Politik Intimidatif

6
views

Forum Umat Islam (FUI) menginstruksikan untuk mengawal TPS pada saat pencoblosan Pemilu 2019. FUI menargetkan, satu TPS akan dijaga 210 orang berbaju putih. Menurut Sekjen FUI Al Khaththath, gerakan ini berdasarkan Fatwa MUI, yang tujuannya menjaga ketenteraman, dan berzikir agar Allah beri keselamatan.

Saya bingung. Nama Sekjen FUI saja sudah bikin berkerut kening. Apalagi bila Anda tak bisa membayangkan tulisan arabnya. Apa sebenarnya maksud gelar Alkhaththath? Saya sebut gelar karena nama aslinya Muhammad Gatot Saptono. Padahal Alkhaththath dalam bahasa arab artinya tukang menulis khat, kaligrafi arab. Apa beliau dulu ahli kaligrafi? Tulisan arabnya bagus? Entahlah, yang jelas gelar ini tak sesuai dengan tampilan FUI yang garang.

Apalagi membayangkan gerakan jaga TPS yang katanya tenteram itu. TPS di samping rumah saya di pedalaman ini tiba-tiba dijaga 210 orang berbaju putih yang senang teriak-teriak. Suasana yang aman, tenteram, penuh kegembiraan akan sontak berubah menjadi angker. Non muslim di lingkungan sekitar sudah pasti enggan menuju TPS, takut.

Jadi, tujuan yang digembar-gemborkan Al Khaththath itu jauh panggang daripada api. Kita sudah tahulah bagaimana tindak tanduk FUI dan konco-konconya itu. Merekalah yang bertanggungjawab atas bopengnya wajah Islam di negeri ini. Islam yang sebenarnya ramah, damai dan rahmat, digantikan Islam yang bengis dan tak mau kalah. Pokoknya kalau ane kalah, ente yang curang. Seperti upin ipin yang bermain guli.

Gerakan ini rupanya mau mengulangi “kesuksesan” Tamasya Al Maidah di pilkada DKI 2017 lalu. Saat itu, walaupun sudah dilarang, sejumlah massa berbaju putih itu masih berbondong-bondong ke Jakarta “menjaga” TPS. Hasilnya kita tahu, suasana menjadi mencekam, dan hari yang tenang berubah menjadi hari kelam. Pengerahan massa yang diklaim murni hanya untuk membela agama Islam ini justru mengintimidasi pemilih.

Tamasya Al Maidah sukses menggulingkan Ahok dari kursi Gubernur DKI. Kali ini mereka berharap, dengan cara yang sama dapat menurunkan Jokowi dari kursi Presiden RI. Sungguh sebuah cara berpolitik yang tanpa etika, nir akhlak.

Entah sampai kapan petualang politik berbaju Islam ini mewarnai politik Indonesia. Karakteristik mereka yang suka main keroyokan, suka demo, berbicara keras, hujat sana-sini membuat suhu politik benar-benar panas. Prinsip mereka sebar hoax dulu, klarifikasi kemudian. Kalau terbukti salah? Ya ngelesnya yang digedein.

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *