Antara Sya’ban, Bulan yang dilupakan dan Covid-19, Penyakit yang Diistimewakan

Posted by
2
views

Bulan Sya’ban telah datang. Di tengah badai Corona, bulan yang dari sononya sering dilupakan ini semakin terlupakan. Corona, penyebab Covid-19 itu memang menyita seluruh perhatian kita. Makhluk Alloh berukuran nano (kayak permen ya?) itu ternyata lebih merepotkan daripada serombongan dinosaurus.

Harusnya kenyataan ini menyadarkan kita, bahwa manusia itu sangat lemah. Ketemu makhluk segitu kecilnya sudah kalang kabut. Virus corona ini tak bisa ditangkap oleh panca indera manusia. Bahkan indera keenam sekalipun. Padahal, makhluk halus yang beda alam aja ada manusia yang bisa menghadapinya. Bahkan ahli di bidang itu.

Karena tak terlihat, serangan yang kita lakukan kepada musuh nano ini cenderung membabi buta. Tengoklah penyemprotan disinfektan yang marak akhir-akhir ini. Apa aja disemprot, tanpa pandang bulu. Harusnya ada ilmuwan yang bisa menciptakan detektor Covid-19, sehingga serangan kita terarah dan terukur hehe.

Sama dengan tak adanya detektor Covid-19, kita juga tak punya detektor keistimewaan bulan. Sya’ban yang menyimpan banyak keistimewaan ini hampir lepas dari deteksi “bulan istimewa” kita. Bulan yang harusnya juga dipenuhi dengan amal ibadah dan perbuatan baik. Tak heran, karena bulan yang terlupakan memang sudah menjadi gelar bulan ini sejak zaman Rasulullah Saw.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. An Nasa’i, Ahmad, dan sanadnya dihasankan Syaikh Al Albani)

Lalu amalan-amalan apakah yang dianjurkan dilakukan di bulan ini?

1. Memperbanyak puasa sunnah.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan,

يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan, ‘Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Aisyah, radhiallahu ‘anha  mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Aisyah, radhiallahu ‘anha  juga mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ هِلَالِ شَعْبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ، ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ، عَدَّ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، ثُمَّ صَامَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian terhadap hilal bulan Sya’ban, tidak sebagaimana perhatian beliau terhadap bulan-bulan yang lain. Kemudian beliau berpuasa ketika melihat hilal Ramadhan. Jika hilal tidak kelihatan, beliau genapkan Sya’ban sampai 30 hari.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan sanad-nya disahihkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengatakan,

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلَّا شَعْبَانَ، وَيَصِلُ بِهِ رَمَضَانَ

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum pernah puasa satu bulan penuh selain Sya’ban, kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” (HR. An Nasa’i dan disahihkan Al Albani)

Jadi mari kita perbanyak puasa di bulan Sya’ban, melebihi puasa di bulan lainnya.

2. Memperbanyak shalat dan dzikir di malam nishfu Sya’ban

Ibadah malam nishfu Sya’ban ini diingkari oleh banyak ulama, seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz . Beliau mengatakan, “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam nishfu Sya’ban, yang tidak boleh dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat di malam nishfu Sya’ban, semuanya statusnya palsu, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At Tahdzir min Al Bida’, Hal. 11)

Namun, terdapat hadis shahih dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu mengenai keutamaan khusus malam nishfu Sya’ban ini : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibn Majah, At Thabrani, dan dishahihkan Al Albani).

Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syaikhul Islam mengatakan, “…pendapat yang dipegangi mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Madzhab Hambali adalah meyakini adanya keutamaan malam nishfu Sya’ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para sahabat dan tabi’in…” (Majmu’ Fatawa, 23:123)

Ibn Rajab mengatakan, “Terkait malam nishfu Sya’ban, dulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya, mereka memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu…” (Lathaiful Ma’arif, Hal. 247).

Intinya, Sya’ban adalah bulan yang mulia. Mumpung #dirumahsaja , mari perbanyak puasa. Khusus malam nishfu sya’ban kita isi dengan qiyamullail, bisa sholat sunnah apa saja. Tapi tidak ada sholat sunnah nishfu sya’ban ya. Tak ada keterangan shahih tentang itu.

Sebagai penutup, saya cantumkan  perkataan hikmah dari Imam Abu Bakar al-Balkhi :

شهر رجب شهر الزرع وشهر شعبان شهر سقي الزرع وشهر رمضان شهر حصاد الزرع. وقال أيضا: مثل شهر رجب كالريح ومثل شهر شعبان كا الغيم ومثل شهر رمضان كا لمطر

Bulan Rajab bagaikan musim bercocok tanam dan bulan Sya’ban bagaikan musim menyiraminya sedang bulan ramadhan bagaikan musim panen. Dan beliau menambahkan, Rajab bagaikan angin, dan sya’ban bagaikan awan sedang ramadhan adalah hujan.”  (Mohammad Husain Muhammad, Husn al-Bayan fi Fadhail Syahri Sya’ban, h. 6)

Wallahul Musta’aan

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *