Panitia Zakat, Guru Ngaji dan Kiyai, Berhakkah Menerima Zakat?

Posted by
1261
views

Zakat, sebuah istilah yang selalu populer menjelang berakhirnya bulan suci Ramadhan. Padahal, Ramadhan hanya berhubungan secara langsung dengan zakat fitrah yang jumlahnya relatif kecil dibanding jenis zakat satunya: zakat maal / zakat harta. Zakat maal adalah zakat yang waktu pembayarannya berbeda-beda tergantung masing-masing individu pemilik harta.

Nah, karena populernya pada akhir Ramadhan, panitia zakat juga biasanya dibentuk dadakan (kayak tahu bulet ya hehe) dan bersifat temporer, begitu lebaran panitia zakat bubar dan akan dibentuk tahun depan lagi. Dan pada umumnya, panitia zakat juga dianggap sebagai amil yang termasuk ashnaf tsamaniyah dan dianggap berhak mendapat bagian zakat. Di titik ini sudah ada satu kekeliruan fatal, karena amil zakat harusnya sifatnya permanen dan mendapat legalitas resmi dari imam (dalam hal ini pemerintah RI). Membiarkan panitia zakat “mengaku” sebagai amil sama dengan membiarkan mereka makan uang haram yang bukan menjadi haknya. Ngeri bukan?

Yang juga berlaku dimana-mana dan dianggap sebuah kebenaran adalah pemberian zakat kepada kiyai, guru ngaji, guru madrasah, muadzin, khotib, imam masjid dan sejenisnya karena dianggap termasuk ashnaf tsamaniyah, yaitu fi sabilillah. Parahnya lagi, seringkali bagian para amil dan fi sabilillah ini besar-besar dan mengenyangkan (kayak duren), dibandingkan bagian fakir-miskin yang “sedikit dibagi rata”. Ya jelas timpang, wong pembagiannya dibagi ashnaf dulu, karena ada 3 berarti masing-masing ashnaf 1/3. Lalu yang 1/3 untuk amil, 1/3 untuk fi sabilillah, 1/3 untuk fakir-miskin. Kalau jumlah amil 10 orang, fi sabilillah 20 orang, fakir miskin 60 orang sudah bisa Anda bayangkan betapa “hebat” cara pembagian seperti ini. Di desa Anda juga begitu?

Jadi sebenarnya bagaimana sich tinjauan fiqih atas masalah-masalah di atas? Tenang son kita bahas pelan-pelan!

Amil Zakat

Amil zakat ialah suatu panitia atau badan yang dibentuk (atau dilegalkan) oleh pemerintah guna menangani permasalahan zakat dan segala seluk beluknya.

Syarat Amil zakat: 1. beragama Islam 2) mukallaf  (sudah baligh dan berakal), 3) merdeka  (bukan budak), 4) adil (dengan pengertian tidak pernah melakukan dosa besar atau dosa kecil secara kontinyu), 5) bisa melihat, 6) bisa mendengar, 7) laki-laki, 8) mengerti terhadap tugas-tugas yang menjadi tanggungjawabnya, 9) tidak termasuk ahlul-bait atau bukan keturunan Bani Hasyim dan Bani Muththalib dan 10) bukan mawali ahlul-bait atau budak yang dimerdekakan oleh golongan Bani Hasyim dan Bani Muththalib.

Tugas Amil zakat :

1.   Menginventarisasi (mendata) orang-orang yang wajib mengeluarkan zakat.
2.   Menginventarisasi orang-orang yang berhak menerima zakat
3.   Mengambil dan mengumpulkan zakat.
4.   Mencatat harta zakat yang masuk dan yang dikeluarkan.
5.   Menentukan ukuran (sedikit dan banyaknya) zakat.
6.   Menakar, menimbang, menghitung porsi mustahiqqus zakat
7.   Menjaga keamanan harta zakat
8.   Membagi-bagikan harta zakat pada mustahiqqin.

Biar lebih jelas, berikut adalah Hasil Keputusan Bahtsul Masail PWNU Jatim 2005 di PP. Sidogiri Pasuruan:
Deskripsi masalah:
Dalam kitab-kitab fiqh, amil zakat dibentuk oleh imam. Dan fiqih tidak menjelaskan secara rinci tentang mekanisme pembentukannya. Apakah pembentukan itu dari inisiatif imam atau pengajuan dari bawah. Sementara yang terjadi di masyarakat, ada yang dibentuk oleh lurah, camat, bupati dst. Ada pula komunitas masyarakat (RT, ormas masjid, lembaga pendidikan, dan bahkan PKK) yang membentuk panitia zakat kemudian diajukan kepada pemerintah setempat, (lurah, camat, atau bupati) untuk dimintakan SK agar diakui keberadaannya.
Pertanyaan :
a. Siapakah yang dimaksud imam untuk membentuk amil zakat ?
b. Bagaimana dengan Undang-undang Zakat tentang konsep amil dan mekanisme kerjanya ?
c. Apakah panitia zakat yang dibentuk secara swakarsa tersebut di atas bisa disebut amil zakat (bagian dari ashnaf delapan) sehingga berhak memperoleh bagian dari zakat ?
Jawaban :
a. Imam dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Kepala Pemerintahan dalam hal ini Presiden. Adapun terkait dengan pembentukan amil zakat adalah presiden dan orang-orang diberi wewenang membentuk amil sebagaimana diatur oleh UU Zakat, yaitu Gubernur, Bupati/Wali Kota dan Camat.
Catatan : Kepala desa / Lurah tidak termasuk orang-orang diberi wewenang membentuk amil zakat.

Referensi:

نهاية المهتاج الجزء السادس ص 168 ما نصه :

ويجب على الامام او نائبه بعث السعاة لأخذ الزكاة (وليعلم) الامام او الساعي ندبا (شهرا لاخذها) اي الزكاة ليتهيأ ارباب الاموال لدفعها والمستحقون لأخذها، ويسن كما نص عليه كون ذلك الشهر المحرم لانه اول العام الشرعي، ومحل ذلك فيما يعتبر فيه الحول المختلف في حق الناس.

الباجورى جزء 1 ص 290 ما نصه :

(قوله العامل من إستعمله الإمام الخ) أي كساع يجبيها وكاتب يكتب ما أعطاه أرباب الأموال وقاسم يقسمها على المستحقين وحاشر يجمعهم لا قاض ووال فلا حق لهما فى الزكاة بل حقهما فى خمس الخمس المرصد للمصالح

موهبة ذي الفضل على شرح مقدمة بافضل الجزء الرابع ص 120 ما نصه :

(و) الصنف الخامس (والعاملون عليها) ومنهم الساعي الذي يبعثه الإمام لأخذ الزكوات وبعثه واجب (قوله والعاملون عليها) أي الزكاة يعنى من نصبه الإمام فى أخذ العمالة من الزكوات—إلى أن قالـــ–ومقتضاه أن من عمل متبرعا لايستحق شيأ على القاعدة.

الفتاوي الكبرى الفقهية لابن حجر الهيتمي 4 ص 116

(وسئل) بما لفظه هل جواز الاخذ بعلم الرضا من كل شئ ام مخصوص بطعام الضيافة (فأجاب) بقوله الذي دل عليه كلامهم انه غير مخصوص بذالك وصرحوا بان غلبة الظن كالعلم بذالك وحينئذ فمتى غلب على ان المالك يسمح له بأخذ شئ معين من ماله جاز له أخذه ثم بان خلاف ظنه لزمه ضمانه والا فلا

المهذب ج: 1 ص: 355- 356

وإن دفع إليه دينارا وأمره أن يشتري شاة فاشترى شاتين فإن لم تساو كل واحدة منهما دينارا لم يلزم الموكل لانه لا يطلب بدينار ما لا يساوي دينارا وإن كان كل واحدة منهما تساوي دينارا نظرت فإن اشترى في الذمة ففيه قولان أحدهما أن الجميع للموكل لان النبي صلى الله عليه وسلم دفع إلى عروة البارقي دينارا ليشتري له شاة فاشترى شاتين فباع إحداهما بدينار وأتى النبي صلى الله عليه وسلم بشاة ودينار فدعا له بالبركة ولان الإذن في شاة بدينار إذن في شاتين بدينار لان من رضي شاة بدينار رضي شاتين بديناروالثاني أن للموكل شاة لانه أذن فيه والأخرى للوكيل لانه لم يأذن فيه الموكل فوقع الشراء للوكيل فإن قلنا إن الجميع للموكل فباع إحداهما فقد خرج أبو العباس فيه وجهين أحدهما أنه لا يصح لانه باع مال الموكل بغير إذنه فلم يصح والثاني أنه يصح لحديث عروة البارقي والمذهب الأول والحديث يتأول ن قلنا إن للوكيل شاة استرجع الموكل منه نصف دينار وإن اشترى الشاتين بعين الدينارفإن قلنا فيما اشترى في الذمة إن الجميع للموكل كان الجميع ههنا للموكل وإن قلنا إن إحداهما للوكيل والأخرى للموكل صح الابتياع للموكل في إحداهما ويبطل في الأخرى لانه لا يجوز أن يحصل الابتياع له بمال الموكل فبطل

b. Mencermati undang-undang zakat yang ada, konsep pembentukan amil versi undang-undang zakat sesuai dengan konsep fikih. Sedang mekanisme tata kerjanya masih perlu untuk disempurnakan, karena ada tugas-tugas dan kewenangan amil yang belum terakomodir dalam UU zakat, diantaranya kewenangan mengambil zakat secara paksa jika ada muzakki yang menolak membayar zakat.

Referensi sama dengan referensi point a.

c. Panitia zakat yang dibentuk secara swakarsa oleh masyarakat tidak termasuk amil yang berhak menerima bagian zakat.
Referensi :

موهبة ذي الفضل على شرح مقدمة بافضل الجزء الرابع ص 120 ما نصه :
(والعاملون عليها) ومنهم الساعي الذي يبعثه الإمام لأخذ الزكوات وبعثه واجب (قوله والعاملون عليها) أي الزكاة يعنى من نصبه الإمام فى أخذ العمالة من الزكوات—إلى أن قالـــ–ومقتضاه أن من عمل متبرعا لايستحق شيأ على القاعدة

Nah, jadi jelas, jika tidak dilegalkan oleh pemerintah dalam hal ini Baznas, kepanitiaan yang terbentuk dianggap ilegal dan belum bisa dikatakan sebagai amil. Secara otomatis kepanitiaan ini tidak berhak mengambil bagian sebagai mustahiq (penerima) zakat.
Jadi solusinya bagaimana? Silahkan minta legalitas panitia zakat Anda kepada Baznas, bisa juga melalui beberapa LAZ yang dibentuk oleh ormas keagamaan.

Di NU ada NU-Care LAZISNU yang merupakan LAZ yang dibentuk oleh jamiyyah Nahdlatul Ulama untuk memberdayakan potensi zakat di masyarakat. Jadi silakan takmir masjid yang membentuk panitia zakat meminta SK pembentukan amil ke LAZISNU.

Fi Sabilillah

Fi sabilillah adalah juga “kekeliruan klasik” pembagian zakat. Sebenarnya banyak sekali referensi yang menyebutkan kiyai, guru ngaji dkk bukan termasuk fi sabilillah. Sayangnya banyak kelompok yang sudah kadung nyaman dengan pemberian zakat ini, mereka anggap itu THR. Bah beda kali itu Cok! . Dan ketika ada yang mengingatkan kekeliruan ini, dengan congkaknya mereka akan me-nepang kiwo nengen hehe.

Ustadz/ustadzah yang sering tampil di tipi pun jawabannya selalu ngambang dan main aman. Jawaban mereka selalu: boleh, asal mereka tidak mampu. Heheh gemes mendengar jawaban seperti ini. Ya berarti yang membuat mereka berhak menerima zakat “tidak mampu” nya, bukan “guru ngaji” nya. Mereka tidak sadar, jawaban mereka menjadi justifikasi pemberian zakat kepada guru ngaji dkk, tanpa peduli mereka mampu atau tidak.

Sejak awal berdiri, NU sudah mengambil langkah tegas dan antisipasi melalui keputusan no.5 dalam Muktamar NU pertama di Surabaya tanggal 21 oktober 1926, bahwa “Tidak diperbolehkan mentasharufkan zakat untuk pendirian masjid, madrasah atau pondok-pondok dengan mengatasnamakan sabilillah dengan berdasar pada kutipan imam Qoffal, sebab pendapat yang dikutip imam Qoffal tersebut adalah dlo’if /(lemah)”. (lihat Ahkamul Fuqoha’: 1/09 – CV. Toha Putra Semarang 1960)

Masalah ini pernah dibahas juga oleh Jam’iyah Musyawarah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri pada tahun 1405 H./1984 M. Mari kita simak nukilannya :

Soal : Apakah boleh memberikan zakat kepada kiyai dengan atas nama kiyai?

Jawab: Tidak boleh, karena tidak termasuk ashnaf delapan, meskipun nama sabilillah, sebab yang dimaksud sabilillah adalah orang yang berperang dengan sukarela. Keterangan dari kitab Fathul Wahhab juz II hal. 27 :

(وِلِسِبِيْلِ اللهِ) وِهُوَ غَازٍ مُتَطَوِّعًا بِالْجِهَادِ.

Artinya :

“(dan untuk sabilillah) yaitu orang yang berperang dengan sukarela dalam jihadnya.

Sebagai referensi, mari kita simak kutipan Al Qaffal yang dianggap sebagai dali yang memperbolehkan zakat diberikan kepada kiai, ustadz
تفسير المنير الجزء الأول ص 244
ونقل القفال عن بعض الفقهاء فهم أجازوا صرف الصدقات الى جميع الوجوه الحير من تكفين الموتى وبناء الحصون وعماره المسجد للأن قوله في سبيل الله عام في الكل
Dari kutipan ini sebenarnya imam Al Qaffal pun mendefinisikan fi sabilillah bukan individunya, melainkan segala bentuk kebaikan, seperti mengkafani mayit, membangun dan memakmurkan masjid dll. Hal sama yang difatwakan oleh ulama’ kontemporer: Yusuf Qardhawi. Tapi ya itu, NU sudah menyatakan pendapat Imam Qaffal ini dloif, dia cuma dissenting opinion (halah opo kui). Lha apalagi yang diberi zakat malah individunya, tambah ra masuk!

Comments

comments

10 comments

    1. Ashnaf 8 adalah:
      1. Fakir (al Fuqara) – adalah orang yang tdak mempunyai pendapatan yang mencukupi untuknya dan keperluannya. Tidak mempunyai keluarga untuk mencukupkan nafkahnya seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal.
      2. Miskin (al-Masakin) – mempunyai kemampuan usaha untuk mendapatkan keperluan hidupnya akan tetapi tidak mencukupi sepenuhnya
      3. Amil – orang yang dilantik pemerintah untuk mengambil, menagih dan mengelola zakat.
      4. Muallaf – seseorang yang baru memeluk agama Islam.
      5. Riqab – seseorang yang terbelenggu dan tiada kebebasan diri (budak).
      6. Gharimin – penghutang muslim yang tidak mempunyai sumber untuk melunasi hutangnya
      7. Fisabilillah – orang yang berperang di jalan Alloh, sebagian ulama memasukkan segala hal kebaikan ke dalam kelompok ini, tapi bukan individu yang mengurusnya .
      8. Ibnus Sabil – musafir yang kehabisan bekal dalam perjalanan

  1. Amil zakat ialah suatu panitia atau badan yang dibentuk (atau dilegalkan) oleh pemerintah guna menangani permasalahan zakat dan segala seluk beluknya.kalau guru atau kiyainya kurang mampu bagaimana ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *