JSIT sudah berlari kencang, Apa Kabar LP Ma’arif NU?

152
views

Mungkin nama JSIT belum setenar LP Ma’arif NU, tapi “produknya” yang berupa sekolah-sekolah Islam terpadu sudah “merajalela” dan “menjamur” di sekitar kita. Bila Anda orang “normal” dan tidak tinggal di goa yang jauh dari peradaban, pasti mengenal sekolah-sekolah model ini: SDIT, SMPIT, SMAIT bahkan sudah ada TKIT dan mungkin nanti ada IAIIT (Institut Agama Islam -Islam Terpadu) atau bahkan UIT (Universitas Islam Terpadu).

Lalu apa yang salah dengan Sekolah Islam Terpadu? Tidak ada yang salah saudaraku. Sekolah model ini justru memperkaya khazanah pendidikan di Indonesia kita ini. Mereka punya militansi, kredibiltas, kualitas dan jaringan yang mumpuni. Namun kejadian baru-baru ini tentang seorang guru di Bekasi bernama Rabiatul yang “dipecat” dari SDIT tempatnya mengajar karena menyalahi “arahan” yayasan untuk memilih calon tertentu , harusnya menyadarkan kita bahwa JSIT mempunyai afiliasi politik tertentu dan  bisa dimanfaatkan kapan saja. Disamping itu,disinyalir beberapa sekolah IT mengajarkan paham keagamaan yang ekslusif dan puritan plus fanatisme terhadap kelompok tertentu yang tentu saja akan berbenturan dengan garis inklusifitas keislaman ala NU.

Yang mengherankan adalah, bila NU sebagai sebuah ormas yang sudah cukup matang dalam dunia pendidikan keislaman di Indonesia melalui LP Ma’arifnya tidak tergugah dengan perkembangan JSIT ini. Padahal sebagai sebuah ormas yang melek politik, NU kadang-kadang lebih politis dari semua partai politik. Maklum, NU sudah pernah benar-benar menjadi partai politik di era Soekarno. Dan, bagi NU, politik itu memang perlu untuk menempatkan kader-kadernya di lingkar kekuasaan, agar bisa merubah kemungkaran dengan “tangan” kekuasaan itu.

Jadi waspadalah! Dunia sudah berubah saudaraku, jangan terus tidur dan dininabobokkan dengan kata “mayoritas”. Suatu saat, bila tidak bergerak, wajah Islam yang eksklusif akan menjadi mayoritas di negeri ini. Jangan takut dan malu belajar dari JSIT.

Kalau kita amati, sekolah IT biasanya dibackup oleh jaringan bisnis BMT yang isinya ya kalangan mereka juga, namun nasabahnya mayoritas warga NU. Salah satu unsur BMT adalah baitul maal yang mengumpulkan zakat, infaq dan sedekah yang lagi-lagi penyetor mayoritasnya adalah orang NU, namun manfaatnya untuk kalangan mereka sendiri. Nah, salah satu sumber pendanaan sekolah IT adalah dari BMT-BMT ini. (Untungnya sudah mulai ada BMT berlabel Ma’arif walaupun masih bergerak secara lokal).

Hasilnya, mari kita lihat fakta di lapangan. Sekolah-sekolah di bawah nama besar LP Ma’arif (hampir) selalu kalah pamor dengan sekolah-sekolah IT. Lebih ironis lagi, ada standar tinggi yang mereka yakini ada di label Islam terpadu itu, sehingga biaya selangitpun tak masalah. Branding sekolah IT sebagai sekolah elit dan berkualitas rupanya cukup berhasil.  Dan harus kita akui itu, mereka punya kualitas! Bandingkan dengan sekolah-sekolah di bawah LP Ma’arif, kesan murah (atau malah murahan?) sudah kadung melekat, sehingga bila ada Sekolah Ma’arif berbiaya mahal dianggap tidak wajar.

Kuncinya terletak di kualitas pendidikan dan branding. Memang JSIT ini lahir di era dimana sekat antara sekolah swasta dan negeri semakin hilang dengan adanya dana bantuan operasional sekolah (BOS), bahkan sekarang banyak sekolah-sekolah negeri yang terpaksa harus berjibaku menghadapi persaingan langsung dengan swasta. Sebaliknya, LP Ma’arif lahir di tengah peng-anakemas-an sekolah negeri dan hanya menjadi “buangan” siswa yang tidak diterima di sekolah tersebut. Masih ingat sistem NEM era 80-90an ? Nah, (mayoritas) yang terjaring menjadi siswa sekolah Ma’arif adalah yang NEM nya rendah dan tidak memenuhi syarat masuk sekolah negeri.

Kesan sekolah murah(an?) harus terus dikikis Ma’arif dengan terus meningkatkan kualitas dan menyeleksi sekolah – sekolah di bawah naungan LP Ma’arif yang sudah established untuk menjadi sekolah unggulan. Tinggal copy dan paste yang dilakukan JSIT. Sebagai contoh kecil adalah target hafalan sekian juz untuk tingkat tertentu yang ternyata sangat menarik perhatian para orang tua yang “melek agama”, penekanan shalat-shalat sunnah, shalat berjama’ah dan standar akhlak yang tinggi.

Tentang akhlak ini harus digarisbawahi, karena benteng terakhir akhlak generasi muda adalah agama. Contoh kecil lagi, adakah siswi sekolah LP Ma’arif yang hamil di luar nikah? Banyak sekali. Berbanding terbalik dengan siswi-siswi di sekolah JSIT yang dijaga pergaulannya sedemikian rupa. Memang perbandingan ini tidak apple to apple, karena jumlah siswi dan jaringannya berbeda, namun yang paling penting adalah usaha JSIT untuk meminimalisir hal tersebut sangat kuat, sebaliknya LP Ma’arif terkesan melakukan “pembiaran”.

Jadi mari berbenah! Tidak perlu reaktif seperti ratusan warga dari desa Sumber Rejo, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur yang menolak pendirian Sekolah Menengan Pertama Islam Terpadu (SMP IT) oleh Yayasan Pondok Pesantren Attoyyibah Nurul Fikri. Hal seperti ini disamping “memalukan” juga tak akan bisa membendung perkembangan sekolah-sekolah IT di Indonesia. Saingi kualitas dengan kualitas yang sepadan atau yang lebih baik, sehingga lambat laun tidak ada lagi warga NU yang menyekolahkan anaknya ke sekolah IT secara otomatis.

Semua entitas lazimnya melakukan berbagai cara untuk mempertahankan eksistensinya. Indonesia sebagai negara, NU sebagai sebuah organisasi pasti ingin terus mewarnai dunia. Bila LP Ma’arif tidak “bangun” dari sekarang, siap-siap NU punah dari muka bumi, atau minimal menjadi organisasi gurem di Indonesia. Kecuali memang kita rela anak-anak muda NU berbondong-bondong masuk sekolah-sekolah IT dan menjadi kader organisasi yang meng-underbow-i mereka. Relakah?

Comments

comments

One thought on “JSIT sudah berlari kencang, Apa Kabar LP Ma’arif NU?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *