Hidupkan Malam Nishfu Sya’ban, Tapi Jangan Niat Shalat Nishfu Sya’ban

Posted by
7
views

Istilah malam nishfu sya’ban berarti malam yang “mengawali hari” pertengahan bulan Sya’ban.

Sebagaimana kita tahu, pergantian hari penanggalan Hijriyah adalah di waktu maghrib. Jamnya mengikuti jadwal waktu sholat maghrib. Makanya ada istilah malam Jum’at kliwon yang horor itu. Gabungan dari Jumat nya hijriyah dan weton Kliwon nya Jawa. Hal ini berbeda dengan penanggalan Masehi. Istilah Masehi adalah Kamis malam.  Pergantian hari ala Masehi adalah pukul 00:00 tengah malam.

Jadi tanggal 15 Sya’ban berarti dimulai waktu maghrib sampai maghrib esok harinya. Nah, apakah disunnahkan sholat nishfu Sya’ban di malam tanggal 15 ini? Mari kita bahas.

Dalam kitab Ihya ‘Ulumidddin dinyatakan bahwa hadits tentang shalat malam nisfu Sya‘ban ini batil sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-‘Iraqi dari Mazhab Syafi’i.

Kita awali dengan sebuah hadits tentang tata cara shalat nisfu Sya‘ban dari ‘Ali bin Abi Thalib yang menyatakan:

“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam nisfu Sya‘ban bangun dan shalat sebanyak 14 rakaat. Kemudian, setelah selesai, beliau duduk lalu membaca Surat Al-Fatihah sebanyak 14 kali, membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 14 kali, membaca Al-Falaq sebanyak 14 kali, membaca Surah An-Nas sebanyak 14 kali, membaca Ayat Kursi sekali. Usai shalat, aku menanyakannya. Rasulullah menjawab, ‘Siapa saja yang menunaikan seperti apa yang aku tunaikan, maka ia akan mendapat pahala 20 haji mabrur, pahala puasa 20 tahun yang diterima.’ Hadits ini juga maudhu sebagaimana yang dinaskan oleh al-Baihaqi dan yang lain.”

Hadits ini ditolak menurut Al-Ghumari. ( Sayyid Muhammad ibn ‘Alawi Al-Maliki, Madza fi Sya‘ban, hal. 116).

Ada lagi hadits tentang shalat nisfu Sya‘ban yang berjumlah 100 rakaat, yang dianggap bid‘ah oleh Imam An-Nawawi. Dalam Al-Majmu‘ Syarhul Muhadzdzab, beliau menuliskan

(الْعَاشِرَةُ)
الصَّلَاةُ الْمَعْرُوفَةُ بصلاة الرغائب وهي ثنتى عَشْرَةَ رَكْعَةً تُصَلَّى بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ لَيْلَةَ أَوَّلِ جُمُعَةٍ فِي رَجَبٍ وَصَلَاةُ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ مِائَةُ رَكْعَةٍ وَهَاتَانِ الصَّلَاتَانِ بِدْعَتَانِ وَمُنْكَرَاتَانِ قَبِيحَتَانِ وَلَا يُغْتَرُّ بِذِكْرِ هِمَا فِي كِتَابِ قُوتِ الْقُلُوبِ وَإِحْيَاءِ عُلُومِ الدِّينِ

Artinya, “Kesepuluh adalah shalat yang dikenal dengan Shalat Ar-Ragha’ib, yaitu 12 rakaat yang dilaksanakan antara maghrib dan isya pada malam Jumat pertama bulan Rajab dan shalat malam nisfu Sya‘ban sebanyak 100 rakaat. Dua shalat ini adalah bid‘ah, munkar, dan buruk. Jangan tertipu dengan penyebutan dua shalat dalam kitab Qutul Qulub dan Ihya ‘Ulumiddin,” (An-Nawawi, Al-Majmu‘ Syarhul Muhadzdzab, jilid 4, hal. 56).

Itu contoh dua hadits yang menerangkan shalat nishfu sya’ban. Dua-duanya tertolak. Tapi itu khusus shalat nishfu sya’ban. Sedangkan menghidupkan malam nisfu Sya‘ban dengan berbagai amalan, termasuk dengan amalan shalat sunnah justru dianjurkan oleh Imam An-Nawawi. Banyak keutamaan malam nishfu Sya’ban yang disebutkan dalam berbagai hadits . Salah satunya riwayat Ibnu Majah berikut:

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا، فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا، حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Jika malam nihsfu Sya‘ban datang, maka bangunlah di malam harinya, dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah pada malam itu turun ke langit dunia hingga terbit malam hari. Dia berfirman, ‘Ingatlah, adakah yang memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya. Adakah yang memohon rezeki, niscaya Aku akan memberinya. Adakah yang sedang ditimpa ujian, niscaya Aku akan menyelamatkannya. Begitu seterusnya, hingga terbit fajar.’”

Hadits ini memang lemah dari sisi sanadnya, tapi karena banyak riwayat lain yang menguatkannya maka statusnya menjadi shahih. Salah satu hadits yang menguatkannya adalah berikut ini:

يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا لِاثْنَيْنِ: مُشَاحِنٍ، وَقَاتِلِ نَفْسٍ

Artinya, “Allah senantiasa memperhatikan makhluk-Nya pada malam nisfu Sya‘ban. Maka Dia akan mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua: hamba yang saling bermusuhan dan yang membunuh,” (HR. Ahmad).

Jadi, menghidupkan malam nisfu Sya‘ban adalah hal sunnah yang disepakati para ulama, termasuk dengan amalan shalat sunnah. Yang jadi masalah, termasuk ditolak oleh An-Nawawi adalah shalat sunnah nisfu Sya‘ban, sebab dasar dalilnya bermasalah. Adapun menghidupkan malam nishfu Sya’ban dengan shalat sunnah yang lain, seperti shalat tashbih, shalat sunnah awwabin, shalat taubat, shalat tahajud, shalat  witir, shalat hajat, dan sebagainya justru dianjurkan.

Wallahu a’lam.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *