Puasa Rajab Bukan Bid’ah, Ini Kumpulan Dalilnya!

23
views

Tulisan ini merupakan sanggahan terutama untuk ustadz Adi Hidayat MA. dan ustadz Khalid Basalamah. Juga buat Anda semua yang menganggap puasa di bulan Rajab adalah bid’ah dan haditsnya palsu.

Saya menghormati beliau berdua, tapi untuk masalah ini (dan beberapa masalah lain) saya anggap pendapat mereka tidak komprehensif dan terlalu mensimplifikasi masalah.

Dan disini saya hanya menuqil pendapat ulama-ulama terdahulu. Pendapat ulama salaf yang terkenal kezuhudannnya, dan keluasan ilmunya ini tersimpan rapi di buku-buku karangan mereka, yang menjadi maraji’ para ulama dan pelajar yang lahir sesudah mereka.

Mari kita tinjau pendapat para ulama:

اختلف أهل العلم في حكم صيام شهر رجب فذهب الجمهور من حنفية ومالكية وشافعية وهو قولفي مذهب الحنابلة إلى استحباب صيام شهر رجب كله

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum puasa bulan Rajab ini. Tapi jumhur (mayoritas) ulama dari Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah menetapkan sunnahnya puasa di semua hari bulan Rajab.

– وذهب الحنابلة إلى كراهة إفراد شهر رجب كله بالصوم دون سائر الشهور , وتزول الكراهة عندهم بفطر يوم منه أو يومين أو بصيام شهر آخر إضافة إليه , واختلف الحنابلة في تخصيص الأشهر الحرم بالصيام : فذهب بعضهم إلى استحباب ذلك , ولم يذكر الأكثرون استحبابه

Ulama Hanabilah berpendapat makruhnya berpuasa sebulan penuh di bulan Rajab. Namun kemakruhan itu hilang dengan berbuka satu atau dua hari. Atau dengan berpuasa di bulan sebelumnya, kemudian disambung ke bulan Rajab.

Para ulama Hanabilah berselisih pendapat tentang mengkhususkan puasa di bulan Rajab. Sebagian berpendapat kesunnahannya, sebagian lagi tidak menyebutkan kesunnahannya.

Dan ini sebagian pendapat ulama madzhab yang 4

من أقوال الحنفية
في الفتاوي الهندية 1/202

( المرغوبات من الصيام أنواع ) أولها صوم المحرم والثاني صوم رجب والثالث صوم شعبان وصوم عاشوراء ) اهـ

Dari qaul hanafiyah

Dalam kitab “Alfatawi Al Hindiyah” 1/202

Puasa-puasa yang disukai Alloh ada berbagai macam. Yang pertama puasa Muharram, kedua puasa Rajab, ketiga puasa Sya’ban dan puasa Asyura’.

من أقوال المالكية
في شرح الخرشي على خليل 2/241 وهو يعدد الصوم المستحب

  ي (والمحرم ورجب وشعبان )يعني : أنه يستحب صوم شهر المحرم وهو أول الشهور الحرم , ورجب وهو الشهر الفرد عن الأشهر الحرم ) اهـ
وفي الحاشية عليه : ( قوله : ورجب ) , بل يندب صوم بقية الحرم الأربعة وأفضلها المحرم فرجب فذو القعدة فالحجة ) اهـ

Dari qaul Malikiyah

Dalam kitab ” Syarh Alkharsy Ala Khalil” 2/241 menganggap puasa ini mustahab/ sunnah.

(Dan Muharram dan Rajab dan Sya’ban) yakni puasa bulan Muharram adalah sunnah, bulan ini adalah awal bulan-bulan yang dimuliakan, dan Rajab, yaitu bulan yang terpisah dari bulan-bulan yang dimuliakan.

Dan dalam khasyiah (catatan pinggir) kitab ini: (kalimat – dan Rajab) Bahkan disunnahkan puasa di bulan mulia yang 4. Paling utama adalah Muharram, Rajab dan Dzulqo’dah.

وفي مقدمة ابن أبي زيد  2/ 272

( التنفل بالصوم مرغب فيه وكذلك , صوم يوم عاشوراء ورجب وشعبان ويوم عرفة والتروية وصوم يوم عرفة لغير الحاج أفضل منه للحاج .) اهـ

Dalam kitab “Muqaddimah ibni Abi Zaid” 272/2:

Beribadah dengan melakukan puasa sangat disukai Alloh, sebagaimana puasa bulan Asyura’, Rajab, Sya’ban , hari Arafah, Tarwiyah. Puasa Arafah bagi yang tidak berhaji lebih utama dari yang berhaji.

وفي كفاية الطالب الرباني 2/407

 كذلك صوم شهر ( رجب ) مرغب فيه ) اهـ

Dalam kitab “Kifayatuth Thalib Arrabbany” 2/407

Begitu juga puasa di bulan Rajab, disukai oleh Alloh.

من أقوال الشافعية
قال الإمام النووي في المجموع 6/439

(قال أصحابنا : ومن الصوم المستحب صوم الأشهر الحرم , وهي ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب , وأفضلها المحرم , قال الروياني في البحر : أفضلها رجب , وهذا غلط ; لحديث أبي هريرة الذي سنذكره إن شاء الله تعالى { أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم ) اهـ

Dari qaul Syafi’iyah:

Qaul Imam Nawawi dalam kitab “Almajmu”:

Berkata ashhabuna: dan dari puasa yang disunnahkan adalah puasa di bulan-bulan mulia, yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Yang paling utama adalah Muharram. Berkata imam Rouyani dalam kitab “Albahr” : yang paling utama adalah Rajab, tapi ini keliru, karena ada hadits Abu Hurairah: Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah di bulan Alloh Muharram.

وقال شيخ الإسلام زكريا الأنصاري في أسنى المطالب 1/433

( وأفضل الأشهر للصوم ) بعد رمضان الأشهر ( الحرم ) ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب …

Syaikhul Islam Zakariya Al Anshori dalam “Asnal Matholib” 1/433

Dan bulan-bulan paling utama untuk puasa setelah Ramadhan adalah bulan “hurum” yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rojab.

Sebenarnya masih banyak sekali pendapat ulama-ulama salaf yang kita akui keluasan ilmunya, dan kesalehan hidupnya. Namun cukup itu dulu, untuk menghindari panjang lebarnya tulisan ini.

Intinya, puasa bulan Rajab itu sunnah. Bahkan seluruh hari di bulan ini disunnahkan puasa menurut jumhur ulama. Tapi ulama-ulama madzhab Hanbali menggarisbawahi makruhnya puasa sebulan penuh. Berbukalah 1 atau 2 hari untuk menyelisihi bulan Ramadhan

Adapun hadits yang dibahas ustadz Adi Hidayat dan Khalid Basalamah yang dikatakan sebagai hadits palsu, akan kita bahas di bawah ini:

-الأحاديث التي فيها التصريح بفضل صوم رجب بخصوصه
وهي وإن كانت ضعيفة فإن الحديث الضعيف يعمل به في الفضائل ففي فتاوى ابن حجر 2/53

Adapun hadits-hadits yang menerangkan secara khusus keutamaan puasa bulan Rajab, walaupun hadits-hadits itu lemah (dha’if) boleh digunakan, karena hanya membahas keutamaan amal. Dalam kitab “Fatawi Ibnu Hajar” 2/53 diterangkan sbb:

( فقول هذا الجاهل إن أحاديث صوم رجب موضوعة إن أراد به ما يشمل الأحاديث الدالة على صومه عموما وخصوصا فكذب منه وبهتان فليتب عن ذلك , وإلا عزر عليه التعزير البليغ ، نعم روي في فضل صومه أحاديث كثيرة موضوعة , وأئمتنا وغيرهم لم يعولوا في ندب صومه عليها حاشاهم من ذلك وإنما عولوا على ما قدمته وغيره ومنه ما رواه البيهقي في الشعب عن أنس يرفعه

Perkataan orang bodoh bahwa hadits-hadits tentang puasa di bulan Rajab adalah maudlu’, bila bermaksud semua hadits yang menunjukkan kesunnahan puasa Rajab secara umum maupun khusus, maka dia berbohong, berdusta dan hendaklah ia bertaubat! Bila tidak bermaksud begitu, maka wajib dita’zir (dihukum) dengan hukuman berat.

Memang benar banyak hadits yang meriwayatkan keutamaan puasa Rajab adalah hadits maudhu’. Dan para imam kita dan ulama lainnya tidak menyandarkan sunnahnya puasa Rajab kepada hadits-hadits maudhu’ tersebut. Mereka bahkan menghindarinya. Sandaran haditsnya adalah yang sudah aku dan ulama selainku telah kemukakan di atas.

ومنه ما رواه البيهقي في الشعب عن أنس يرفع

(أن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن وأحلى من العسل , من صام من رجب يوما سقاه الله من ذلك النهر )

Diantara hadits-hadits (maudhu’) itu adalah yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dalam kitab “syu’ab” dari Anas, dan dia menganggapnya marfu’ : Bahwa di dalam surga ada sungai yang disebut “rajab”, lebih putih dari susu, dan lebih manis dari madu, Siapa yang puasa sehari di bulan Rajab maka Alloh akan memberi dia minum dari sungai itu.

وروي عن عبد الله بن سعيد عن أبيه يرفعه

(من صام يوما من رجب كان كصيام سنة ومن صام سبعة أيام غلقت عنه أبواب جهنم , ومن صام ثمانية أيام فتحت له ثمانية أبواب الجنة , ومن صام عشرة أيام لم يسأل الله شيئا إلا أعطاه إياه , ومن صام خمسة عشريوما نادى مناد من السماء قد غفر لك ما سلف فاستأنف العمل وقد بدلت سيئاتك حسنات , ومن زاد زاده الله ) .

Dan diriwayatkan dari Abdullah ibn Sa’id dari ayahnya (dia menganggap hadits ini marfu’): Siapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab maka seperti puasa setahun, dan siapa puasa seminggu, ditutuplah baginya pintu-pintu jahannam, siapa puasa 8 hari, dibuka baginya 8 pintu surga, dan barangsiapa puasa 10 hari maka semua yang dimintanya akan dikabulkan oleh Alloh, dan barangsiapa puasa 15 hari akan muncul penyeru dari langit yang berkata: telah diampuni semua dosamu di masa lalu, teruskanlah amalmu, telah diganti semua keburukanmu dengan kebaikan. Dan barangsiapa menambah lebih dari itu, maka Alloh akan menambah pahalanya.

وقد تقرر أن الحديث الضعيف والمرسل والمنقطع والمعضل والموقوف يعمل بها في فضائل الأعمال إجماعا ولا شك أن صوم رجب من فضائل الأعمال فيكتفي فيه بالأحاديث الضعيفة ونحوها ولا ينكر ذلك إلا جاهل مغرور

Dan telah ditetapkan oleh Ijma’ Ulama bahwa hadits dho’if, mursal, munqothi’, mu’dhol dan mauquf boleh dipakai untuk menunjukkan keutamaan sebuah amal. Dan tidak dapat diragukan bahwa untuk menerangkan keutamaan amal, yaitu puasa bulan Rajab ini, cukuplah hadits-hadits dho’if di atas dan sejenisnya, yang hanya akan diingkari oleh orang-orang bodoh yang terpedaya.

Ungkapan orang-orang bodoh yang terpedaya di atas adalah ucapan beliau Ibnu Hajar Al Atsqalany. Jadi jangan ada siapapun yang tersinggung.

Namun dalam tulisan ini izinkan saya bertanya, apakah pendapat ulama-ulama besar ahli fiqih di atas, yang merupakan hasil istinbath hukum dari hadits-hadits nabi, asbabul wurud dan lain-lainnya, diabaikan oleh Ustadz Adi Hidayat MA dan Khalid Basalamah?

Mungkin ada di antara kita yang membatalkan puasa Rajab karena fatwa beliau berdua ini? Semoga besok Anda kembali berpuasa setelah membaca tulisan ini.

Wallahu’a’lam.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *