Islam Nusantara Benci Arab?

238
views

Entah siapa yang memulai, dalam linimasa facebook sekarang beredar perdebatan tentang Arab dan Nusantara. Banyak yang mengatakan Islam Nusantara membenci Arab. Padahal, sebenarnya banyak dari kita ini yang bingung, Islam Nusantara ini siapa? Dan kapan “organisasi” ini mendeklarasikan kebencian kepada Arab?

Diakui atau tidak, disadari ataupun tidak Islam Nusantara jelas mengarah ke ummat Islam yang berhaluan Aswaja ala NU, karena istilah ini pertama kali dicetuskan oleh alm. KH. Hasyim Muzadi, yang selanjutnya sering juga diungkapkan oleh KH. Said Aqil Siraj, keduanya tokoh Nahdlatul Ulama. Lambat laun istilah ini sering dipakai oleh berbagai kalangan, termasuk presiden Jokowi.

Lalu benarkah NU a.k.a Islam Nusantara membenci Arab? Benar seandainya orang NU sholat pakai bahasa jawa, menghapus pelajaran bahasa arab/ nahwu-shorof di pesantren-pesantren NU, membenci para habaib keturunan Nabi, mengharamkan ibadah haji ke Makkah dan Madinah dan lain-lain hal yang tidak masuk akal.

Lalu apa sebenarnya yang melatarbelakangi ungkapan Islam Nusantara benci Arab? Lagi-lagi politik saudaraku! Pergulatan politik yang dimulai di pilkada DKI yang membelah ummat Islam menjadi 2 bagian besar lah biang keroknya. Dan seperti biasanya, ummat ini gampang sekali dipecah belah dengan logika-logika yang diputarabalikkan kemudian mendarah daging, lalu memusuhi yang tidak sepaham.

Ketahuilah saudaraku, Islam memang ditakdirkan terpecah-pecah menjadi puluhan kelompok, tapi tidak ditakdirkan untuk saling bermusuhan. Mari kita hentikan saling fitnah untuk keuntungan masing-masing kelompok politik dan mulailah membuka hati untuk pemikiran yang berbeda.

Para ulama’ pelopor madzhab-madzhab mu’tabar sudah mencontohkan bahwa mereka berbeda pendapat, tapi saling menghormati dan saling menyayangi.

Dalam suatu kisah, diceritakan bahwa setelah berguru pada banyak ulama di Mekah, Imam Syafi’i ingin sekali melanjutkan pengembaraannya ke Madinah. Di Madinah ada Imam Malik, ulama yang termashur itu. Di hadapan Imam Malik, Imam Syafi’i melafalkan isi al-Muwatta’, kitab yang sebelumnya sudah dihafalnya saat berada di Mekah. Imam Malik mengagumi Imam Syafi’i dan begitu pula sebaliknya.

Dalam tradisi Mazhab Syafi’i, saat melaksanakan shalat Shubuh dibacakan doa Qunut. Berbeda dalam tradisi Mazhab Maliki, tak ada doa Qunut dalam salat subuh. Namun, perbedaan tradisi itu tak membuat hubungan keduanya retak. Mereka tetap menjadi guru dan murid yang saling menghormati pendapat masing-masing.

Suatu hari, Imam Syafi’i berkunjung dan menginap di rumah Imam Malik. Saling berkunjung dan menginap itu sudah menjadi kebiasaan antara keduanya. Imam Syafi’i diminta gurunya menjadi imam saat melaksanakan salat subuh. Karena ingin menghormati gurunya, Imam Syafi’i tak membaca doa Qunut dalam salat berjama’ah itu.

Begitu pun sebaliknya. Di lain hari, Imam Malik menginap di kediaman Imam Syafi’i. Saat Shubuh, mereka melaksanakan salat subuh berjama’ah, Imam Syafi’i meminta gurunya menjadi imam salat. Dengan alasan yang sama, Imam Malik pun membaca doa Qunut.

Jadi apa artinya ilmu kita semua dibanding beliau berdua? Mengapa kita tidak saling menghormati dan menyayangi dalam perbedaan? Sadarlah, politic is politic! Jangan sampai tuduhan dan fitnahan tak berdasar semacam ini menjamur di kalangan saudara kita sendiri. Kita yang rugi, mereka yang berpesta pora!

Comments

comments

3 thoughts on “Islam Nusantara Benci Arab?

  • March 15, 2018 at 11:35 am
    Permalink

    Kenapa dengan politik nya antara nusantara dan arab..?
    Sejak kapan mulai konflik ini saya tidak pernah lihat di facebook?

    Reply
    • May 3, 2018 at 2:23 pm
      Permalink

      Sepertinya mencuat sejak istilah ini dicetuskan oleh KH. Hasyim Muzadi, Wallahua’lam

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *