Ijma’ Ulama versus Ijtima’ Ulama

381
views

Ijma’ ulama atau ijtima’ ulama. Pilih mana? Apa bedanya?

Ijma’ ulama adalah salah satu sumber hukum agama Islam selain Al-Qur’an, Al Hadits, dan qiyas.

Ijmak atau Ijma’ (إجماع) adalah kesepakatan para ulama setelah masa Rasulullah Saw, dalam menetapkan hukum-hukum dalam agama berdasarkan Al-Qur’an dan Al Hadits dalam suatu perkara yang terjadi.

Ijma’ dianggap sah bila ada kesepakatan seluruh (ingat ya, seluruh, bukan hanya kelompok tertentu) dari kalangan umat Islam (ulama).

Ijma’ ada dua.

Ijma’ Qauli atau Fi’ly,  para ulama’ mengeluarkan pendapatnya dengan lisan, tulisan ataupun perbuatan yang menegaskan persetujuannya atas pendapat mujtahid lain di masanya. Contohnya tarawih 20 raka’at yang dilakukan di masa Umar bin Khattab RA. Ini termasuk ijma’ fi’ly.

Satu lagi Ijma’ Sukuti. Para ulama’ diam, tidak mengatakan pendapatnya. Diam di sini dianggap menyetujui. Contohnya adzan 2 kali dan iqamah shalat Jum’at yang dilakukan khalifah Utsman bin Affan RA. Seluruh ulama yang hidup saat itu tidak ada yang menentangnya. Diamnya para ulama saat itulah dianggap persetujuan.

Lalu apa bedanya dengan ijtima’ ulama? Kalau yang ini bukan dasar hukum apapun. Ijtima’ itu artinya berkumpul. Ijtima’ ulama berarti kumpulnya ulama. Istilah ini hanya ada di Indonesia. Dan menjelang pilpres ini aja. Sebenarnya saya ragu menulisnya. Ijtima’ ulama atau ijtima’ “ulama”?

Hasil ijtima’ “ulama” inipun partisan dan tak ada kaitannya dengan ibadah sama sekali.

Yang lucu, hasil ijtima’ ini diabaikan oleh seseorang yang direkomendasikan para “ulama” itu.

Harusnya, rekomendasi dicabut. Direkomendasikan kok tidak patuh. Kenyataannya? Au ah gelap 🙂

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *