Berislam Secara Kaaffah, Harus Radikal?

Posted by
12
views

Berislam secara kaaffah itu wajib hukumnya. Apa itu kaaffah? Asal katanya ada di surat Al Baqarah 208:

 ياأيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Berislam secara kaaffah ( penuh), berarti menerapkan seluruh ajaran Islam ke dalam semua aspek kehidupan kita.

Jadi, kita tidak boleh mengambil sebagian ayat Al Qur’an sebagai pedoman dan meninggalkan sebagian yang lain. Mengambil sebagian hadits sambil mengabaikan sebagian yang lain. Berislamlah secara penuh. Jangan setengah-setengah. Apalagi seperempat. Apalagi seperdelapan.

Nah, yang dimaksud kaaffah itu apa? Ya keseluruhan ajaran Islam. Baik yang jelas, maupun yang tersirat. Nah, yang tersirat ini kan multitafsir. Tafsiran para ulama juga berbeda-beda. Karena penafsiran yang berbeda ini, menghasilkan hukum yang berbeda.

Ayat multitafsir, setelah dicocokkan dengan hadits-hadits yang ada inilah yang menghasilkan hal-hal ijtihady. Sholat 5 waktu, hukum waris, najisnya babi itu contoh hukum yang bukan ijtihady, pasti pendapat semua ulama sama.

Tapi untuk urusan lain, seperti jenis-jenis najis, cara shalat, penegakan khilafah, penerapan hukum jinayat dalam kehidupan bernegara, misalnya, para ulama berbeda pendapat.

Jadi tak bisa diklaim bahwa yang sholatnya menempelkan pundak dan matakaki, kemudian mewajibkan penegakan khilafah dan jinayat itu lebih kaaffah daripada yang lainnya.

Jangan merasa kita lebih pandai dari ulama terdahulu. Juga jangan menganggap ulama sekarang lebih pandai dari ulama terdahulu.

Ummat ini yg terbaik adalah sahabat, kemudian tabiin, tabiit tabiin, baru umat-umat setelahnya. Para ulama terdahulu saling menghormati pendapat yg berbeda karena mereka sangat luas ilmunya. Memahami dan mengakui dalil dan hujjah lainnya.

Dalam kaidah ijtihad, tak dikenal kata salah, selama ulama yang berijtihad itu benar-benar menguasai ilmunya. Dan, di sisi Alloh, hasil ijtihad ini berpahala 10 bila benar, dan berpahala 1 jika keliru.

Yang sungguh keliru adalah memaksakan pendapat seorang ulama untuk diakui semua orang. Apalagi memvonis pendapat ulama yang lain salah dan sesat.

Silahkan saja Anda berpendapat khilafah itu wajib, memotong tangan pencuri itu wajib, menganggap kristen Indonesia adalah kafir harby dan sebagainya. Tapi ingat, kajilah pendapat ulama yang mencetuskan hukum itu. Pelajari darimana dia mengambil hukum itu. Yang tak kalah pentingnya, mereka ulama dari generasi mana? Lebih dekat ke masa nabi maka lebih baik.

Dan, jangan menganggap ummat Islam Indonesia yang, secara menyeluruh, berislam sesuai madzhab syafi’i ini tidak berislam kaaffah.

Paham kan Saudaraku?

Comments

comments