Megahnya Masjid Kita, Buat Apa?

Posted by
16
views

Ada sebuah masjid, yang laporan saldo tiap Jum’at selalu nol rupiah. Uang masjid digunakan untuk pemberdayaan ekonomi jama’ahnya. Takmir masjid ini punya data berapa jama’ahnya, berikut pekerjaan, status ekonomi, bahkan golongan darahnya. Mereka punya ATM beras, bagi jama’ah yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya. Bahkan kamar untuk menginap bagi musafir pun ada, kabarnya sekelas hotel bintang tiga. Masjid ini buka 24 jam, tak pernah digembok kuncinya.

Jangan dibayangkan masjid ini indah dan megah. Tidak. Tampilannya biasa saja. Bersahaja, namun juga tidak jelek. Kesan megah dan sombong tak tersirat dari tampilannya.

Yang paling dahsyat menurut saya adalah mentalnya. Mental mereka adalah mental tangan di atas. Pengurus masjid ini pantang meminta. Baik kepada jamaahnya, maupun proposal kepada lembaga lain. Apalagi ngemis di pinggir jalan, jauh dari kamus mereka.

Namun, mereka memudahkan semaksimal mungkin, orang yang ingin berinfak. Rekening ada, kotak amal dimana-mana. Prinsipnya memberi kesempatan semua orang untuk beramal, bukan meminta!

Masjid itu, the one, and still the only one: Masjid Jogokariyan Jogjakarta.

***

Beredar kabar, masjid di kampung saya akan dipugar tahun depan. Masjid ini, walaupun masjid jami’ untuk ukuran kampung, tapi letaknya tersembunyi. Tak terlihat dari jalan lintas antar kampung. Jadi jangan harap banyak musafir yang lewat numpang shalat di masjid ini. Kalaupun ada, itu kebetulan. Atau kepepet.

Beberapa tahun yang lalu sebenarnya masjid ini sudah dipugar, bahkan dibuat menara yang menjulang tinggi. Yang biayanya sebenarnya tak terjangkau masyarakat. Sampai ada “hutang” yang baru dapat dilunasi dengan beberapa periode penggalangan dana.

Pembongkaran, pemugaran masjid sebenarnya hal biasa. Seperti juga bangunan lainnya. Menjadi tak biasa karena jauh-jauh hari, Rasulullah Saw sudah memprediksi hal ini.

سنن أبي داوود ٣٧٩: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْخُزَاعِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسٍ وَقَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

Dalam Sunan Abu Daud 379 disebutkan begini: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al Khuza’i telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ayyub dari Abu Qilabah dari Anas dan Qatadah dari Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan tiba Hari Kiamat sampai manusia bermegah-megahan dalam membangun Masjid.”

Menguatkan hadits di atas, Ibnu Abbas ra berkata, “ Sungguh, umat ini akan menghiasi masjid masjid sebagaimana orang orang Yahudi dan Nasrani menghiasi tempat tempat ibadah dan gereja gereja mereka.”

Jadi tingkah laku ummat sekarang ini sudah diingatkan Rasulullah sejak sekitar 15 abad yang lalu.

Lalu benarkah tindakan bermegah-megahan itu?

Kalau kita membangun rumah pribadi nan megah, dengan tujuan pamer, masih manusiawi lah. Karena orang akan melihat kita sebagai orang yang mapan dan terhormat. Ya begitulah orang mengukur orang lain di jaman ini. Harta sebagai ukuran.

Lalu mari tanya diri kita sendiri, untuk apa memperindah masjid kalau bukan untuk riya’? Pertanyaan berikutnya, mau dipamerkan kepada siapa? Nilai ibadahnya dimana?

Bahkan sering terjadi, masjid yang dibongkar itu sebenarnya masih bagus, masih kuat, dan masih muat menampung jama’ah masjid. Sering terjadi, masjid dibongkar total, yang berarti menghentikan mengalirnya pahala amal orang-orang yang membangunnya dahulu. Na’udzubillah.

Jadi tujuan memugar, bahkan seringkali membongkar lalu membangun yang baru, hanya bertujuan riya’ dan berbangga-banggaan.

“Keburukan” membangun masjid jaman now ini masih ditambah dengan aksi mengemis di jalanan. Cobalah kita fikir dengan akal sehat. Orang gak punya duit, membongkar rumahnya untuk dibangun yang baru, lebih megah, tujuannya untuk pamer, eh meminta-minta di jalanan. Lalu unsur kebaikan apa yang tersisa?

“Keburukan” itu makin menjadi-jadi dengan adanya imbal hasil peminta-minta di jalan itu dengan pihak masjid. Bayangkan, Anda menyumbang dua puluh ribu rupiah, tujuannya agar jadi bagian dari masjid yang pahalanya mengalir, malah digunakan membeli rokok para peminta-minta itu. Ikhlaskah Anda?

Lucunya, virus bermegah-megahan membangun masjid ini menular kemana-mana. Seolah aib kalau masjid masih tampilan lama, lalu mulai kasak-kusuk ikut-ikutan membongkar masjid. Kalau dana kurang, tinggal mengemis di jalan, pasti beres.

***

Pertanyaan buat kita semua: mengapa tidak meneladani yang dilakukan masjid Jogokariyan Jogjakarta? Masjidmu megah, mentereng, indah buat apa? Bisakah itu dibanggakan di depan mahkamah akhirat kelak?

Sebenarnya kita semua sadar menghiasi masjid dan bermegah-megahan atasnya termasuk salah satu tanda kiamat. Dan itu buruk. Namun, mengapa kita tetap melakukannya?

Maka, berhentilah kawan!

Comments

comments