Polarisasi Politik Picu Polarisasi Agama?

Posted by
14
views

Polarisasi asalnya polar. Kutub. Politik meng-kutub-kan masyarakat ke kubu yang bertentangan. 01 atau 02.

Ini wajar. Yang bikin tak wajar adalah, polarisasi politik akhir-akhir ini memicu polarisasi agama (Islam). Kalau dibiarkan berlarut-larut, bisa jadi menimbulkan sekte-sekte baru yang saling bertentangan.

Tengoklah. Islam Nusantara yang merupakan Islam khas NU. Identik dengan 01 dan menjadi bahan ejekan kubu 02. Islam garis keras dan pengusung khilafah identik dengan 02 dan menjadi bahan gunjingan kubu 01.

Lambat laun, jarum jam sejarah bisa berputar balik, beda tempat.

Dalam sejarah Islam, Nabi kita Muhammad Saw adalah seorang yang sangat demokratis. Tolong jangan alergi dengan kata demokratis dan demokrasi. Itu cuma istilah.

Namun, sepeninggal Nabi Muhammad (Saw.) nilai-nilai demokratis yang beliau contohkan pudar, akibat perebutan kekuasaan politik.

Saat itu, tiap kabilah Arab merasa berhak memegang tampuk kepemimpinan. Setelah perdebatan alot, Abu Bakar terpilih dengan dukungan mayoritas. Beliau dibai’at di balai pertemuan Bani Saadah di Madinah. Sampai disini nilai-nilai demokrasi masih terjaga.

Di ujung masa kepemimpinannya, Abu Bakar menunjuk penggantinya secara langsung. Abu Bakar memilih Umar bin Khattab. Penunjukan ini untuk menghindari pertentangan yang meruncing di masa sebelumnya.

Di akhir kekuasaannya pun, Umar menunjuk enam orang untuk bermusyawarah menetapkan penggantinya.

Pergantian kekuasaan setelah Umar berjalan lancar. Dengan terpilihnya Utsman bin Affan. Namun, ada ketidakpuasan yang besar diantara enam orang itu. Hal ini akhirnya menimbulkan friksi-friksi tajam.

Di masa inilah dimulai perebutan kekuasaan yang menghalalkan segala cara. Akhirnya Utsman terbunuh akibat ketidakpuasan daerah-daerah.  Peralihan kekuasaan selanjutnya menjadi semakin berdarah-darah.

Akhirnya terpilihlah Ali bin Abi Talib. Namun prosesnya jauh dari nilai-nilai yang sudah diajarkan Nabi Muhammad Saw.

Pada masa inilah terjadi polarisasi sikap politik ummat Islam menjadi empat.

Dua kekuatan besar terbentuk: pendukung Ali dan pendukung khalifah terbunuh Utsman bin Affan.

Kelompok ketiga yang juga lumayan besar adalah orang-orang yang anti kelompok pertama dan kedua, kelompok ini menamakan diri Khawarij.

Celakanya, kelompok ini berusaha melakukan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh kelompok pertama dan kedua. Mereka menganggap dua kelompok itu penyebab perpecahan ummat.

Kelompok keempat adalah kelompok netral. Mereka menghindar sambil menyerahkan permasalahan ini kepada Allah untuk diselesaikan pada Hari Pembalasan, kelompok ini bernama Murji’ah.

Akhirnya kita tahu, pandangan politik pendukung Ali selanjutnya berevolusi menjadi sebuah ideologi dan sekte agama, yaitu Syi’ah. Sedangkan kelompok lainnya menjadi Sunni. Sampai sekarang, pertentangan Syi’ah dan Sunni masih terus berlangsung.

Jadi, kita boleh pilih. Belajar dari sejarah, atau mengulang kesalahan sejarah. Harusnya kita sadar. Semua aliran asalnya satu: Islam yang sudah sempurna di zaman Nabi Saw. Perbedaan adalah rahmat. Masing-masing punya hujjah dan dalilnya.

Utamakan dialog. Jangan berbisik-bisik sambil bergosip tentang aliran atau madzhab orang lain. Apalagi, mereka sebenarnya bisa mengakses langsung, atau mendengar penjelasan dari orang yang mereka gunjing. Apakah bergunjing (menyebar hoax) terasa lebih sedap?

Lihatlah di medsos sekarang ini. Sepertinya motif pembicaraan menjelang pemilu ini bukan ingin menemukan kebenaran. Tetapi sejak semula dilandasi rasa benci. Ingin melihat orang lain jatuh.

Akhirnya muncul dalil-dalil suci tapi dipakai untuk fitnah sana-sini. Na’udzu Billah!

Comments

comments