Jidat yang Menghitam

Posted by
9
views

Ada seorang teman yang begitu membenci orang yang jidatnya hitam. Riya’ katanya. Biasanya orangnya rewel dan gak mau kalah. Pengennya kalau jual mahal, kalau beli murah. Lho? Ya semua orang pasti pengennya begitu.

Dan, menurut saya, itu persepsi pribadi. Masing-masing orang punya pengalaman berbeda dengan “jenis” manusia tertentu.

Tapi, menggeneralisir begitu juga tak boleh. Orang-orang yang jidatnya hitam, biasanya berjenggot dan bercelana cingkrang, banyak juga yang baik.

Dan mereka ini memang orang baik. Gimana gak baik, mereka melaksanakan sunnah-sunnah yang tidak semua orang mau melakukan.

Memelihara jenggot dan menghindari isbal adalah sunnah. Yang mungkin saya ragu adalah jidat hitamnya. Apakah terjadi secara alami atau disengaja?

Kalau disengaja jelas riya’, dan itupun tak ada tuntunannya. Kalau terjadi secara alami karena memang sering sujud, berarti jempolan.

Jadi, darimana asal soal jidat hitam ini sebenarnya?

Mari kita baca potongan surat Al-Fath ayat 29 berikut:

..سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ..

..ada tanda di wajah mereka, akibat dari bekas sujud..

Lalu apakah bekas sujud yang merupakan ciri orang sholeh, mesti jidat yang menghitam? Mari kita simak fatwa syaikh Ibnu Utsaimin berikut ini:

سئل الشيخ ابن عثيمين حفظه الله : هل ورد أن العلامة التي يحدثها السجود في الجبهة من علامات الصالحين ؟

فأجاب :

ليس هذا من علامات الصالحين ، ولكن العلامة هي النور الذي يكون في الوجه ، وانشراح الصدر ، وحسن الخلق ، وما أشبه ذلك .

Syaikh Ibnu utsaimin ditanya : apakah tanda yang terlihat di jidat karena sujud merupakan tanda orang sholih? Beliau menjawab, bukan. Tanda orang sholih adalah cahaya di wajah, dada yang lapang, akhlak yang baik, dan yang sejenis itu.

أما الأثر الذي يسبِّبه السجود في الوجه : فقد يظهر في وجوه من لا يصلُّون إلا الفرائض لرقة الجلد وحساسية عندهم ، وقد لا تظهر في وجه من يصلي كثيراً ويطيل السجود .

Adapun bekas sujud di wajah karena sebab sujud, kadang-kadang juga muncul pada orang yang sholatnya cuma fardlu aja, karena kulitnya memang tipis dan terkena akibat gesekan. Kadang-kadang malah tidak muncul pada orang yang banyak sholat dan memanjangkan (waktu) sujudnya.

Dari atsar sahabat nabi diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698 disebutkan bahwa Abdullah bin Umar bin Khattab RA. tidak menyukai adanya bekas hitam di dahi seorang muslim.

عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَالَ : مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ : أَنَا حَاضِنُكَ فُلاَنٌ. وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟
Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”.
“Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut. Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?”.
Jadi jidat hitam bukanlah yang dimaksud oleh ayat tentang atsarus sujud di atas. Tidak usah dihitam-hitamkan. Kalau terjadi secara alami ya biarkan saja. Malah kalau merusak penampilan, boleh dihilangkan.
Wallohu’a’lam.

Comments

comments