Kiyai Cabul

Posted by
20
views

Hari ini judulnya nyleneh. Itu karena perasaan saya campur aduk. Antara marah, prihatin atau muak.

Seperti tak henti-hentinya kasus pencabulan melanda lingkungan elite NU di wilayah saya. Dari kiyai pondok sampai guru sekolah Maarif.

Yang terakhir kasus pencabulan anak kelas 5 oleh kepala MI.

Padahal kenyataan sebelumnya sudah bikin miris. Di daerah saya ada sembilan pondok pesantren. Tiap pondok itu dikelola satu kiyai. Celakanya dari sembilan itu, yang kiyainya cabul ada tiga.

Dua lagi juga kasus. Walau bukan pencabulan. Satu kasus nyolong listrik. Satunya korupsi uang yayasan.

Jadi? Tinggal empat yang selamat. Itu di daerah mana? Nama pondoknya apa? Gak usah disebutin. Nanti ghibah. Semoga tulisan ini bukan ghibah (na’udzubillah).

Kondisi itu masih diperparah dengan adanya ketua NU yang selingkuh. Ketua LP Ma’arif yang korupsi uang seragam. Ketua entah apalagi di NU yang korupsi apa saja.

Ada lagi? Beredarnya uang di pemilihan tiap jenjang kepengurusan NU, yang menang bukan yang terbaik, tapi yang berduit.

Ada lagi? Masih banyak. Apakah tulisan ini ingin menjatuhkan NU? Sebaliknya, ini ngeman NU.

Saya, seperti kebanyakan santri, adalah NU kultural. Kami NU karena jiwa kami sejalan, bahkan larut dalam denyut NU. Tapi kami tak punya KTA NU. Kalau ada sensus penduduk NU, mungkin banyak dari kami yang tak terhitung.

Tapi jangan ditanya rasa sayang kami terhadap NU. Tulisan inipun sebagai wujud dari rasa sayang itu. Karena kebanyakan kami, tak punya kekuasaan apa-apa di NU. Karena kami sadar, tugas kami membimbing akar rumput dan generasi NU. Di TPA dan madrasah diniyah.

Mau dibawa kemana NU ini kalau seperti ini. Saya cuma berharap, situasi ini hanya di daerah saya.

Namun, sebagai langkah preventif,  perlu dibuat semacam komite etik di NU. Agar orang-orang yang bermasalah mau dipaksa meletakkan jabatannya. Selain untuk efek jera, juga agar nama kiyai dan pengurus NU terpelihara.

Sampai sekarang, orang-orang bermasalah, yang saya sebut di atas, masih tetap bercokol di posisinya. Tanpa ada sanksi dan tetap bangga disebut kiyai. Padahal kiyai cabul.

Kalau dibiarkan, jangan salahkan kalau suatu saat ada yang bilang NU tak bermoral. Naudzubillah!

Comments

comments