Berislam Jaman Now

Posted by
19
views

Cara kita hidup di masa kini banyak berubah. Tak usah jauh-jauh. Bandingkan dengan masa kecil kita.

Apalagi bila dibandingkan cara manusia hidup di zaman Rasulullah Saw. Perbedaan waktu, tempat, dan budaya mempengaruhi semuanya.

Makanya perubahan cara kita berislam adalah sebuah keniscayaan. Akan susah hidup kita, bila semua hal dianggap bid’ah. Sedikit-sedikit bid’ah. Bid’ah kok sedikit-sedikit.

Kehadiran internet dan gadget masakini telah merubah cara manusia hidup dan berinteraksi satu sama lain.

Mushaf, misalnya. Dulu berbentuk buku dan lembaran-lembaran kertas. Sekarang cukup sebuah aplikasi kecil di handphone android atau iphone. Atau sebuah file pdf di PC. Makanya timbul masalah fiqh baru: apakah gadget tersebut bisa dianggap mushaf yang “la yamassuhu illal muthohharun”?

Begitu juga dalam jual beli dan turunannya. Jual jasa, sewa menyewa space dan bandwidth, jual beli saham dan mata uang dan masih banyak lagi. Semuanya benar-benar berubah metodenya.

Adalagi sebuah kasus, dimana pernikahan dilakukan dengan wali yang lokasinya berjauhan. Bagaimana hukumnya nikah menggunakan videocall? Mau tak mau, fiqh harus menjawabnya. Dengan tepat dan solutif.

Oleh karenanya, di Indonesia muncul forum-forum Bahtsul Masa’il di lingkungan NU dan pesantren.

Namun, ada kesepakatan tidak tertulis dalam forum ini: tidak boleh langsung menggunakan dalil Qur’an dan Hadits. Harus dilatarbelakangi pendapat para ulama terdahulu, dalam berbagai kitab-kitab rujukan.

Kenapa begitu? Kalangan pesantren yakin bahwa ilmu yang dikuasai tak cukup untuk menggali hukum langsung dari sumbernya. Karena diperlukan tinjauan komprehensif dari banyak sisi dan keilmuan yang cukup rumit.

Bahkan para ulama terdahulu selalu berijtihad dengan merujuk pendapat ulama sebelumnya. Yang di ujung sana tetap mengerucut ke 4 madzhab. Makanya kita kenal ulama-ulama Hanabilah, Malikiyah, Hanafiah dan Syafi’iyah.

Makanya saya heran bila ada ulama-ulama baru lahir yang seolah mempunyai “penemuan baru” hukum Islam. Mengambil langsung dari Qur’an dan Hadits. Sambil menyalahkan pendapat ulama-ulama terdahulu.

Hukum Islam dasar tak ada yang baru. Semua sudah digali dan dirumuskan oleh ulama-ulama yang mumpuni di bidangnya. Tugas kita tinggal menyesuaikan pendapat mereka dengan situasi masa sekarang.

Jangan beranggapan ada hadits yang luput dari kajian para ulama itu, lalu ujug-ujug ditemukan orang jaman now. Kemudian dia teriak-teriak ada hukum baru. No way, dude! Tong kosong nyaring bunyinya!

Comments

comments