Kafir versus Non Muslim

Posted by
54
views

Menyimak isi medsos hari ini benar-benar bikin geleng-geleng kepala. Prihatin, pengen tepok jidat, tapi lucu juga.

Yang bikin prihatin adalah begitu masifnya isu agama dalam perpolitikan negara ini. Celakanya, benar-salah tidak lagi ditentukan oleh kesesuaian dengan Qur’an Hadits ataupun Atsar Sahabat dan Ijma’ Qiyas. Semuanya bias. Tergantung di sisi mana Anda berdiri.

Anehnya, yang dari awal begitu kental membawa bawa agama ke kancah politik, seolah sekarang cuci tangan. Kubu sebelahnya, yang mengimbangi permainan dengan mengangkat seorang kiyai di lini depan, habis kena jab dan uppercut, bahkan sang kiyai bukan lagi dianggap ulama. Pokoknya kalau beda pilihan politik, tak boleh bergelar ustadz, apalagi kiyai.

Istilah ustadz pun terdistorsi begitu parahnya. Anda pasti tau kemana telunjuk saya arahkan. Ya, partai yang seluruh pengurusnya “ustadz”.

Yang kasihan itu ustadz-ustadz betulan yang membimbing santrinya dengan tulus. Dari alif ba ta sampai utawi iki iku. Sampai-sampai seorang yang disebut ustadz, karena lebih kental ke-NU-annya harus diubah ke syaikh. Mungkin karena distorsi ustadz partai itu.

Yang lagi ramai, NU yang menghimbau penggunaan kata non muslim, bukan kafir, untuk ummat selain Islam bagai terkena tsunami fitnah dan hujatan. Dari segala penjuru.

Mereka ini mayoritas kader-kader partai ustadz itu tadi. Yang sudah kebal dengan dosa fitnah dan menghujat. Bagi mereka, itu asyik. Tanpa tabayyun lagi, begitu dianggap aneh dan bisa digoreng, langsung wuzzz. Narasi-narasi ejekan dan fitnah memenuhi ruang-ruang medsos kita.

Mereka ini orang-orang awam, bahkan membaca Al-Qur’an pun belum tentu bisa. Tapi dengan mudahnya mencaci para ulama NU. Karena apa? Beda pilihan politik! Cuma itu? Ya. Picik? Pasti!

Tulisan ini bukan untuk mereka, karena saya sadar, mata dan fikiran mereka sudah buntu. Tak ada kebenaran di toko sebelah. Semua salah.

Tulisan ini untuk Anda yang berfikiran terbuka. Buang dulu sekat 01 dan 02 itu.

Mari kita baca fatwa Prof. Dr. Yusuf Qardhawi, seorang ulama kontemporer yang sudah diakui keilmuannya di dunia Islam. Uraiannya puanjang banget. Saya nukilkan sebagian:

غير المسلمين بدل “الكفار”

ومن الجدال بالتي هي أحسن، المطالب به المسلمون، وخصوصا في عصر العولمة: ألا نخاطب المخالفين لنا باسم الكفار، وإن كنا نعتقد كفرهم. ولاسيما مخالفونا من أهل الكتاب.

Non muslim sebagai ganti kuffar. Dan diantara perwujudan “aljidaal billadzi hiya akhsan” yang dibutuhkan oleh orang Islam, khususnya di abad globalisasi ini: agar jangan memanggil orang yang berbeda (keyakinan) dengan kita, dengan sebutan kafir. Walaupun kita yakin mereka kafir. Apalagi mereka dari ahlul kitab (yahudi, nasrani)

وذلك لأمرين:

أولهما: إن كلمة (كفار) لها عدة معان، بعضها غير مراد لنا يقينا، من هذه المعاني: الجحود بالله تعالى وبرسله وبالدار الآخرة، كما هو شأن الماديين الذين لا يؤمنون بأي شيء وراء الحس، فلا يؤمنون بإله ولا بنبوة ولا بآخرة.

Hal itu dilandasi 2 hal:

1. Kalimat kuffar punya makna bermacam-macam. Sebagian tidak bisa kita yakini 100% bahwa mereka menentang Alloh Swt, Rasul dan adanya akhirat, sebagaimana orang atheis yang tidak percaya segala hal di luar nalar mereka. Mereka inilah yang benar-benar tak percaya Tuhan, Nabi, maupun hari akhir.

ونحن إذا تحدثنا عن أهل الكتاب لا نريد وصفهم بالكفر بهذا المعنى، إنما نقصد أنهم كفار برسالة محمد وبدينه. وهذا حق، كما أنهم يعتقدون أننا كفار بدينهم الذي هم عليه الآن وهذا حق أيضا.

Ketika kita berbicara tentang ahli kitab, kita tidak bermaksud melabeli mereka dengan kafir yang seperti ini. Kita hanya bermaksud bahwa mereka mengingkari risalah Nabi Muhammad Saw dan agama yang dibawanya. Dan ini suatu yang haq. Sebagaimana mereka yakin bahwa kita ingkar terhadap agama mereka saat ini.

والثاني: أن القرآن علمنا ألا نخاطب الناس – وإن كانوا كفارًا – باسم الكفر؛ فخطاب الناس – غير المؤمنين – في القرآن، إما أن يكون بهذا النداء (يا أيها الناس) أو (يا بني آدم) أو (يا عبادي) أو (يا أهل الكتاب).

2. Bahwa Al-Qur’an mengajari kita untuk tidak menyebut sesama manusia – meskipun kafir- dengan sebutan kafir. Sebutan non mukmin dalam Al-Qur’an kadang menggunakan wahai manusia, wahai anak adam, wahai hambaku, atau wahai ahli kitab.

ولم يجئ في القرآن خطاب بعنوان الكفر إلا في آيتين: إحداهما خطاب لهم يوم القيامة: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ كَفَرُوا لا تَعْتَذِرُوا الْيَوْمَ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ} (التحريم: 7).

Dalam Al-Qur’an, penyebutan orang-orang kafir hanya ada di 2 ayat. Salah satunya pemanggilan mereka di hari kiamat dalam surat Attahrim ayat 7.

والأخرى قوله تعالى: { قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ.لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ. وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ.وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ.وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ.لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ} (الكافرون: 1-6).

فكان هذا خطابا للمشركين الوثنيين الذين كانوا يساومون الرسول الكريم على أن يعبد آلهتهم سنة ويعبدوا إلهه سنة، فأرادت قطع هذه المحاولات بأسلوب صارم، وبخطاب حاسم، لا يبقي مجالا لهذه المماحكات، فأمر الرسول أن يخاطبهم بهذه الصورة القوية، بما فيها من تكرار وتوكيد، ومع هذا ختمت السورة بهذه الآية التي تفتح بابا للسماحة مع الآخر، حين قالت: { لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ }.

Satunya lagi dalam surat Al-Kafirun ayat 1, yang merupakan panggilan kepada orang musyrik yang menawar keimanan kepada Rasul Saw dengan saling bergantian menyembah Tuhannya Nabi Saw dan Tuhan mereka, setahun-setahun. Surat ini berulang ayatnya sebagai penegasan dan ditutup dengan ayat toleransi: bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Itu baru salah satu pendapat ulama (ini ulama beneran coy) yang saya ketahui. Kenyataannya tentu masih banyak lagi. Ilmu saya baru seujung kukunya para guru-guru saya, masyayikh, dan kiyai-kiyai NU itu.

Jadi yang menganggap bahtsul masail itu ngawur, silahkan tunjukkan hujjah Anda. Tak usah bikin status mengejek, padahal tak punya ilmu. Simpel kan?

Pendapat lengkap Prof. Dr. Yusuf Qardhawi ada di link berikut ( Jangan dibuka kalo baru ngaji iqro’ jilid 4).

https://www.al-qaradawi.net/node/2307

Comments

comments