Hormatilah Orang Yang (tidak) Puasa

Posted by
10
views

“Maaf ya mas, saya makan roti, soalnya perut saya sakit ini tadi, harus ngemil” kata seorang encik pemilik toko kepada saya, di suatu siang bulan Ramadhan. Saya datang ke tokonya saat itu mau beli aksesoris hp. “Silahkan Cik, saya menghormati orang yang tidak puasa” jawab saya.

Dialog singkat itu nyata, terjadi di bulan puasa tahun kemarin. Apa yang terjadi selanjutnya? Tak ada apa-apa. Damai-damai saja. Hanya suara jangkrik di pojok toko krik-krik. Tak ada yang ribut.

Saat ini jagad medsos geger. Pasalnya, yang mengucapkan persis kata-kata saya itu adalah seorang menteri agama.

Padahal kalimat “sakti” itu bukan ciptaan saya. Hebat amat ya saya. Setahu saya, pencetus pertama kalimat itu adalah Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun.

Lalu salahkah kalimat itu? Atau kalimat satunya (tanpa kata dalam kurung) yang paling benar?

Kalau Anda berfikiran waras tanpa diembel-embeli fanatisme dan kultus kelompok, pasti manggut-manggut saja. Dua-duanya benar.

Yang perlu diperhatikan adalah, kalimat mana dipakai oleh siapa.

Kalau Anda muslim, tapi memakai prinsip “hormatilah orang yang puasa” Anda akan semena-mena. Anda akan memaksa orang yang tidak puasa untuk menghormati Anda. Dengan cara apapun. Termasuk sweeping warung yang Anda anggap ” tidak menghormati orang puasa”. Yang terjadi adalah pemaksaan kehendak.

Kalau Anda non muslim, tapi memakai prinsip “hormatilah orang yang tidak puasa”, maka Anda juga akan semena-mena. Merokok di dekat masjid siang-siang. Pakai rok mini yang “mengundang” di depan cowok-cowok muslim. Hehe, itu cuma contoh lho ya.

Jadi yang pas bagaimana? Bagi kita yang muslim harus berprinsip “hormatilah orang yang tidak puasa”, sehingga tak reaktif. Sedikit-sedikit tersinggung. Non muslim juga berhak hidup normal di bulan Ramadhan ini. Jangan sampai puasa kita mengganggu mereka. Negara ini milik bersama.

Bagi yang non muslim juga begitu. Berprinsiplah “hormati orang yang berpuasa”. Jadi Anda juga akan berhati-hati. Tak sembarangan mengumbar “ketakpuasaan” Anda.

Kalau semua menyadari, sesuai porsinya masing-masing, maka pasti tercipta harmony, keselarasan, kedamaian.

Comments

comments