwa yang dimaksud dengan “ilzaq” adalah anjuran untuk merapatkan barisan saja, bukan benar-benar menempel. Hal tersebut merupakan ta’thil (pengingkaran) terhadap hukum-hukum yang bersifat alamiyyah, persis sebagaimana ta’thil (pengingkaran) dalam sifat Ilahiyyah. Bahkan lebih jelek dari itu.

Ulama muta’akhhirin yang bernama Nashiruddin al-Albani ini secara yakin dan tegas memandang bahwa yang dimaksud ilzaq dalam hadits adalah benar-benar menempel. Artinya, sesama mata kaki dan sesama bahu harus benar nempel dengan orang di sampingnya. Dan itulah yang dia katakan sebagai sunnah Nabi. Dalam bukunya dia juga mengancam mereka yang tidak sependapat dengan pendapatnya, sebagai orang yang ingkar kepada sifat Allah.

Pendapat al-Albani ini didukung oleh murid-murid setianya. Dimana-mana mereka menyebarkan bahwa ilzaq ini disebut sebagai sunnah yang telah banyak ditinggalkan oleh orang-orang, yang perlu untuk dihidup-hidupkan lagi di masa sekarang.

Padahal, sosok Nashiruddin al-Albani adalah sosok yang kontroversial.  Bagi pengikutnya, Al-Albani disebut sebagai muhadits abad ini. Namun, sebagian besar muslimin mengatakan al-Albani bukanlah seorang muhaddits, justru derajatnya sangat jauh dari predikat itu.

Semasa hidupnya al-Albani lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca hadits-hadits secara otodidak di balik perpustakaan, tidak belajar hadits kepada guru ahli hadits (Lihat Wikipedia).

Begitu tertariknya al-Albani terhadap hadits, sampai-sampai toko reparasi jamnya pun memiliki dua fungsi, sebagai tempat mencari nafkah dan tempat belajar hadits, dikarenakan bagian belakang tokonya itu sudah diubahnya sedemikian rupa menjadi perpustakaan pribadi.

Bahkan waktunya mencari nafkah pun tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan waktunya untuk belajar, yang pada saat-saat tertentu hingga (total) 18 jam dalam sehari untuk belajar, di luar waktu-waktu shalat dan aktivitas lainnya (Asy Syariah Vol. VII/No. 77/1432/2011 hal. 12, Qomar Suaidi, Lc).

Tak heran, banyak pemikiran al-Albani yang berseberangan dengan pendapat para ulama ahli hadits ahlussunnah wal jama’ah.

Bahkan konon, Al-Albani sering melakukan kesalahan dalam menilai suatu hadits, terkadang al-Albani mengatakan suatu hadits itu shahih tapi dalam bukunya yang lain mengatakan tidak shahih, begitupun sebaliknya.

Padahal belajar tanpa guru, terlebih dalam mempelajari ilmu agama Islam, adalah suatu hal yang buruk. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,“Barangsiapa menguraikan al-Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)

Syaikh Nashir al-Asad bahkan menegaskan “keburukan” ini: “Orang yang hanya mengambil ilmu melalui kitab saja tanpa memperlihatkannya kepada ulama dan tanpa berjumpa dalam majelis-majelis ulama, maka ia telah mengarah pada distorsi. Para ulama tidak menganggapnya sebagai ilmu, mereka menyebutnya shahafi atau otodidak, bukan orang alim. Para ulama menilai orang semacam ini sebagai orang yang dlaif (lemah). Ia disebut shahafi yang diambil dari kalimat tashhif, yang artinya adalah seseorang mempelajari ilmu dari kitab tetapi ia tidak mendengar langsung dari para ulama, maka ia melenceng dari kebenaran. Dengan demikian, sanad dalam riwayat menurut pandangan kami adalah untuk menghindari kesalahan semacam ini” (Mashadir asy-Syi’ri al-Jahili 10)

Orang yang berguru kepada buku saja maka ia tidak akan menyadari kesalahannya. Buku tidak bisa menegur, beda dengan guru. Ia bisa menegur jika salah atau jika murid tak faham ia bisa bertanya. Belajar dari buku, seseorang hanya terikat dengan pemahaman dari akal pikirannya sendiri.

Lalu bagaimana sebenarnya hukum ilzaq ini?

Syaikh Bakr Abu Zaid (w. 1429 H) , seorang ulama Saudi yang pernah menjadi Imam Masjid Nabawi, dan menjadi salah satu anggota Haiah Kibar Ulama Saudi telah menulis kitab yang berjudul La Jadida fi Ahkam as-Shalat (Tidak Ada Yang Baru Dalam Hukum Shalat), halaman 13 :

وإِلزاق الكتف بالكتف في كل قيام, تكلف ظاهر وإِلزاق الركبة بالركبة مستحيل وإِلزاق الكعب بالكعب فيه من التعذروالتكلف والمعاناة والتحفز والاشتغال به في كل ركعة ما هو بيِّن ظاهر.

Menempelkan bahu dengan bahu di setiap berdiri adalah takalluf (memberat-beratkan) yang nyata. Menempelkan dengkul dengan dengkul adalah sesuatu yang mustahil, menempelkan mata kaki dengan mata kaki adalah hal yang susah dilakukan.

فهذا فَهْم الصحابي – رضي الله عنه – في التسوية: الاستقامة, وسد الخلل لا الإِلزاق وإِلصاق المناكب والكعاب. فظهر أَن المراد: الحث على سد الخلل واستقامة الصف وتعديله لا حقيقة الإِلزاق والإِلصاق

Inilah yang difahami para shahabat dalam taswiyah shaf: Istiqamah, menutup sela-sela. Bukan menempelkan bahu dan mata kaki. Maka dari itu, maksud sebenarnya adalah anjuran untuk menutup sela-sela, istiqamah dalam shaf, bukan benar-benar menempelkan.

Jadi, menurut Bakr Abu Zaid (w. 1429 H) hadits itu bukan berarti dipahami harus benar-benar menempelkan mata-mata kaki, dengkul dan bahu tapi hanya meluruskan Shaf.

Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) , seorang ulama besar yang menulis kitab penjelasan dari Kitab Shahih Bukhari menuliskan:

حديث أنس هذا: يدل على أن تسوية الصفوف: محاذاة المناكب والأقدام

Hadits Anas ini menunjukkan bahwa yang dimaksud meluruskan shaf adalah lurusnya bahu dan telapak kaki. (Lihat: Ibnu Rajab al-Hanbali; w. 795 H, Fathu al-Bari, hal.6/ 282).

Ibnu Rajab lebih memandang bahwa maksud hadits Anas adalah meluruskan barisan, yaitu dengan lurusnya bahu dan telapak kaki.

Pendapat ini senada dengan Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H), Beliau menuliskan:

الْمُرَادُ بِذَلِكَ الْمُبَالَغَةُ فِي تَعْدِيلِ الصَّفِّ وَسَدِّ خَلَلِهِ

Maksud hadits ”ilzaq” adalah “anjuran keras” dalam meluruskan shaf dan menutup celah. [Ibnu Hajar, Fathu al-Bari, hal. 2/211]

Jadi, cukuplah dengan merapatkan shaf dan meluruskannya, tapi jangan sembrono. Ungkapan ilzaq ini menunjukkan sebuah “anjuran keras” dari Nabi Saw agar kita bersungguh-sungguh berusaha meluruskan shaf!

Wallahu’a’alam

Comments

comments