Bid’ahnya Waktu Imsak dan Bolehnya Makan Sahur ketika Adzan Subuh

Posted by
203
views

Dunia maya memang menyajikan kebebasan berpendapat bagi siapapun juga, tak terkeculai dalam hal agama. Ya sebenarnya sah-sah saja berpendapat, namun dalam hal hukum agama, tidak sembarang orang seharusnya bisa berpendapat. Perlu “tingkatan ilmu tertentu” dan logika yang tepat untuk membahas permasalahan-permasalahan di bidang agama.

Celakanya, perkembangan akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan, karena semakin banyak orang yang sebenarnya  terbatas ilmunya sangat berani menyalahkan pendapat ulama-ulama terdahulu yang telah bersama-sama kita akui kedalaman ilmunya, kesalehan gaya hidupnya, dan kehati-hatiannya dalam berfatwa.

Nah, tulisan yang “membela” pendapat, fatwa dan cara beribadah para ulama terdahulu kebetulan memang sangat jarang, ataupun kalau ada “tenggelam” diantara fatwa-fatwa “modern” yang dilandasi semangat pemurnian akidah dengan mengambil langsung dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Lalu apakah fatwa-fatwa “modern” itu salah? Sebenarnya dalam masalah-masalah yang “ijtihady” tidak ada salah atau benar secara mutlak. Maka banyak sekali dalam pendapat para ulama itu dimulai dengan “menurut saya”, nukilannya juga menurut ulama A demikian, namun ulama B demikian, dan tidak ada vonis “salah”, “bid’ah” dan sejenisnya yang mengundang pertentangan.

Nah, permasalahan kita di hari akhir ini adalah berseliwerannya kata-kata bid’ah tanpa memberi ruang “kebenaran” bagi pendapat yang berbeda.

Tulisan ini insyaa’allah akan kita buat berseri untuk sekedar memberi perspektif yang lain dari sebuah vonis bid’ah atas ibadah tertentu yang sayangnya tambah marak akhir-akhir ini.

Baiklah, cukup sudah preface nya, mari kita bahas waktu imsak yang dianggap bid’ah itu. Semuanya bermula dari hadits berikut ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ ) رواه أحمد (10251) وأبو داود (2350) وصححه الألباني في صحيح أبي داود . وسيأتي معناه عند العلماء

Matan hadits di atas isinya begini: Ketika salah seorang diantara kamu mendengar adzan, sementara masih ada wadah makanan di tangannya (sedang makan), maka jangan diletakkan sampai usai hajatnya.

Dari hadits ini mereka menyimpulkan bahwa mengakhirkan sahur (dalam hal ini sampai adzan berumandang) adalah sunnah, maka “diada-adakannya” waktu imsak adalah bid’ah yang menghalangi orang yang ingin mencari kesunnahan.

Benarkah begitu? Mari kita simak firman Allah Swt berikut ini:

  وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ . البقرة/187

Makan dan minumlah kamu semua sampai jelas benang putih dari benang hitam di cakrawala (terbit fajar).

Dari firman Allah Swt ini jelas bagi kita, batas boleh makan sahur adalah terbitnya fajar, pertanyaannya, ketika masuk waktu subuh sudah terbit fajar belum? Tentu kita tahu, waktu melaksanakan shalat subuh adalah dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

Jadi secara sah dan meyakinkan, ketika mu’azzin adzan subuh, maka tidak boleh meneruskan sahur, bila ada yang masih di mulut harus dimuntahkan, apalagi masih di piring, segera letakkan, jangan diteruskan.

Oleh karena itulah para ulama membuat waktu imsak untuk ikhtiath (kehati-hatian) agar puasa kita sah dan bisa makan sahur dengan tenang, karena ketika waktu imsak tiba, masih ada waktu untuk cepat-cepat menghabiskan makanan yang tersisa dan minum.

Jadi apakah hadits di atas bertentangan dengan Al-Qur’an? Tentu tidak. Para ulama menafsirkan hadits tersebut untuk azan yang dilakukan menjelang waktu subuh, dan hal itu pernah berlaku di zaman Nabi Saw.

Adapun sebagian pendapat yang meragukan terbitnya fajar ketika muazzin adzan, dengan alasan mereka hanya melihat jadwal waktu sholat hasil hisab, tidak dengan pengamatan langsung, tidak serta merta melegitimasi hukum bolehnya makan sahur ketika sudah terdengar azan.

Membela kesunnahan akhir waktu sahur- padahal yang dimaksud bukan sampai waktu azan subuh- sungguh tidak sepadan dengan batalnya puasa bila makan sahur kita melewati waktu terbit fajar.

Wallahu A’lam!

Comments

comments