Mengucapkan Selamat Natal, Adakah Pendapat Hukum yang Membolehkan?

Posted by
14
views

“Ritual” tahunan itu tak berubah. Natal dan Tahun baru selalu saja diributkan ummat ini. Entah sampai kapan kita ini “hoby” rame-rame dan debat-debatan. Ya, walaupun lebih rame di medsos daripada dunia nyata.

Semangat menghargai pendapat yang berbeda hilang. Yang mengemuka adalah: kalau mengucapkan selamat natal pasti kafir. Wah, kalau begitu, semua presiden sampai kepala desa pasti kafir. Karena merekalah yang biasanya mengucapkan itu, karena pengayom semua agama dan golongan di daerahnya.

Sebelum Anda membaca dalil-dalil yang membolehkan pengucapan natal di bawah ini, kosongkan gelas Anda dulu.

Tanamkan dalam diri Anda, bahwa Islam ini tetap satu walau banyak perbedaan pendapat. Dan, pendapat para ulama itu, terutama yang terkelompokkan dalam 4 arus besar: maliki, hanafi, syafi’i dan hambali, tak ada satupun yang merasa paling benar. Kita dipersilahkan mengambil salah satu pendapat, tanpa mencela pendapat lain. Hendaknya difahami, perbedaan itu terjadi karena tidak adanya dalil qoth’i yang secara gamblang mencetuskan hukumnya.

Dalil-dalil dan hujjah yang melarang ucapan natal sudah tersebar luas, jadi tak perlu kita bahas disini.

Perlu saya cantumkan juga kutipan dari Imam Abu Ishaq asy-Syathibi (w. 790 H) berikut:

فإنه إذا كان فقد المفتي يسقط التكليف فذلك مساو لعدم الدليل؛ إذ لا تكليف إلا بدليل، فإذا لم يوجد دليل على العمل سقط التكليف به؛ فكذلك إذا لم يوجد مفت في العمل؛ فهو غير مكلف به، فثبت أن قول المجتهد دليل العامي، والله أعلم

“Jika tiada mufti disebuah tempat maka tiada pula taklif/beban syariat, sebab hal tersebut seperti ketiadaan dalil. Di mana tiada taklif tanpa dalil, dan jika tiada dalil maka tiada amal. Demikian pula jika tiada mufti, maka orang awam tidaklah ditaklif untuk melakukan sesuatu. Berdasarkan hal ini, maka disimpulkan bahwa pendapat mujtahid adalah dalil bagi orang awam. Wallahua’lam.”

Jadi pendapat mujtahid bagi umat (awam), pada dasarnya merupakan dalil yang juga dilegitimasi oleh syariat. Itu kalau Anda merasa sebagai orang awam. Ada banyak web-web yang menerangkan keharaman mengucapkan selamat natal dengan memaksakan penggiringan pemahaman atas banyak dalil. Padahal itu dalil-dalil umum, bahkan ada yang tak berhubungan sama sekali. Memaksa orang awam menikmati masakan yang sudah matang, tak boleh meributkan bagaimana memasaknya. Padahal tak ada paksaan makan makanan hasil koki tertentu kan?

Baiklah, berikut ini dalil-dalil yang membolehkan:

Wahbah Zuhayli seorang ulama madzhab Syafi’i kontemporer dalam salah satu fatwanya menyatakan bolehnya mengucapkan selamat natal:

لا مانع من مجاملة النصارى في رأي بعض الفقهاء في مناسباتهم على ألا يكون من العبارات ما يدل على إقرارهم على معتقداتهم.

Artinya: Tidak ada halangan dalam bersopan santun (mujamalah) dengan orang Nasrani menurut pendapat sebagian ahli fiqh berkenaan hari raya mereka asalkan tidak bermaksud sebagai pengakuan atas (kebenaran) ideologi mereka.

Majelis Fatwa Eropa

Majelis ini berpendapat bahwa, tak ada dalil apapun yang melarang umat Islam atau lembaga agama Islam untuk memberi selamat kepada non muslim, baik secara lisan maupun mengirim kartu, misalnya. Yang penting tidak mengandung simbol agama lain, yang bertentangan dengan keyakinan agama Islam. Seperti salib, yang Islam berkeyakinan, Isa bukanlah orang yang disalib.

Darul Ifta Mesir

Rumah fatwa mesir menyatakan tidak ada dalil syar’i yang melarang muslim mengucapkan selamat kepada hari raya non muslim. Dan tidak ada kondisi ” keluar dari agama Islam” bila mereka melakukan itu, sebagaimana difatwakan orang-orang yang memberat-beratkan agama ini. Yang pengambilan dalilnya tidak sempurna, mengabaikan susunan katanya yang, padahal, menjadi satu kesatuan dengan sebelumnya.

Dulu, Nabi Muhammad SAW menerima hadiah dari non muslim, menjenguk yang sakit, bermuamalah dengan mereka, tolong-menolong pada masa damai dan masa perang, selama mereka tidak berkhianat.

Semua itu berada dalam koridor toleransi, namun harus dibarengi dengan mengingkari keyakinan mereka dalam hati.

Dalam penghormatan kepada sesama manusia, Alloh SWT tak pernah membedakan yang muslim dan non muslim.

، ؛ قال تعالى: ﴿وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا﴾ [النساء: 86]

Memberi selamat hari raya, termasuk penghormatan, yang disyariatkan sebagai balasan kepada mereka yg menghormati kita. Karena mereka juga mengucapkan selamat hari raya kita.

Adapun yang berdalil dengan ayat:

: وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا﴾ [الفرقان: 72

sebagai dalil dilarangnya ucapan selamat, adalah pendapat yang sudut pandangnya pendek dan ceroboh terhadap ayat Al Qur’an. Karena memang tak ada kata yang menyatakan begitu. Itu hanyalah tafsir yang dipaksakan, yang bisa digunakan untuk mengkafirkan orang lain.

Adapun tuduhan tasyabbuh dan persetujuan terhadap simbol-simbol non muslim, akan mudah ditepis. Karena yang dilarang syariat adalah keserupaan dan persetujuan dalam perbuatan dan keyakinan. Padahal kita cuma mengucapkan selamat. Bukan mengikuti mereaka.

Wallahu’a’lam.

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *