Jalan Tol itu Off Balance Sheet, Kenapa diributkan?

Posted by
21
views

Anda beli truck, secara kredit, untuk angkut sawit. Hasil ngangkut sawit ini cukup untuk bayar cicilan plus bayar sopir. Trus anak istri ribut? Berarti mereka gak mudeng.

Skema seperti kredit truck itulah yang dipakai Jokowi untuk membangun tol. Jalan tol itu bisa membayar hutangnya sendiri ketika nanti beroperasi. Ketika hutang lunas, jalan itu jadi milik negara. Tinggal negara menentukan, mau digratiskan, atau dikelola untuk pendapatan negara. Dan, skema itu berulang terus untuk daerah-daerah yang bernilai ekonomi tinggi. Ibaratnya, pabrik sawit butuh banyak pasokan, kebun sawit juga banyak, jadi butuh alat angkut banyak. Tinggal meyakinkan perusahaan leasing truck agar mempercayai Anda.

Jadilah Anda juragan truck tanpa mengganggu cashflow keuangan keluarga Anda sedikitpun. Itulah yang dinamakan off balance sheet. Terjemahan ngawurnya, tak masuk pembukuan.

Herannya, baru-baru ini  Sandiaga Uno membanggakan proyek Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) yang dibangun tanpa utang. Dia mengatakan, ‘tanpa utang’ yang dimaksud adalah tidak menggunakan pembiayaan dari APBN, yakni menggunakan pola kemitraan dengan badan usaha atau swasta.

Lah, selama ini kemitraan seperti itulah yang dilakukan pemerintah. Jalan tol yang dibangun pemerintah saat ini banyak yang menggunakan skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Hanya, karena volume proyeknya sangat besar, tak bisa sepenuhnya diserap badan usaha di dalam negeri. Di titik inilah investor luar negeri masuk. Lalu kenapa pada ribut?

Adalagi yang meributkan penjualan konsesi ruas jalan tol yang sudah dibangun. Padahal pemerintah melakukan itu untuk lebih banyak lagi membangun jalan tol di daerah lain. Dan yang perlu dipahami, yang dijual adalah konsesinya, bukan jalan tolnya.

Konsesi adalah hak untuk mengelola. Jadi pada kasus kredit truck di atas, konsesi adalah hak mengangkut sawitnya. Jadi misal Anda punya 50 truck dan jatah setor 50 trip angkutan sawit ke sebuah perusahaan. Anda dapat peluang 10 trip, tapi perusahaan leasing sudah tak mau lagi memberikan kredit. Lalu Anda berikan 25 trip, dalam rentang waktu tertentu, ke teman Anda dengan harga yang cukup tinggi, karena prospek ke depannya bagus. Hanya karena dia tak punya truck dan sopirnya, dia menyewa ke Anda. Uang sewa ini cukup untuk membayar sopir dan angsuran trucknya.

Apa yang terjadi? Anda dapat uang cash untuk membeli 10 truck, yang hasil ngangkut sawitnya bisa ditabung. Akhirnya setelah angsuran 50 truck lunas, Anda punya 60 truck, plus hasil bersih pengangkutan sawit.

Jadi pada masanya nanti, setelah hak konsesi itu selesai, tol-tol yang mereka bangun itu akan menjadi milik negara. Dan itu tanpa membebani APBN sama sekali. Cerdas bukan?

Comments

comments