Dosa Jariyah

Posted by
11
views

Anda sudah sering mendengar tentang amal jariyah. Amal yang tetap mengalir pahalanya, walaupun yang punya amal sudah meninggal.

Sebenarnya kata jariyah lebih cocok ditempelkan di lafal shodaqoh, shodaqoh jariyah. Sama-sama muannats menurut tata bahasa Arab. Tapi jidat Anda pasti berkerut membaca kata ini: amal jarin, padahal itu yang betul.

Nah, apa pula itu dosa jariyah? Ini juga istilah asal comot. Intinya, perbuatan yang dosanya terus mengalir walaupun pelakunya sudah mati. Memang ada gitu?

Simak Sabda Nabi Saw berikut:

من سن في الإسلام سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها من بعده لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن سن في الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده لا ينقص ذلك من أوزارهم شيئا خرجه مسلم في صححيه.

Jadi kalau Anda menjadi pelopor atau fasilitator perbuatan buruk, dan diikuti banyak orang, kemudian orang-orang melakukan perbuatan itu secara berjamaah, Anda akan mendapat bagian dosa mereka. Ngeri bukan?

Ada banyak hadits lainnya yang isinya senada. Seperti hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah berikut:

من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئًا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئًا

Begitu juga hadits Abu Mas’ud Al Anshori berikut:

من دل على خير فله مثل أجر فاعله

Kedua hadits di atas tercantum dalam kitab Shohih Muslim.

Intinya, disamping pahala jariyah yang sudah masyhur, ada juga dosa jariyah. Apalagi di zaman media sosial sekarang ini. Anda tak perlu tampil di tipi dan menulis di koran untuk menyebarkan kebaikan. Begitu juga keburukan, ghibah, fitnah dan teman-temannya.

Jadi kalau zaman dahulu, untuk jadi pelopor keburukan itu susah. Butuh biaya, kekuatan dan kekuasaan. Apalagi pelopor kebaikan. Lebih susah lagi.

Sekarang? Cukup dengan jari Anda, ujung surga dan neraka terbentang. Menyebar kebaikan, optimisme, membantu sesama bisa Anda lakukan secepat kilat.

Begitu juga menebar fitnah, ghibah, bahkan mengumbar aurat dan zina bisa Anda lakukan dengan ujung jari Anda itu. Dan selama masih ada yang menikmati aksi Anda itu, selama itu pula dosa mengalir. Apalagi bila banyak yang like dan share, makin tak terbendung dosa yang Anda tanggung.

Naudzu Billah!

Comments

comments